Home / Panggung

Kamis, 5 Agustus 2021 - 10:29 WIB

55 Tahun Revolver, Salah Satu Album Terbaik dan Berkelas The Beatles

The Beatles. (Foto: teocarvalho.artstation.com)

The Beatles. (Foto: teocarvalho.artstation.com)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Perubahan bermusik The Beatles, group band legendaris asal Liverpool Inggris sangat terasa di pertengahan tahun 1966. The Beatles mulai menjadi sebuah band studio, dimana mereka sudah meninggalkan hingar bingarnya konser musik.

Konsentrasi membuat musik berkualitas, membuat ke empat personilnya, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr sering melakukan eksperimen-eksperimen bermusik.

Hari ini, genap 55 tahun dirilisnya album Revolver (dirilis 5 Agustus 1966). Salah satu album terbaik The Beatles yang menampilkan gagasan-gagasan musikal baru dengan ide yang intelektual.

George Harrison, gitaris The Beatles mengatakan bahwa album Revolver dan  album sebelumnya, Rubber Soul dianggap sebagai pintu masuknya konsep baru The Beatles dalam bermusik.

Dalam majalah Rolling Stone tahun 2003, album Revolver menduduki peringkat ke-3 dalam Rolling Stone’s 500 Greatest Albums of All Time (Album Terbaik Sepanjang Masa) di bawah album Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club Band (The Beatles) dan Pet Sounds nya The Beach Boys. Ini menunjukkan bahwa Revolver memang album berkelas yang patut jadi acuan di kancah musik dunia.

Album ke-7 The Beatles ini merupakan album pembaharu baik secara ide maupun teknik bermusiknya. Lagu-lagu yang menyuarakan permasalahan sosial mulai digarap, sebut saja lagu Taxman, yang menyoroti tingginya pajak hiburan di Inggris.

Taxman membuktikan bahwa George mampu membuat lagu-lagu bertema berat. Ketukan ritme gitar yang dikemas garang dan bernada tinggi ini banyak menginspirasi band-band rock saat ini. Lagu ini menjadi satu-satunya rock n roll yang hadir di album Revolver.

Baca juga   Zona Merah di Jateng Bertambah Jadi 13 Wilayah
Revolver, salah satu album terbaik The Beatles (Sumber: thebeatles.com & reddit.com)

Ketertarikan George Harrison akan budaya timur, khususnya India membawa pengaruh kuat di album ini. Kehadiran lagu Love You To yang menggunakan alat alat musik India, seperti sitar dan tabla, memberikan warna musik tersendiri. Lagu ini menjadi aneh dalam sebuah album pop rock.

Masih dipengaruhi budaya timur, sebuah buku Tibetan Book of The Dead, karya Timothy Leary mengilhami John Lennon dalam lagunya Tomorrow Never Knows. Lagu menjadikan sebuah eksperimen sound pencerahan spiritual. Era psychedelic disebut-sebut dimulai lewat lagu ini.

Tomorrow Never Knows menjadi lagu avant garde di album ini. Penuh dengan eksperimen musikal di dalamnya. Vokal John Lennon yang teknisnya disaring melalui piranti Leslie, yang menghasilkan efek vibrato, menyerupai vokal ala biksu di pegunungan Tibet, menggiring ketenangan pikiran pendengar, santai dan melayang.

Sementara Paul McCartney bereksperimen dengan loop tape yang diputar mundur, George Harrison memasukkan unsur Tambura (alat musik India). Tak kalah serunya, Ringo Starr memberikan ketukan-ketukan ganjil pada drum, yang menjadikan sebagai instrumen utama.

Kegilaan-kegilaan mereka tak sampai di situ. Di lagu Eleanor Rigby yang bercerita tentang pengabdian seseorang di sebuah rumah ibadah itu, tak ada satupun personil The Beatles memegang alat musik, lantaran Paul McCartney mengaransemen lagu ini dengan string yang dimainkan oleh dua pemain violin, dua pemain viola dan empat pemain cello. Lagu ini tercipta dari kesukaan McCartney mendengarkan karya-karya komponis Jerman, Karl Heinz Stockhausen.

Baca juga   Patut Dicontoh! PKL Tertib Jalankan Aturan PPKM Level 4

Here There and Everywhere menjadikan lagi melankolis di album ini. Nuansa musik soul ala Motown pun dihadirkan melalui lagu Got to Get You Into My Life. George Harrison memainkan gitar secara terbalik di lagu I’m only Sleeping, hingga terkesan mistis. Yellow Submarine dan Doctor Robert pun mewarnai album ini, meski ada pendapat yang menyatakan kedua lagu tersebut bernuansa drug.

Ada satu yang menarik di album ini, yakni cover albumnya yang berupa artwork karya Klaus Voorman, sahabat The Beatles asal Jerman. Dari enam album sebelumnya, selalu menampilkan hasil foto di cover depannya. Kali ini mencoba sesuatu yang lain, dan Klaus Voorman memahami hal itu. Setelah mendengarkan seluruh lagu di album Revolver yang begitu avant garde, ia menuangkan karya artworknya yang dirasa pas dengan tema dalam album tersebut.

Secara garis besar album Revolver yang berisikan 14 lagu ini menyiratkan bahwa dalam menghasilkan kreativitas, segala macam hal bisa dilakukan. Tentunya untuk mendapatkan yang beda dari yang lain.

  • Penulis: Agus Raka, penggemar The Beatles dan Pembina Jogja Beatles Community.

Share :

Baca Juga

Grace dan karyanya berjudul 'Peace'. (Foto: dokumentasi pribadi)

Panggung

Pasangan Perupa Grace dan Dedok, Wakili Indonesia di Pameran Pertukaran Seni Internasional ke-20 Jepang
The Dance Company. (nyatanya.com/nagaswara)

Panggung

The Dance Company Rilis Single ‘Ayo Kawin!’
Nella Kharisma dan Dory Harsa dengan lagu barunya "Salah Tompo". (Foto: instagram @nellakharisma)

Panggung

Dory Harsa dan Nella Kharisma Garap Single “Salah Tompo”
Penyerahan sembako kepada warga sekitar Radio Geronimo. Foto: nyatanya.com/Dokumentasi Geronimo

Panggung

50 Tahun Radio Geronimo, Optimistis dengan Perubahan Zaman
(Ilustrasi: nyatanya.com)

Panggung

Kundha Kabudayan Gelar Lomba Penulisan Naskah Drama Sejarah
Denny Caknan dan Happy Asmara dalam lagu Satru. (Foto:nyatanya.com/YouTube Denny Caknan)

Panggung

Satru Milik Denny Caknan dan Happy Asmara Puncaki Chart Dangdut Ter-Hot

Panggung

KJRI Mumbai dan Keraton Yogya Gelar Pertunjukan Kolaborasi Wayang Orang “Gana Kalajaya”
Rafael Putra Robert dengan lagu barunya 'Damai Indonesiaku' ciptaan Anton Obama. (Foto: YouTube PT Aoma Record Indonesia)

Panggung

Gibran Rakabuming ‘Bintangi’ Single Lagu ‘Damai Indonesiaku’ Penyanyi Cilik Rafael