Home / Panggung

Sabtu, 2 Oktober 2021 - 08:30 WIB

Digelar Daring, Biennale Jogja XVI Suguhkan Puluhan Program

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 yang akan digelar pada 6 Oktober hingga 14 November 2021, dimana seluruh rangkaian pameran dan program akan diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MDTL), dan Indie Art House.

Sejumlah program unggulan dan menarik disiapkan untuk mewarnai gelaran Biennale Jogja XVI yang menjadi istimewa karena menandai satu dekade Biennale Jogja seri Khatulistiwa, yang dimulai sejak 2011.

Program-program unggulan Biennale Jogja XVI 2021 diantaranya forum diskusi publik, program residensi seniman, asana bina seni, sesi viral, docking program, Main Exhibition, Equator Archive Exhibition, Bincang Seniman, Biennale Forum, Wicara Kuratorial, tur kurator, Bioskop Eseania, hingga Lifetime Achievement Award.

Setidaknya untuk program aktivasi terdapat kurang lebih 70 agenda. Selain itu, ada pula Bilik Negara Korea/ASEAN serta Taiwan yang mengundang para seniman dari dua wilayah tersebut.

Baca juga   Denny Caknan feat Guyon Waton Rilis 'Widodari'

Diselenggarakan pula pameran arsip yang menampilkan kembali serpihan artefak dan catatan tentang bagaimana Yayasan Biennale Yogyakarta tumbuh dan berkembang dalam ekosistem seni di Yogyakarta dan di kawasan Global Selatan.

Alia Swastika, Direktur Yayasan Biennale Jogja. (Foto: Dok.BJXVI)

Sementara untuk pameran utama yang diselenggarakan di JNM mengangkat tema “Roots < > Routes”. Tema tersebut berangkat dari hasil riset dua kurator, Elia Nurvista dan Ayos Purwoaji.

Beberapa seniman partisipan antara lain Udeido Collective, Greg Semu, A Pond Is The Reverse of an Island, Radio Isolasido, juga Meta Enjelita dan Raden Kukuh Hermadi (dua seniman muda lulusan program Asana Bina Seni).

Biennale Jogja XVI Equator #6 mempertemukan Indonesia dengan Oseania, sebuah kawasan yang sangat dekat dengan Indonesia; tetapi praktik geopolitik juga membuatnya terasa jauh dan bahkan seperti asing.

Para penyelenggara Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 membaca sejarah Oseania dalam rangka mengenali kembali identitas Indonesia yang dibayangkan sebagai melting pot, titik temu dari berbagai etnis, ras, dan kebudayaan.

Baca juga   Gibran Rakabuming 'Bintangi' Single Lagu 'Damai Indonesiaku' Penyanyi Cilik Rafael

“Oseania menjadi ruang kontestasi identitas yang menarik komunitas-komunitas yang tinggal bersama, untuk menyaksikan pergeseran sejarah dan kemudian menuliskan ulang sejarah mereka sendiri dalam pusaran politik lokal, (pasca) kolonial dan pergaulan global,” kata Direktur Yayasan Biennale Jogja Alia Swastika pada konferensi pers penyelenggaran Biennale Jogja XVI 2021 yang digelar secara daring, Jumat (1/10/2021) siang.

Biennale Jogja XVI juga bekerja sama dengan empat institusi dan kolektif seni dari Jayapura, Ambon, Kupang, dan Maumere untuk membuat Program Labuhan (Docking Program) sebagai perwujudan dari gagasan desentralisasi yang diusung.

“Biennale Jogja XVI diharapkan dapat menjadi ruang dialog antara seniman dan intelektual dari Indonesia dengan seniman dan intelektual dari Oseania. Keduanya dapat belajar dari pengalaman masing-masing sebagai masyarakat bekas terjajah yang keberadaannya sudah terlalu lama didefinisikan oleh kuasa pengetahuan Barat,” papar Elia Nurvista. (Aja)

Share :

Baca Juga

Poster film Paranoia. Foto:nyatanya.com/ istimewa

Panggung

Paranoia, Film Baru Riri Reza dan Mira Lesmana
Happy Asmara dan lagu baru 'Tak Warahi Carane' (Foto: Instagram @happy_asmara77)

Panggung

Happy Asmara Curhat Lewat Lagu Baru ‘Tak Warahi Carane’
Salah satu karya lukis yang akan dipamerkan dalam Pameran Lukisan Vaksinasi Bhinneka Tunggal Ika yang digelar GKR Indonesia. (Foto: Instagram @gkr_indonesia)

Panggung

GKR Indonesia Gelar Pameran Lukisan Vaksinasi Bhinneka Tunggal Ika
Penampilan perdana grup kesenian dari Kecamatan Sawit dalam acara Pentas Seni Tradisional Virtual yang digelar Pemkab Boyolali. (Foto: Diskominfo Kabupaten Boyolali)

Panggung

Setelah Lama Vakum, Seniman Boyolali Ramaikan Pentas Seni
Singgih Raharjo, Kepala Dinas Pariwisata DIY, menyatakan, “Keroncong Plesiran itu keroncong dengan genre anak muda yang dilakukan berpindah-pindah dari destinasi ke destinasi yang ada di Daerah istimewa Yogyakarta, sudah punya fans tersendiri anak-anak muda seluruh Indonesia.” (Foto: Humas Pemda DIY)

Panggung

Keroncong Plesiran Kembali Digelar di Hutan Pinus Sari Mangunan 23 Oktober 2021
Happy Asmara dan penghargaan Penyanyi Ambyar Wanita Terbaik. (Foto: Instagram @happy_asmara77)

Panggung

Happy Asmara Penyanyi Ambyar Wanita Terbaik dan Pemenang Lengkap Ambyar Award 2021
Karya Mella Jaarsma. (Foto:Biennale Jogja XVI)

Panggung

Digelar Hybrid, Biennale Jogja XVI Equator #6 Resmi Dibuka
Lyodra. (Foto: Instagram lyodraofficial)

Panggung

Satu di Posisi Puncak, Dua Lagu Lyodra Masuk 5 Besar Indonesian Top Hits