Home / Peristiwa

Minggu, 19 Desember 2021 - 21:10 WIB

Ami nai ia o…, Cerita Lindu Berbasis Kearifan Lokal

Suasana kemacetan lalu lintas saat warga hendak mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul adanya peringatan dini tsunami di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/12/2021). Gempa berkekuatan 7,4 skala richter pada pukul 11.20 Wita di Laut Flores tersebut disusul adanya peringatan dini tsunami dari BMKG sehingga mengakibatkan warga di Kota Maumere berhamburan mengungsi karena trauma dengan tsunami yang pernah terjadi pada tahun 1992. (ANTARA FOTO/Siska/KK/hp)

Suasana kemacetan lalu lintas saat warga hendak mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul adanya peringatan dini tsunami di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/12/2021). Gempa berkekuatan 7,4 skala richter pada pukul 11.20 Wita di Laut Flores tersebut disusul adanya peringatan dini tsunami dari BMKG sehingga mengakibatkan warga di Kota Maumere berhamburan mengungsi karena trauma dengan tsunami yang pernah terjadi pada tahun 1992. (ANTARA FOTO/Siska/KK/hp)

NYATANYA.COM, Rote Ndao – Laut Flores dan Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), digoncang gempa pada Selasa (14/12/2021), pukul 10.20 WIB atau 11.20 WITA. Gempa atau lindu berkekuatan 7,4 skala richter, hari itu, berpotensi tsunami. Karena itu warga di Maumere yang terdampak pun cepat siaga, sigap menyelamatkan diri.

Lindu kali ini bukanlah yang pertama di NTT. Menurut Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, NTT merupakan daerah rawan tsunami. “Sejak tahun 1800-an di busur Kepulauan Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) sudah terjadi lebih dari 22 kali tsunami,” kata Daryono, Selasa (14/12/2021) malam.

Karena menjadi langganan lindu, masyarakat di beberapa desa di Nusa Tenggara Timur punya mitigasi gempa bumi berbasis kearifan lokal. Hal ini bisa dibaca dari sejumlah penelitian yang ada.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Jika lindu terjadi, masyarakat setempat akan berhamburan keluar rumah sambil berteriak, “ami norang, (kami ada).” Mereka akan mencari tanah lapang, atau tempat yang aman untuk berlindung.

Pun masyarakat Desa Mukebuku dan Lakamola Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Kalimat “ami nai ia o…” (kami ada) akan mereka teriakkan.

Masyarakat desa-desa itu punya mitos, gempa bumi diakibatkan oleh ular naga yang lapar karena tidak diberi makan (sesaji) manusia. Karena tak diberi sesaji, ular naga itu murka dengan cara menggetarkan bumi.

Baca juga   Pulihkan Ekonomi Masyarakat, Rest Area Jadi Pasar Rakyat Ramadan

Menurut Jonas Thene dalam tulisannya di sebuah jurnal yang terbit 2016, mitos itu memberi inspirasi kepada manusia agar memelihara serta mengembangkan sebuah keserasian hidup bersama antara makro-kosmos, mikro-kosmos dan Yang Tak Kelihatan. Masyarakat dua desa ini memang memiliki filosofi keharmonisan, baik dengan Ilahi, sesama, dan alam.

Perasaan senasiblah yang menggerakkan manusia untuk sadar akan makna kolektivitasnya sebagai makhluk sosial.

Bagi masyarakat Desa Mukebuku dan Lakamola, Lindu merupakan simbol kesuburan. Dengan adanya lindu, pohon pohon lontar (Borassus) penopang kehidupan ekonomi masyarakat setempat akan tumbuh subur.

Berbeda dengan masyarakat Lio-Ende yang tinggal di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Di sini mereka memiliki guyub (pengetahuan) tentang lindu. Pengetahuan itu berupa mitos tentang banga (kumbang besar).

Menurut cerita yang berkembang, suatu ketika seekor banga yang baru saja kembali dari perjalanan menelusuri lorong-lorong di setiap pelosok bumi, menyampaikan kabar kepada sang empunya bumi.

Kumbang besar itu berkata, selama menjelajahi bumi ia tidak pernah bertemu atau berjumpa dengan manusia. Mendengar kabar itu, sang pemilik bumi merasa kesal dan marah-marah. Karena kesal, pemilik bumi menggoncang bumi beberapa kali.

