Home / Panggung

Senin, 21 Maret 2022 - 14:55 WIB

Citrus Studio Gelar Pameran Keramik “Soil Distortion” di Djawata Gallery

Love Distortion karya Faiq Al Fahmi. (Foto: Agoes Jumianto)

Love Distortion karya Faiq Al Fahmi. (Foto: Agoes Jumianto)

NYATANYA.COM, Bantul – Citrus Studio menggelar pamerankeramik bertajuk “Soil Distortion” di Djawata Gallery, Kajen, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, 19 Maret sampai 3 April 2022.

Tema pada pameran ini adalah distorsi pada tanah liat/clay. Distorsi tersebut kemudian bisa dimaknai dari berbagai perspektif oleh seniman maupun audiens. Demikian dijelaskan Tauifik, Ketua kegiatan pameran ini kepada nyatanya.com, Sabtu (19/3/2022).

“Tema Soil distortion menjadi tema yang luas dan eksploratif dalam karya keramik sehingga diharapkan hasil karya-karya yang segar dan menarik,” terang Taufik.

Baru Klinting karya Yavi Mahendra. (Foto: Agoes Jumianto)

Soil Distortion atau dalam bahasa Indonesia distorsi tanah liat, memiliki berbagai makna. Secara bahasa, makna dari frasa tersebut adalah perubahan bentuk yang ekstrim pada tanah liat.

Terlepas dari makna kebahasaannya, Soil Distortion dapat dimaknai secara beragam dari berbagai perspektif. Perubahan bentuk pada tanah liat bisa dalam makna ‘bentuk fisik’ yang sesungguhnya, maupun secara konseptual.

“Salah satunya adalah eksplorasi fisik dari tanah yang kemudian menghasilkan keindahan maupun kerusakan tertentu,” imbuh Taufik.

Baca juga   Yusman Selesaikan Patung Soeharto yang Akan Dipasang di Taman Soeharto Ponorogo Jawa Timur

Di sisi lain, secara konseptual, distorsi dapat terjadi dalam proses berkesenian si seniman selama pra-pameran. Proses berkesenian yang bisa jadi meliputi konstruksi, destruksi, deformasi, hingga distorsi secara berulang, acak, maupun berurutan dalam prosesnya.

Pengunjung mengapresiasi karya Muhammad Taufik Hidayat berjudul Si Jabang dari Embrio Seni. (Foto: Agoes Jumianto)

Seniman muda Citrus Studio yang merupakan lintas akademik dan latarbelakang ikut terlibat dalam pameran kali ini. Diantaranya Rd. Muhammad Taufik Hidayat dengan karyanya ‘Si Jabang dari Embrio Seni’, Muhammad Jamaludin Rido dengan karya berjudul ‘Nerve-Racking 26/20/20’.

Ada juga Kukuh Permadi dengan karya berjudul ‘Dataran Karst’ yang bernarasi tentang Gunungkidul, gunung kidulan. Sementara Anton Yulianto lewat karyanya ‘Bawana Madya Pada’ yang lahir dari perjalanan spiritual dalam hal bentuk.

Perupa lain yang ikut unjuk karya di pameran ini adalah Iftikhara A Rajwie yang mempertanyakan ‘makna’ dari seni keramik lewat karyanya berjudul ‘Neo Heritage’.

Aldizar Ahmad Ghifari lewat karyanya ‘Bebunyian Tanah’, mencoba memotret nilai budaya lokal dan unsurnya, manusia dan kepercayaan kepada alam.

Baca juga   Membangun Karakter Anak Usia Dini Melalui Wayang dan Gamelan
Capricornalter karya Muhammad Alhaq. (Foto: Agoes Jumianto)

“Melalui karya ini, Aldizar berusaha menunjukkan bagaimana tanah sudah lama mengakar dan menghidupi hajat orang banyak selama beberapa turunan,” tulis Andika Wahyu A.P dalam katalog pameran.

Nama-nama lain yang ikut berpameran, Yavi Mahendra, Faiq Al Fahmi, Imantopo Dipo Suksma, Vanya Ratna Suryatni, Nabila Rahma, dan Muhammad Alhaq.

Penanggung Jawab Djawata Gallery, Syaikul Jabrik menambahkan, dengan dibukannya pameran Soil Distortion sekaligus menandai aktivitas seni di Djawata Gallery.

“Sejatinya tempat ini menjadi sebuah laboratorium seni yang mewadahi segala aktivitas berkesenian dan terbuka untuk semua lintas seni tanpa batas,” terang Syaikul Jabrik.

Syaikul Jabrik berharap dengan pameran Soil Distortion kembali menggairahkan pelaku seni untuk tidak berhenti berproses dan berkarya, meski di tengah badai pandemi sekalipun, dan Djawata Gallery siap berkolaborasi.

(Aja)

Share :

Baca Juga

Dari kiri: Kurator Sumonar 2023 Ignatia Nilu, Kepala Museum Affandi Helfi Dirix, dan Raphael Donny, Direktur Sumonar 2023. (Foto: Agoes Jumianto)

Panggung

Sumonar 2023 Digelar di Museum Affandi Mulai Besok Malam, Hadirkan Karya Maestro Affandi dan Sudjojono
Ratusan seniman dari 15 kelompok Reog Ponorogo asal Kabupaten Temanggung, menggelar doa bersama dan aksi tolak klaim Reog Ponorogo oleh Malaysia, Sabtu (16/4/2022) malam. (Foto: MC.Tmg)

Panggung

Heboh Reog Ponorogo Akan Diklaim Malaysia, Seniman Temanggung Gelar Doa Bersama
Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, dan Ketua FKY melakukan prosesi menuangkan air kedalam gentong besar menandai dibukanya FKY 2022. Foto: Agoes Jumianto

Panggung

Menjumpai FKY 2022 ‘Merekah Ruah’ yang Resmi Dibuka Sri Sultan Hamengku Buwono X
Kaesang Pangarep dan Erina Gudono. Foto: Instagram @erinagudono

Panggung

Jelang Hari Pernikahan, Erina Gudono Umumkan Tagar #KaesayanganErina
Macapat Senja di Malioboro. Foto: Humas Pemkot Yogya

Panggung

Macapat Senja di Malioboro, Antusiasme Generasi Muda Lestarikan Budaya
Before, Now & Then (Nana) karya Kamila Andini yang terpilih di Berlin Film Festival. (Foto: Istimewa)

Panggung

Before, Now & Then (Nana) Karya Kamila Andini Terpilih di Berlin Film Festival
Mr Harun mengungkap, untuk bisa membuat karya yang bagus harus punya konsep. Lukisan adalah bahasa roh ungkap pikir, rasa dan renungan alam yang indah hidup tertata. (Foto: MC Kota Malang)

Panggung

Mr Harun: Bukan Soal Laku atau Tidak, Melukis Butuh Konsistensi
Pameran foto dengan tema “Batik, as A Trip Pekalongan City to be a Worlds Creative City” digelar di Museum Batik setempat, Rabu(15/12/2021). (Foto: Dinkominfo Kota Pekalongan)

Panggung

Peringati 7 Tahun Pekalongan Kota Kreatif Dunia, Koleksi Foto Ekraf Dipamerkan