Home / Panggung

Jumat, 2 Juli 2021 - 15:57 WIB

ARTJOG MMXXI Digelar Daring di JNM 8 Juli sampai 31 Agustus 2021

(Foto:nyatanya.com/Dokumentasi ARTJOG)

(Foto:nyatanya.com/Dokumentasi ARTJOG)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Festival tahunan seni rupa terbesar di Indonesia ARTJOG akan hadir lagi di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta, 8 Juli hingga 31 Agustus 2021. Namun berkaitan dengan adanya penerapan PPKM Darurat, ARTJOG bakal dimulai dalam format daring dahulu.

Harapannya saat kondisi sudah memungkinkan, program ARTJOG dapat dilaksanakan dengan cara presentasi gabungan antara luring dan daring, dengan pembatasan jumlah pengunjung dan dilakukan dengan prosedur kesehatan yang baik dan sesuai dengan arahan pemerintah.

Setelah tahun lalu menghelat ARTJOG Resilience yang merespon situasi pandemi, ARTJOG kali ini berupaya kembali ke skema kuratorial yang telah mereka canangkan sejak 2018.

Meneruskan edisi kedua dari trilogi pameran arts in common, festival edisi tahun ini dibingkai dengan tajuk Time (to) Wonder. Mengangkat ihwal ‘waktu’ sebagai konsep kunci, pameran ini akan menampilkan karya-karya mutakhir 41 seniman yang semuanya tinggal dan bekerja di Indonesia. Mereka diantaranya, Agung ‘Agugn’ Prabowo, Agung Kurniawan, Bonggal Jordan Hutagalung, Citra Sasmita, Duto Hardono, Eko Nugroho, Eko Prawoto, Entang Wiharso, F.X. Harsono, Theresia ‘Tere’ Agustina Sitompul, R.E. Hartanto, dan lain-lain.

“ARTJOG ingin tetap konsisten memberikan kontribusi dengan menyediakan ruang presentasi untuk eksplorasi artistik para seniman kontemporer. Seri pameran Arts in Common ini telah kami persiapkan sejak lama. Dan para seniman yang terlibat dalam Time (to) Wonder tahun ini adalah mereka yang sudah kami undang sejak Desember 2019,” demikian Direktur ARTJOG Heri Pemad menjelaskan dalam jumpe pers yang digelar di Pulang ke Uttara dan virtual, Kamis (1/7/2021).

Baca juga   Tedy Wong Rilis Single Durung Siap Loro
(Foto:nyatanya.com/Dokumentasi ARTJOG)

Bagi Heri, penyelenggaraan ARTJOG Resilience pada 2020 silam menjadi pembelajaran yang sangat berharga dalam karirnya sebagai direktur sebuah festival.

“Tahun lalu kami melempar gagasan tentang resiliensi, sebagai penyuntik semangat untuk kita semua agar dapat bertahan, bahkan bangkit di kala krisis. Belajar dari gagasan itu, kami menganggap bahwa selama kami mampu, ARTJOG harus tetap hadir untuk masyarakat, meskipun diselenggarakan di tengah berbagai keterbatasan,” lanjutnya.

Heri mengakui bahwa situasi hari-hari ini sangat tidak menguntungkan untuk perhelatan seperti ARTJOG. Namun perubahan-perubahan kebijakan publik selama masa pandemi, justru menantangnya untuk merencanakan segala sesuatunya dengan lebih rinci.

“Kita berhadapan dengan periode yang tidak menentu, yang membuat kami harus semakin terbiasa dengan antisipasi dan improvisasi,” katanya.

ARTJOG Time (to) Wonder mengundang seorang seniman terpilih untuk menggarap karya komisi (commissioned work) yang memang menjadi ciri khas perhelatan ini. Dimana tahun ini ARTJOG mengundang Jompet Kuswidananto, seorang seniman asal Yogyakarta yang telah berpameran dalam forum-forum internasional bergengsi sejak awal 2000-an.

Baca juga   Ekspressionisme Ala Chryshnanda Dwilaksana
(Foto:nyatanya.com/Dokumentasi ARTJOG)

Instalasinya, Love is a Many Splendored Thing(2021) berwujud gubahan ruang yang mengingatkan kita pada cakrawala di sebuah pantai. Jompet menyerakkan puing-puing kaca untuk menghadirkan ilusi hamparan lautan yang berkilau. Nuansa ketakterhinggaan menyiratkan pesan betapa waktu adalah sesuatu yang sarat dengan ketidakpastian.

“Karya-karya Jompet yang selama ini mengangkat tema-tema sejarah adalah alasan utama mengapa kami mengundangnya untuk proyek komisi khusus di ARTJOG Time (to) Wonder,” kata kurator Agung Hujatnikajennong pada kesempatan yang sama.

Love is a Many Splendored Thing adalah sebuah instalasi yang secara puitik melihat sejarah sebagai narasi tentang pertarungan dan kekerasan di masa lalu,” lanjutnya.

Melanjutkan tradisi kuratorialnya, pemilihan seniman untuk ARTJOG tahun ini juga dilakukan melalui undangan dan seleksi panggilan terbuka. Alhasil, sebagian sebagian besar seniman yang terpilih merespon acuan kuratorial Time (to) Wonder dengan karya-karya seputar ingatan dan sejarah.

Kurator Bambang ‘Toko’Witjaksono menganggap hal ini sebagai sebuah fenomena menarik. “Boleh jadi, imajinasi seniman-seniman kita tentang waktu lebih dikendalikan oleh warisan masa lalu, ketimbang proyeksi masa depan,” kata Bambang. (N1)

Share :

Baca Juga

Tedy Wong. Foto: nyatanya.com/istimewa

Panggung

Tedy Wong Rilis Single Durung Siap Loro
Salah satu kartun opini karya Gatot Eko Cahyono.(Foto:nyatanya.com/istimewa)

Panggung

Gatot Eko Cahyono, Kartun Sebagai Seni Multifungsi
Grace dan karyanya berjudul 'Peace'. (Foto: dokumentasi pribadi)

Panggung

Pasangan Perupa Grace dan Dedok, Wakili Indonesia di Pameran Pertukaran Seni Internasional ke-20 Jepang
Aksi happening art I Made Arya Dwita Dedok di depan Klenteng Liong Hok Bio Magelang. (Foto:nyatanya.com/Ignatius Anto)

Panggung

I Made Arya Dwita Dedok, Lahirkan Lukisan Magelang in Love di Hari Jadinya
Karya 1 Guz Wid. (Foto:nyatanya.com/istimewa)

Panggung

Guz Wid, Suarakan Keadilan Lewat Jenaka Kartun
Happy Asmara. (Foto:nyatanya.com/Instagram happy_asmara77)

Panggung

Happy Asmara Kembali Rilis Single ‘Siji Wektu’
Denny Caknan dan Happy Asmara. Foto: nyatanya.com/IG happy_asmara77

Panggung

Happy Asmara Ternyata Lupa Tanggal Jadiannya dengan Denny Caknan
Steven 'Coconut Treez', AM. Kuncoro, dan Tege. Foto: nyatanya.com/Ignatius Anto

Panggung

Prima Founder Record Kenalkan OST Mimi Mintuno ‘The Story of Tresno’