Home / Panggung

Senin, 27 September 2021 - 08:50 WIB

Digelar di Sonobudoyo, Pameran Budaya Tak Benda Wayang dan Batik “Rumaket”

Pembukaan Rumaket dilaksanakan pada Minggu sore (26/9/2021) dengan Pemotongan buntal oleh Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi dan Direktur Pengembangan dan pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Restu Gunawan. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Pembukaan Rumaket dilaksanakan pada Minggu sore (26/9/2021) dengan Pemotongan buntal oleh Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi dan Direktur Pengembangan dan pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Restu Gunawan. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Dinas kebudayaan/Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta menggelar perayaan warisan budaya tak benda berupa wayang dan batik dengan tajuk “Rumaket” pada 25 – 27 September 2021 di gedung pameran temporer museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

Pembukaan Rumaket dilaksanakan pada Minggu sore (26/9/2021) dengan Pemotongan buntal oleh Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi dan Direktur Pengembangan dan pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Restu Gunawan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas kebudayaan/Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta beserta jajarannya, Seniman dan para pihak yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan rumaket.

Heroe menuturkan Yogyakarta sebagai kota budaya yang memiliki potensi seni budaya berupa sumber daya manusia yakni seniman yang kreatif, inovatif dan memiliki warisan budaya tak benda yang sangat berharga bahkan tak ternilai harganya.

“Wayang dan batik merupakan karya hadiluhung warisan leluhur yang bila satu sama lain digandengkan dalam sebuah kreatifitas akan melahirkan inovasi produk yang memiliki kekuatan, keunikan dan ciri khas yang bisa menjadi pembeda (value) sehingga bila digendong dalam sebuah even akan memiliki daya tarik yang luar bisa bagi para pemerhati seni budaya dan masyarakat luas,” kata Heroe.

Baca juga   Heroe Poerwadi: Pentingnya Membaca untuk Kemajuan Bangsa dan Negara

Selanjutnya Heroe menguraikan bahwa daya tarik tersebut bila dikelola secara ekonomi akan mampu membawa kesejahteraan bagi seniman atau pelaku seni budaya tersebut. Selain itu, proses kreatif dan inovasi tersebut akan menjadi wahana pendidikan seniman muda dalam berkarya pada masa berikutnya.

“Proses kreatif dan inovasi dari generasi ke generasi berikutnya tersebut semakin menguatkan brand Yogyakarta sebagai sumber potensi seni budaya yang berkelanjutan dan memiliki bobot kompetensi nasional bahkan internasional,” imbuh Heroe

Sementara Restu Gunawan, mengapresiasi Pemerintah Kota Yogyakarta yang dalam bahasa programnya menggunakan istilah dalam bahasa Jawa seperti gandeng gendong, gandes luwes, rumaket yang mana didalam istilah tersebut terdapat kandungan makna yang dalam.

“Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa akan mampu menggiring masyarakat untuk lebih memahami makna dan melaksanakannya dalam keseharian,” ungkap Gunawan.

Gunawan juga menyampaikan bahwa Yogyakarta layak memperoleh indeks kemajuan nomor satu se-Indonesia, yang dalam kondisi pandemi tetap berkarya melakukan kreativitas dan inovasi di bidang seni budaya.

“Melihat derap kegiatan seni budaya di Kota Yogyakarta kami optimis tidak terjadi lost culture (kemandegan proses kreasi seni budaya akibat pandemi),” papar Gunawan.

Baca juga   Warga Balirejo Sulap Gang Gersang Jadi Kebun Strawberry

Kepala Dinas kebudayaan/Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengutarakan kata rumaket yang berarti sumanak banget atau seperti saudara mengandung maksud bahwa kegiatan ini merupakan wadah pertemuan yang sumanak banget antara pelaku seni budaya dengan masyarakatnya.

“Rumaket antara batik dengan pemakainya, rumaket antara dalang wayang dengan penggemarnya yangakan menjadikan hubungan timbal balik antar pihak makin di hati,” papar Yetti.

Yetti juga menginformasikan bahwa dalam rumaket ada kegiatan pameran fotografi wayang yang potret dalam lanskap cagar budaya serta dengan tehnik olah digital yang merupakan karya kolaborasi tiga fotografer kawakan dengan tiga dalang muda.

Selain itu juga terdapat Workshop, talkshow dan pertunjukan tari dengan teknologi hologram yang dipadu dengan fashion show yang mengangkat tema filosofi dari batik Sidomukti.

Selanjutnya Yetti juga berharap agar apa yang telah dilakukan dalam upaya pelestarian batik dan wayang disengkuyung semua pihak dan mampu menggugah masyarakat untuk mengambil peran sebagai pelestari warisan budaya secara konsisten dan berkelanjutan. (*)

Share :

Baca Juga

Denny Caknan dan Happy Asmara dalam lagu Satru. (Foto:nyatanya.com/YouTube Denny Caknan)

Panggung

Satru Milik Denny Caknan dan Happy Asmara Puncaki Chart Dangdut Ter-Hot
Dari kiri ke kanan, perwakilan seniman Kelompok YOS, Dra. Y Eni Lestari Rahayu dan Bapak Dunadi berbincang mengenai karya kelompok YOS untuk Kalurahan Margodadi. (Foto: Dok.JSSP 4)

Panggung

Pameran Maket JSSP 4 ‘Jogja Patung Publik Nyawiji’ di Pendhapa Art Space
Menempa Wilah. (Foto: FKY 2021/Larasing Ati)

Panggung

FKY Mereka Rekam, Menelusuri Jejak Gamelan di Yogyakarta
Nella Kharisma dan anak pertamanya. (Foto:@nafaspertama)

Panggung

Selamat! Nella Kharisma ‘Babaran’ Anak Pertama dengan Dory Harsa
Aksi happening art I Made Arya Dwita Dedok di depan Klenteng Liong Hok Bio Magelang. (Foto:nyatanya.com/Ignatius Anto)

Panggung

I Made Arya Dwita Dedok, Lahirkan Lukisan Magelang in Love di Hari Jadinya
Rafael Putra Robert dengan lagu barunya 'Damai Indonesiaku' ciptaan Anton Obama. (Foto: YouTube PT Aoma Record Indonesia)

Panggung

Gibran Rakabuming ‘Bintangi’ Single Lagu ‘Damai Indonesiaku’ Penyanyi Cilik Rafael
Tiho Syl dengan single Ulo Weling. (Foto:nyatanya.com/YouTube PT Aoma Record Indonesia)

Panggung

Anton Obama Hadirkan ‘Ulo Weling’ untuk Penyanyi Tiho SYL
Via Vallen. Foto: nyatanya.com/Instagram viavallen

Panggung

Via Vallen Curi Perhatian dengan Baju NKRI Harga Mati