Home / Panggung

Kamis, 30 Juni 2022 - 13:25 WIB

ARTJOG MMXXII Digelar Luring 7 Juli – 4 September 2022 di JNM

Jumpa pers gelaran ARTJOG MMXXII di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (30/6/2022) siang. Foto: Agoes Jumianto

Jumpa pers gelaran ARTJOG MMXXII di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (30/6/2022) siang. Foto: Agoes Jumianto

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Perhelatan seni rupa kontemporer tahunan terbesar di Indonesia ARTJOG akan kembali hadir di Jogja National Museum (JNM), 7 Juli – 4 September 2022.

Mengusung judul Expanding Awareness, edisi tahun ini merupakan muara rangkaian ARTJOG arts-in-common yang diselenggarakan sejak 2019 dalam triplet tematik ‘ruang’ ‘waktu’ dan ‘kesadaran’.

“Gagasan mengenai perluasan kesadaran merupakan jalan masuk, tidak hanya untuk melakukan refleksi pada hal-hal yang terjadi dan kondisi aktual hari ini, tapi juga memahami apa-apa yang belum terjadi dan masih perlu diupayakan di masa depan,” demikian dijelaskan Heri Pemad, Direktur ARTJOG dalam jumpa pers yang digelar di Artotel Suites Bianti, Yogyakarta, Kamis (30/6/2022).

Dijabarkan Heri Pemad, dalam festival seperti ARTJOG, kesenian dapat menjadi antarmuka untuk percakapan dan pertukaran pengetahuan, sekaligus instrumen yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak.

“Karya-karya yang dipamerkan dan rancangan program-programnya kali ini mengusung semangat menemukan sensibilitas kesadaran hidup bersama secara adil dan setara, tidak hanya di antara sesama manusia, tapi juga seisi alam,” imbuhnya.

Pandemi telah menunjukkan secara lebih jelas kepada kita betapa tatanan dunia selama ini dipenuhi ketimpangan dan ketakseimbangan yang digerakkan secara dominan oleh elitisime dan eksklusivisme yang cenderung menyisihkan dan menindas.

“Berkaca pada pengalaman itu pula, ini adalah momen yang tepat untuk bergerak membuka sekat-sekat yang sudah terlalu lama mengurung praktik kesenian ke dalam klasifikasiklasifikasi dan hirarki,” ujar Heri Pemad.

Tahun ini, ARTJOG hendak berupaya mendorong perluasan kesadaran tentang inklusivitas. Semangat ini juga diwujudkan dalam rancangan festival dari perumusan konsep, pemilihan seniman, fasilitas ruang pamer dan infrastruktur fisik, hingga pelaksanaan program-programnya.

Selama masa persiapan, tim kurator ARTJOG dan segenap staff program banyak menimba pengalaman dan pengetahuan dari para penggerak inklusivitas di Yogyakarta, termasuk dengan kelompok JDA (Jogja Disability Arts) dan Sanggar Seni Komunitas Tuli Ba(WA)yang.

Baca juga   Jangan Terlena! Meski Kasus Harian Covid-19 di Yogya Turun

Melalui sejumlah pertemuan dan lokakarya, mereka memberi masukan yang berharga pada rancangan pelaksanaan pameran harian hingga soal bagaimana seharunya berinteraksi dengan para pengunjung ARTJOG ingin membangun kesadaran bersama melalui interaksi yang didasarkan pada penghargaan atas kehadiran dan kesetaraan, seperti yang dikatakan oleh ST Sunardi, yang menjadi narasumber dalam acara sosialisasi dan diskusi tema pada bulan Februari lalu: “Expanding Awareness, kesadaran yang dimaksud dalam arts-in-common ini bukanlah jenis kesadaran yang kontemplatif, melainkan kesadaran yang bersifat kritis-interaktif. Kesadaran ini hampir selalu melibatkan liyan yang coba diajak mengambil keputusan.”

Inklusivitas dalam ARTJOG MMXXII juga mencakup upaya untuk melibatkan anak-anak tidak hanya sebagai pengunjung festival, tapi juga partisipan pameran.

Melalui mekanisme open-call tim kurator telah menyeleksi sebanyak 14 seniman anak dan remaja yang akan menampilkan karyanya bersama seniman-seniman muda maupun profesional.

Selain itu, terdapat pula karya interaktif yang diperuntukkan bagi anak-anak. Harapannya, interaksi mengenai ruang seni bersama dapat dialami sejak dini.

Agung Hujatnikajennong, kurator ARTJOG MMXXII menyampaikan, “Untuk pertama kalinya kami mengampu ARTJOG KIDS, sebagai program yang didedikasikan bagi interaksi dengan pengunjung anak-anak, selain program-program edukas! dan lokakarya yang memprioritaskan keterlibatan komunitas difabel. Sekali lagi, semua ini hanyalah suatu rintisan untuk menjadi inklusif yang tentu saja perlu terus disempurnakan dalam edisi-edisi ARTJOG selanjutnya.”

