Home / News

Sabtu, 27 Agustus 2022 - 15:45 WIB

Glenak-glenik Kebangsaan: Selamatkan Generasi Muda dari Kaum Radikalis

Glenak-glenik Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat, di Aula Kevikepan Yogyakarta Barat, Wates, Jumat (26/8/2022) malam. Foto: Istimewa

Glenak-glenik Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat, di Aula Kevikepan Yogyakarta Barat, Wates, Jumat (26/8/2022) malam. Foto: Istimewa

NYATANYA.COM, Kulon Progo – Tantangan Bangsa Indonesia ke depan adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda yang tergolong generasi milenial dan generasi Z agar memiliki paham kebangsaan untuk melawan gerakan-gerakan yang ingin mengganti ideologi negara dengan menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya.

Harus disadari pula bahwa dalam 15 tahun terakhir, bangsa ini mengalami serangan luar biasa dan masif dari dari kaum radikalis dengan menyusup ke sendi-sendi masyarakat dari pendidikan, birokrasi dan parlementer.

Demikian dikatakan Ketua Pemimpin Wilayah GP Ansor DIY Muchammad Saifudin saat berbicara dalam Glenak-glenik Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat, di Aula Kevikepan Yogyakarta Barat, Wates, Jumat (26/8/2022) malam.

Glenak-glenik Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat, di Aula Kevikepan Yogyakarta Barat, Wates, Jumat (26/8/2022) malam. Foto: Istimewa

Dalam kesempatan itu berbicara juga Romo Dr Martinus Joko Lelono, Pr, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Kevikepan Yogyakarta Timur.

Saifudin mengatakan GP Ansor sudah menengarai pola-pola gerakan yang merongrong Pancasila dan NKRI.

“Target mereka ingin memguasai tempat-tempat masyarakat dan pemerintah, universitas, menguasai sistem parlementer baik DPR daerah maupun Pusat, hingga sampai tingkat RT. Mereka juga berupaya merebut mimbar-mimbar di rumah-rumah ibadah. Jumlah mereka tidak banyak, tetapi mereka pengin tampil dan diterima di masyarakat untuk memaksakan ideologinya. Tidak segan juga memakai kekerasan dengan label agama,” tegasnya.

Ketua GP Ansor DIY ini menambahkan dari apa yang diamati dan dipelajari Ansor, saat ini agama hanya dijadikan sebagai legitimasi untuk mendukung tujuan tertentu yang bersifat ekonomi, politik, dan sosial bahkan dijadikan alat politik.

Baca juga   Pertunjukan dan Perekaman Seni Tradisi, Salah Satu Upaya FKY Mencatat Subjek Budaya

“Secara pola besar gerakan itu melakukan cuci otak yang kemudian menumbuhkan fanatisme, yang kemudian dapat tumbuh atau digerakkan menjadi radikalisme, ekstrimisme dan kemudian terorisme,” paparnya.

Pencegahan

Upaya untuk melakukan pencegahan itu, Syaifudin menawarkan jalan dengan menggandeng kaum milenial dan generasi Z yang berdasar sensus penduduk 2020 merupakan jumlah terbesar.

“Generasi Z yang lahir tahun 1997-2012 jumlahnya 75,49 juta atau 27.954% dan generasi milenial yang lahir tahun 1981-1996 berjumlah 69,90 juta atau 25,87 %. Generasi milenial inilah usia-usia mereka menjadi para aktivis saat ini,” ujar Syaifudin.

Ansor mengajak seluruh warga negara termasuk umat Katolik untuk membangun pemahaman kebangsaan kepada mereka, dimulai dari keluarga, lingkungan, komunitas, ormas maupun organisasi kepemudaan lainnya.

“Jumlah mereka yang menanamkan pemahaman kebangsaan ini banyak dan terus berkembang. Mereka mempunyai forum-forum khusus untuk berinteraksi, mempunyai forum-forum pendidikan dan Latihan,” tuturnya, seraya menambahkan bangsa Indonesia butuh percepatan 5 tahun ke depan untuk memunculkan generasi muda milenal yang memiliki wawasan moderat yang kuat dan handal.

“Untuk memahami tindakan kekerasan agama dan upaya mengganti ideologi tersebut kuncinya adalah kepekaan, keterbukaan dan kejujuran sehingga dapat memandangnya secara objektif. Terlebih pelaku utama di lapangan adalah generasi muda atau kaum milenial,” tegasnya.

