Home / Panggung

Sabtu, 31 Juli 2021 - 16:18 WIB

Ekspressionisme Ala Chryshnanda Dwilaksana

Lukisan karya Chryshnanda Dwilaksana berjudul

Lukisan karya Chryshnanda Dwilaksana berjudul "Bulan di atas Borobudur". (Foto: dokumentasi pribadi)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Pelukis ekspresionis di Indonesia tidak terlalu banyak. Salah satu dedengkotnya yaitu sang Maestro Affandi (almarhum), dengan teknik pelototannya yang ciamik.

Pelukis generasi muda yang beraliran ekspresionis lainnya saat ini adalah Bayu Wardhana, dan Astuty Kusumo, keduanya juga dari Yogyakarta. Masing-masing mempunyai style dan karakter yang beda meski sama-sama ekspresionis.

“Kehadiran karya dari sosok Chryshnanda Dwilaksana cukup memperkaya dunia seni lukis Indonesia, meski melalui sebuah konsistensi proses kreatif yang cukup panjang. Pria kelahiran Magelang 53 tahun yang lalu ini sejak remaja memang sudah suka dan giat berkesenian,” ungkap Gatot Eko Cahyono, pelaku dan pemerhati seni yang tinggal di Kasongan, Bantul, Sabtu (31/7/2021).

Dijelaskan Gatot, sejak remaja sosok Chryshnanda sudah ikut ‘nyanggar’ gemar menggambar bersama kawan-kawannya di Magelang, belajar melukis bersama dari seorang guru, pak Barkah namanya.

“Dalam perjalanan hidupnya keinginan untuk melanjutkan kuliah masuk STSRI ASRI kandas, karena keadaan keluarga dan ayahnya kurang merestuinya. Akhirnya sosok Chryshnanda tetap konsisten menggeluti hobinya, gambar menggambar, melukis, bahkan pernah juga mencoba membuat kartun,” papar Gatot yang eks kartunis koran sore Suara Pembaruan.

Namun dalam perjalanan waktu, Chryshnanda lebih merasa pas, nyaman, untuk tetap menekuni dunia seni lukis, hingga detik ini.

Baca juga   Asyik, FDJ Emily Young Garap Lagu 'Lewat Angin Wengi' Versi Kentrung

“Bahkan di tengah kesibukan beliau sebagai direktur Korlantas di Jakarta, namun dunia seni lukis tetap berjalan seiring pekerjaannya dan justru membuatnya semakin hepi menjalani hidupnya,” imbuh Gatot.

Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, Direktur Korlantas yang aktif juga sebagai pelukis dan penggiat seni budaya. (Foto: dokumentasi pribadi)

Sudah banyak aktivitas pameran yang Chryshnanda ikuti. Pameran bersama di beberapa kota di Indonesia, bahkan juga pameran tunggal di Jakarta. Terakhir baru saja mengikuti pameran virtual para seniman Indonesia-Hongaria, 27 Juli 2021 yang dikuratori oleh pelukis Supantono Suwarno.

Melihat karya Chryshnanda yang rata-rata berukuran sedang dan besar, selalu dominan akan sapuan kuas besar dengan warna primer cat akrilik yang saling berbaur, yang agak encer, kadang disengaja muncul “dleweran” yang menambah efek artistik.

Pengalaman artistik tentu didapat dari eksplorasi dan konsistensi berkarya. Aksi ‘bat-bet’ kuas-nya adalah cerminan dari refleksi energi kejujuran suara jiwanya yang ia ungkapkan secara jujur dan sangat berani.

Tidak peduli karya itu nanti laku atau tidak, orang akan senang atau tidak, tak menjadi masalah buat Chryshnanda. Chryshnanda berkarya sangat cepat, bisa jadi satu lukisan ia selesaikan antara 15-20 menitan. Sungguh luar biasa.

Terakhir di bulan Juli 2021, Chryshnanda melakukan aksi melukis On The Spot (OTS) di sekitar candi Borobudur dan Mendut, di Magelang, Jawa Tengah.

“Melihat wujud karya OTS nya, semakin meyakinkan akan ekspresi dari gemuruh energi suara jiwanya yang selalu tidak pernah ragu, penuh kejutan spontanitas,” ungkap Gatot dalam bincang-bincang tentang sosok Polisi yang mencintai dunia seni.

Baca juga   Godod Sutejo: Dhapur Keris dalam Estetika Seni Rupa
Pengalaman artistik Chryshnanda bisa dilihat dari karya-karyanya. (Foto: dokumentasi pribadi)

Karya seri “Bulan di atas Borobudur” sangat jelas mengindikasikan konsistennya Chryshnanda dalam berkarya. Spontanitas berani dari sapuan kuas besarnya sangat merdeka dan artistik, komposisi dan penggunaan warna primer yang berbenturan, sesekali mencuat warna hitam, terlihat apik berjalan alami ke arah harmonisasi, serasi, sehingga hasil pungkasan enak dilihat mata.

Dijelaskan Gatot, penggunaan warna-warna primer yang saling berbenturan melalui sapuan kuas dan penggunaan warna hitam pada sosok candi Borobudur, sangat harmonis, karena warna hitam adalah bisa menambah sebagai warna pengunci. Begitulah karya Chryshnanda.

“Berkarya seni, apapun, adalah sangat memerdekakan si seniman, menjadi sebuah kepuasan batin, bisa migunani untuk diri sendiri mau pun orang lain.seni adalah bagian dari kebutuhan kehidupan manusia di mana pun berada. Seni menjadikan hidup manusia semakin beradab dan indah.

“Menurut saya, karya-karya Chryshnanda semakin lama semakin terlihat kematangannya. Boleh dikatakan sudah ‘layak’ sebetulnya untuk tampil dalam gelaran pameran di Galnas,” pungkas Gatot yang kerap memandu acara bincang seni Kampoeng Semar (Kamsem) setiap Kamis malam secara daring. (N1)

Share :

Baca Juga

The Beatles. (Foto: teocarvalho.artstation.com)

Panggung

55 Tahun Revolver, Salah Satu Album Terbaik dan Berkelas The Beatles
Logo Pemda DIY. (nyatanya.com)

Panggung

Kundha Kabudayan Luncurkan “Yogya Kota Hanacaraka”
Lyodra Margareta Ginting. (Foto: nyatanya.com/istimewa)

Panggung

Juara Indonesia Idol, Lyodra Ginting Debut Album Baru
(Diskominfo Kabupaten Boyolali)

Panggung

Diskominfo Boyolali Gelar Pentas Seni Tradisional 13 Hari Berturut
Jane Shalimar. (Foto:nyatanya.com/Instagram @janeshalimar_1)

Panggung

Setelah Berjuang Melawan Covid-19, Jane Shalimar Meninggal Pagi Tadi
Salah satu kartun karya Agoes Jumianto yang dipamerkan. (nyatanya.com/Dokumentasi)

Panggung

13 Kartunis Indonesia Kembali Ikuti Pameran Kartun HAM di Malaysia
Endang Paramitha. (Foto:dokumentasi pribadi)

Panggung

Endang Paramitha, dan Dua Dunia yang Ditekuninya
Poster film Paranoia. Foto:nyatanya.com/ istimewa

Panggung

Paranoia, Film Baru Riri Reza dan Mira Lesmana