Seniman asal Bandung Christine Ay Tjoe menggarap sebuah instalasi yang merupakan proyek komisi khusus tahun ini untuk merespon tema ARTJOG MMXXII: Arts m Common – Expanding Awareness.

Selama duapuluh tahun terakhir, Ay Tjoe dikenal melalui karya-karya yang memberi perhatian pada kompleksitas hidup manusia.

Kali ini ia menghadirkan sebuah karya interaktif yang terinspirasi dari wujud Tardigrada (hewan air mikroskopis yang mampu menangguhkan metabolismenya ketika situasi lingkungan tidak memungkinkan untuk hidup).

Baca juga   Cari Data Korban Pesawat Jatuh, KBRI Beijing dan KJRI Guangzhou Gelar Koordinasi

Karya yang menggambarkan penghargaan terhadap daya hidup atau resiliensi ini dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat menyentuh, meraba bahkan memeluknya.

Seperti edisi-edisi sebelumnya, ARTJOG menyajikan karya-karya dengan beragam medium. Para partisipan pameran terdiri 61 seniman individu maupun kelompok dari lintas generasi, antara lain Dolorosa Sinaga, Nunung WS, I Made Bayak, Iwan Yusuf, Nano Warsono (berkolaborasi dengan Jogja Disability Arts), Komunitas Ba(WA)yang, Angki Purbandono dan Alex Abbad, Jay Subyakto, Asha Darra Lawalata, Ivan Sagita, dan lainnya. Selain itu, pengunjung anak-anak juga dapat menikmati karya interaktif dari Tempa.

ARTJOG MMXXII juga masih akan dibarengi beberapa program pendampingnya yang khas seperti: Weekly Performance, Young Artists Award, Exhibition Tour, Meet the Artist dan Workshop.

Selain itu, kegiatan rutin Jogja Art Weeks dan ARTCARE juga kembali diselenggarakan. Setiap minggu akan berlangsung kegiatan-kegiatan yang beragam seperti Exhibition Tour (setiap Senin dan Selasa), Meet the Artist (setiap Kamis dan Jumat), dan program Weekly Performance yang akan hadir setiap akhir pekan dengan penampilan berbagai seni pertunjukan.

Jogja Art Weeks (JAW) lahir dari keinginan untuk mensinergikan semangat ruang-ruang seni yang berada di wilayah Yogyakarta dan DIY. Sehingga, bagi siapa saja yang ingin mempromosikan dan mempublikasikan kegiatan seni yang berlangsung bersamaan dengan ARTJOG dapat memaksimalkan platform ini.

Sementara ARTCARE merupakan sebuah gerakan sosial berbasis komunitas yang menjadi wadah kepedulian antarsesama.

Pertama kali diadakan di tahun 2006, Artcare kembali hadir tahun 2020 dengan semangat membantu sesama terutama kelompok seniman terdampak pandemi Covid-19. Sebuah wadah penjualan karya seni untuk kemanusian, di mana hasilnya akan didonasikan pada pihak yang membutuhkan.

(Aja)

Share :

Baca Juga

Panggung

Galeri Lorong Gelar Festival Gotong Royong “Self-care for Worldwide Solidarity”
Pengunjung menikmati lukisan yang dipamerkan di Limanjawi Art House. Foto: Ist/beritamagelang

Panggung

Limanjawi Art House Borobudur Gelar Pameran Seni Lukis ‘Titik Balik’
Wakil Walikota Heroe Poerwadi usai membuka silaturahmi nasional budayawan dan seniman Muhammadiyah. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Panggung

Saatnya Budayawan dan Seniman Manfaatkan Medsos untuk Berekspresi
Tari Soledo Gelangprojo. Foto: @media_twc

Panggung

Soledo Gelangprojo, Tari Kreasi Baru Kolaborasi Tiga Kabupaten yang Ikonik untuk Sambut Tamu
alam satu karya yang dipamerkan kelompok ‘Anti Sport-Sport Club’ di Stonemilk Ward, Yogyakarta. (Foto: dokumentasi antisport-sportclub)

Panggung

Menumpuk Kegelisahan Pandemi, Kelompok ‘Anti Sport – Sport Club’ Pameran Seni Rupa
Nella Kharisma dan Dory Harsa dengan lagu barunya "Salah Tompo". (Foto: instagram @nellakharisma)

Panggung

Dory Harsa dan Nella Kharisma Garap Single “Salah Tompo”
Sheila on 7. Foto: Instagram @sheilaon7

Panggung

Ada Sheila on 7 di Jogja VolksWagen Festival, Tapi Kuota Penonton Cuma Segini
Selama delapan hari di Dubai Expo, Abdi Dalem Mataya mengisi repertoar tari di beberapa ruang pertunjukan. (Foto: kratonjogja.id)

Panggung

Repertoar Tari Klasik Keraton Yogyakarta Memukau Paviliun Indonesia di Dubai Expo