Home / Buku

Rabu, 17 November 2021 - 12:10 WIB

Diorama Kearsipan, Rangkum Sejarah Yogyakarta Selama 430 Tahun

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir, Selasa (16/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir, Selasa (16/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Diorama Kearsipan yang bertempat di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang sejarah DIY secara runtut.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir, Selasa (16/11/2021).

Sri Sultan didampingi oleh Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji, Kepala DPAD DIY Monika Nur Lastiyani, dan Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo.

Diorama tersebut mengisahkan tentang sejarah berdirinya Yogyakarta dari masa Panembahan Senopati hingga Keistimewaan DIY. Sejarah Yogyakarta selama kurang lebih 430 tahun terangkum dalam 18 ruangan di satu lantai Gedung DPAD DIY.

Pembangunan diorama diperkirakan dapat selesai pada awal Desember dan ditargetkan akan diresmikan pada Februari 2022.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir, Selasa (16/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

“Saya kira cukup memadai, yang penting bagaimana penjelasannya, bisa menonton runtut 18 ruangan. Harapannya memulai dan mengakhirinya dengan runtut, yang penting bagaimana narasi itu bisa dibikin cerita lewat audio visual untuk bisa memberikan kejelasan,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan berharap agar pengunjung dapat memahami sejarah Yogyakarta dalam diorama tersebut, “Pengunjung ini kan perlu untuk bisa memahami, sehingga aspek-aspek seperti itu jadi pertimbangan supaya betul-betul yang masuk yang belum tahu, saat keluar dia bisa membayangkan perjalanan apa yang dilakukan di dalam kehidupan masyarakat Jogja dengan segala tantangannya.”
Gubernur DIY itu juga berharap agar nantinya Diorama Kearsipan bisa segera dikunjungi wisatawan dan pelajar agar dapat memahami sejarah keistimewaan DIY.

Baca juga   Heroe Poerwadi Buka Turnamen Voli Dandim Cup 2021

Diorama Kearsipan menampilkan berbagai era perjalanan sejarah DIY, seperti Yogyakarta sebagai Kota Revolusi, Kota Pendidikan, awal tata pemerintahan Yogyakarta, serta keistimewaan Yogyakarta.

Pembangunan diorama ini didasari oleh berbagai arsip yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti Keraton dan ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia).

Kepala DPAD DIY Monika Nur Lastiyani menyatakan, “Diorama Kearsipan ini mencerminkan sejarah Yogyakarta dalam kurun waktu selama sekitar 430 tahun secara detail karena kami menggunakan dasar arsip. Arsip itu adalah bukti otentik sehingga orang tidak akan bisa membantah, karena memang arsipnya ada.”

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meninjau pembangunan Diorama Kearsipan yang telah sampai pada tahap akhir, Selasa (16/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

Teknologi terkini juga diaplikasikan dalam Diorama Kearsipan, seperti teknologi hologram yang bersifat interaktif serta teknologi Augmented Reality. Monika berharap agar teknologi ini dapat menarik minat generasi muda.

“Ini menjadi sebuah diorama yang benar-benar kekinian dan bisa menampung anak-anak milenial. Sehingga pesan kami yaitu untuk bisa menghadirkan sejarah Yogyakarta itu bisa sampai dengan mudah kepada mereka karena sudah menggunakan teknologi kekinian,” ujarnya.

Baca juga   Pemkot Surakarta Terus Kembangkan Digitalisasi Perpustakaan

Tidak hanya untuk anak-anak, diorama ini juga diharapkan dapat menarik minat sejarawan dan peneliti.

Monika juga menyebutkan bahwa diorama ini bersifat dinamis di mana jika dalam perjalanannya nanti menemukan arsip-arsip yang ternyata bisa melengkapi, maka arsip tersebut nanti akan ditambahkan.

Hal serupa dinyatakan oleh Ong Harry Wahyu, Art Director Diorama Kearsipan, bahwa publik dapat ikut menyetorkan data-data yang dapat melengkapi potongan sejarah Yogyakarta.

Ong Harry Wahyu juga menyebutkan bahwa penyusunan diorama ini melibatkan hampir 50 seniman, antara lain seniman multimedia, seniman perupa, seniman pematung dan berbagai seniman lainnya.

Ia menyampaikan bahwa diorama ini berupaya untuk mengkomunikasikan arsip-arsip sejarah Yogyakarta melaui media foto, video, serta media lainnya secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Ong juga menyebutkan keunggulan diorama ini, “Kelebihannya adalah kelengkapan dari kebudayaannya, politiknya, lengkap banget. Jogja saya kira di Indonesia sangat lengkap, dari mulai sejarah kerajaan ada di sini, sejarah republik ada di sini, sejarah kebudayaan, kesenian ada di sini. Semua kota lain nggak ada yang selengkap Jogja.”

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Buku Diplomasi Indonesia di Era Global yang ditulis Desy Nur Aini Fajri bersama mahasiswanya. (Ilustrasi/Foto: dokumentasi Graha Ilmu)

Buku

Meski Pandemi, KBRI Beijing Terus Lakukan Diplomasi
Saludin Muis dan penghargaan MURI yang diterimanya. (Foto:nyatanya.com/Istimewa)

Buku

Saludin Muis, Peraih Rekor MURI Pengarang Buku TI Terbanyak 2021
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming saat menerima Kunjungan Kerja Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, olahraga, ekonomi kreatif, pariwisata dan sejarah. (Foto: Humas Pemkot Surakarta)

Buku

Pemkot Surakarta Terus Kembangkan Digitalisasi Perpustakaan
Jambu Carlin, pinjam buku cara online ala Klaten. (Foto: Diskominfo Klaten/nyatanya.com)

Buku

Jambu Carlin, Ini Cara pinjam Buku Gratis di Klaten
Acara bedah buku berjudul "Tapak Pangeran di Bumi Merapi" yang berlangsung di Puri Mataram Tridadi, Kabupaten Sleman, Kamis (11/11/2021). (Foto: MC Kab Sleman)

Buku

Disbud Sleman Bedah Buku “Tapak Pangeran di Bumi Merapi”
Buku Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan penulis Ir. Anizar, M.Kes. (Foto:dokumentasi Graha Ilmu)

Buku

Angka Kecelakaan Kerja Masih Tinggi
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto: dok. InfoPublik)

Buku

UNESCO Tetapkan Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia
Perpustakaan Kota Yogyakarta kembali membuka layanan membaca di tempat, dengan kuota terbatas. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Buku

Perpustakaan Kota Yogya Kembali Buka Layanan Baca di Tempat