Pahlawan atau Pecundang

Sementara itu Romo Martinus Joko Lelono dalam paparannya mengatakan umat Katolik masih terkungkung pada imajinasinya sendiri, memandang dirinya sebagai kelompok kecil, tersakiti, korban sejarah maupun ketakutan lainnya, serta berharap pihak lain yang maju menghadapi masalah.

Baca juga   Hingga 4 Januari 2023, Kominfo Tangani 1.321 Hoaks Politik

“Kita beranggapan bahwa hidup di Indonesia itu ingin hidup sedamai-damainya, senyaman-nyaman, masyarakat yang tanpa masalah. Apakah ada? Padahal selalu ada masalah dimanapun, termasuk di Amerika yang katanya paling demokratis,” tegasnya.

Romo Joko Lelono menegaskan umat Katolik tidak lari dari masalah. “Sejak tahun 2010 Gereja mendorong umat untuk keluar dengan aktivitas-aktivitas di masyarakat. Makanya saat itu kita kenal jargon jangan hanya di altar tapi harus berperan juga di pasar,” jelasnya.

Oleh karena itu Romo Joko Lelono mengajak umat Katolik mengambil bagian dalam proyek pembangunan tata dunia baru yang mengharuskan semua pemeluk agama dan kepercayaan bergandengan tangan dan mengembangkan nilai-nilai dari agamanya untuk peradaban yang adil dan berabad.

“Pada peran itu umat Katolik dihadapkan pada tantangan mau jadi pecundang atau pahlawan di zamannya? Dari apa yang dilakukan oleh Mgr Soegijopranoto, Kardinal Yustinus Darmojuwono dan Romo Mangunwijaya, menunjukkan di Keuskupan Agung Semarang tidak ada gen pecundang!,” tegasnya.

Glenak-glenik Kebangsaan ini dihadiri pula Kepala Kesbangpol Kulonprogo Budi Hartono, Ketua FKUB Kulonprogo Agung, Syaiful dari Kemenag Kulonprogo serta moderator Romo Ambrosius Heri Krismawanto Pr selaku Ketua Komisi PK3 Yogyakarta Barat. (*)

Share :

Baca Juga

Foto: Dok.AP II

News

Angkasa Pura II Catat Kebangkitan Lalu Lintas Penerbangan, Lima Sinyal Ini Jadi Ukuran
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melantik Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro menjadi Penjabat (Pj) Bupati Pati, Senin (22/8/2022) malam. Foto: Humas Jateng

News

Lantik Penjabat Bupati Pati, Ganjar Tak Bosan Ingatkan Antikorupsi
Pasukan gabungan dari Angkasa Pura, TNI, Polri dan Dishub mengikuti apel gelar pasukan di Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (19/12/2022). Apel pasukan gabungan tersebut untuk mengamankan arus mudik libur Natal dan Tahun Baru menggunakan pesawat terbang di bandara tersebut dan petugas juga mendirikan posko terpadu yang dilengkapi berbagai informasi untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan pemudik. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/aww.

News

Tiga Hari Lagi Polisi Gelar Operasi Lilin Serentak di Seluruh Wilayah, Amankan Nataru
Rapat koordinasi lintas sektor membahas penanganan anak tidak sekolah (ATS) di Wonosobo. Diketahui ada sebanyak 27.181 anak dalam rentang usia 7-18 tahun di 15 Kecamatan masuk kategori belum pernah sekolah dan tidak sekolah lagi. (Foto: Mc DisKominfo Kab Wonosobo)

News

Butuh Perhatian Serius, 27 Ribu Anak di Wonosobo Tidak Sekolah
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan. (Foto: Biro Humas MPR RI)

News

Maskapai Strategis, Pemerintah Diminta Selamatkan Garuda Indonesia
Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Kota Yogyakarta pada bulan Januari mengalami penurunan. Sebelumnya harga bahan pokok mengalami kenaikan cukup signifikan pada akhir tahun 2021. Namun warga tak perlu khawatir karena stok aman. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

News

Awal Tahun Harga Sejumlah Bahan Pokok di Yogyakarta Mulai Turun
Ganjar Pranowo saat melepas 320 pemudik menggunakan kereta api di Stasiun Senen Jakarta, Jumat (29/4/2022). Foto: Humas Jateng

News

Selain Mudik, Ganjar Siapkan Angkutan Balik Gratis bagi Warga Jateng
Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Jim Ghofur. (Foto:MC Riau)

News

Sejak Januari 1.285 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Ini Rinciannya