Merasakan adanya goncangan hebat itu, manusia pun berhamburan keluar rumah. Mereka berteriak, “epu weo, epu weo, kami zatu…kami zatu, banga sodho tipu, banga tipu.” (gempa bumi, gempa bumi, kami ada…kami ada, kumbang besar tipu, dia tipu).

Baca juga   BMKG Prediksikan Cuaca Lebih Bersahabat Saat Musim Tembakau

Menurut Sunimbar, dalam Prosiding Seminar Nasional diselenggarakan Pendidikan Geografi FKIP UMP berjudul: “Manajemen Bencana di Era Revolusi Industri 5.0, disebutkan, cerita mengandung pesan moral penting.

Pertama, pemakaian simbol binatang (kumbang besar) mengungkapkan hubungan manusia dengan alam sekitarnya harus harmonis. Keharmonisan hanya bisa dibentuk dengan saling memberi dan menerima. Kedua, sebelum munculnya ilmu pengetahuan moderen, manusia punya cara tersendiri untuk menjawab fenomena alam.

Mitos tentang lindu di atas merupakan cara manusia mengatasi rasa takut, derita dan kesedihannya akibat gempa bumi tektonik. Ketika bumi berguncang, manusia memanjatkan doa bahwa dibalik peristiwa gempa bumi, ada harapan hidup yang lebih baik.

Teriakan “kami zatu” (kami ada) sebenarnya mengungkapkan eksistensi manusia sebagai makluk yang ada. Derita dan kesedihan sebenarnya tidak ada dalam hidup manusia. Ia hanya salah tahap dalam proses mencari kebahagiaan. Derita dan nestapa tidak kekal, yang kekal hanyalah kebahagiaan hidup manusia itu sendiri.

Ketiga, kerjasama yang baik antara manusia dengan sesamanya. Tidak ada sikap saling curiga dan saling menjatuhkan. Ungkapan “Banga sodho tipu…banga tipu” adalah sikap saling menjatuhkan di antara manusia.

(*/N1)

Sumber: InfoPublik.id

Share :

Baca Juga

Bupati Sukoharjo, Etik Suryani menyerahkan bantuan sejumlah 192 paket tersebut secara simbolis kepada anak yatim. (Foto: Humas Kab Sukoharjo)

Peristiwa

Baznas Jateng Salurkan Bantuan untuk Anak Yatim Piatu di Sukoharjo
Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo dinobatkan sebagai Sampeyan Ingkang Jumeneng (SIJ) KGPAA Mangkunagoro X, setelah ayahnya, KGPAA Mangkunagoro IX, mangkat pada 13 Agustus 2021 lalu. (Foto: Humas Jateng)

Peristiwa

Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, Raja Baru Pura Mangkunegaran Berusia 25 Tahun
Dalam bincang bisnis UKM Virtual Expo 2021, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan, factory sharing adalah sebuah ruang produksi bersama bagi Usaha Kecil Menengah. (Foto: Diskominfo Jateng)

Peristiwa

Jateng Segera Miliki “Factory Sharing” Furnitur
Petugas SAR Kaliurang saat mengevakuasi korban. (Foto: Twitter SAR Kaliurang)

Peristiwa

Kurang Hati-hati, Pria Ini Jatuh dari Tebing Setinggi 5 Meter Saat Tebang Pohon Bambu
Tenda darurat mulai dipasang di RSUD Pandan Arang Boyolali. (Foto: nyatanya.com/Diskominfo Boyolali)

Peristiwa

Antisipasi Lonjakan Kasus Corona, RSUD Boyolali Pasang Tenda Darurat
Menkominfo Johnny Gerard Plate. (Foto: AYH/Humas Kominfo)

Peristiwa

Menkominfo: Gotong Royong dalam Penanganan Covid-19 di Indonesia Luar Biasa
Salah satu atraksi yang disuguhkan dalam Gelar Budaya Sleman Sembada. (Foto: Humas Sleman)

Peristiwa

Komunitas Pajero Indonesia Bersatu Gelar Budaya Sleman Sembada
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang melakukan studi banding ke Kota Yogyakarta. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Peristiwa

Jaga Kerukunan Umat Beragama, FKUB Jombang Studi Banding ke Yogyakarta