Home / Panggung

Kamis, 23 September 2021 - 14:42 WIB

Godod Sutejo: Dhapur Keris dalam Estetika Seni Rupa

Godod Sutejo. (Foto: Dok Pribadi)

Godod Sutejo. (Foto: Dok Pribadi)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Sudah sering diutarakan pembicaraan regenerasi perkerisan, namun masih sangat sedikit yang diterapkan sebagai suatu strategi kebudayaan.

Keris, sebagai karya budaya benda bersifat material, memiliki sejarah dan riwayat panjang yang mencakup ilmu bahan, ilmu proses penuh pengetahuan dan teknologi, ilmu pengelolaan dan perawatan, ilmu perlambang dan makna, spiritualitas pelaku dan penggunanya, bahkan ilmu pemanfaatan fungsinya sebagai pusaka dan kelengkapan busana. Tosan aji lan ageman.

Demikian dijelaskan Godod Sutejo, pelukis dan pemerhati keris yang tinggal di Yogyakarta dalam Webinar Keris #2 bertema “Dhapur Keris Dalam Estetika Seni Rupa”, Kamis (23/9/2021) pukul 13.00 WIB.

Menurut Godod yang menjadi pembicara Webinar tersebut, perkerisan, segala sesuatu yang berhubungan dengan hal ikhwal keris yang mencakup segi-segi material dan nonmaterial, benda dan takbenda, merupakan wilayah perbincangan yang lebih luas dan mendalam.

“Dunia perkerisan memiliki keruwetan dan kerumitan karena kompleksitas pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Termasuk, pengetahuan pekerisan yang sudah turun-temurun lintas generasi yang kebanyakan tersampaikan melalui tuturan lisan,” terang Godod.

Suatu pengetahuan duniawi bersifat material yang dibungkus dengan pengetahuan nonmaterial yang memerlukan pemahaman mendalam melalui penguasaan aspek-aspek material dan nonmaterialnya.

“Pekerisan menjadi sumber pengetahuan yang berasal dari kekuatan budaya lokal atas kemampuan teknologi olah logam menjadi pusaka bermakna secara spiritual dengan jangkauan dimensi pengatahuan dan pemikiran yang kompleks,” beber Godod.

Baca juga   Erwin Erlangga dan Semangat Majukan Musik Dangdut

Perkerisan masuk dalam suatu sistem pengetahuan, sistem kebudayaan, bahkan sistem peradaban suatu masyarakat berbudaya maju. Keberadaan keris dan perkerisan menjadi salah satu tanda tingkat pencapaian kebudayaan tinggi masyarakat.

Desain Keris Varian Baru oleh Godod Sutejo.

Lebih lanjut Godod, dari zaman ke zaman, keris dan perkerisan telah mengalami perubahan. Sebagai karya budaya, keris dan perkerisan tentu mengalami proses transformasi atau perubahan yang sering disebut dengan terjadinya proses alih. Wujudnya berupa alih bentuk, alih rupa, alih bahan, alih warna, alih proses, alih fungsi, alih makna, dan seterusnya. Tentu, ada proses alih yang diterima, ada pula proses alih yang ditolak.

“Namun demikian, proses perubahan itu tidak bisa dihindari dan ditolak. Yang diperlukan adalah, suatu proses peralihan yang mendasar, cukup, mencakup, dan menjawab tantangan dan tuntutan zaman, kebutuhan masyarakat terkini,” imbuh Godod.

Selain kenyataan adanya transformasi, keris dan perkerisan perlu terjadinya proses transgenerasi atau alih generasi sebagai keharusan proses budaya. Regenerasi adalah keharusan budaya. Regenerasi meliputi regenerasi pelaku dan regenerasi penikmat atau penggunanya.

Transformasi keris dan perkerisan harus disertai dengan tindakan transgerenasi atau alih generasi. Alih generasi keris dan perkerisan harus menjadi upaya strategis secara kebudayaan karena dengan kuatnya arus regenerasi pelaku dan pengguna keris akan menyebabkan keris dan perkerisan makin inklusif, wilayah pengetahuan terbuka untuk semua kalangan masyarakat.

Baca juga   Jangkau RT/RW, Pemkot Yogya Siapkan Mobil Layanan Vaksinasi

Ditambahkan Godod, regenerasi keris dan perkerisan, sebagai paket strategi kebudayaan, perlu didesain. Mungkin malah bisa dalam wujud “rencana induk pengembangan keris”, yang fokusnya pada proses regenerasi multidimensional atas pelaku dan apresian. Tentu saja bisa dilaksanakan melalui kerja-kerja
sederhana melalui gerakan regenerasi pelaku dan apresian keris dan perkerisan.

“Jadi, dunia keris dan perkerisan, butuh integrasi beragam proses transformasi dan beragam proses transgenerasi. Suatu gerakan perubahan dengan desain perencanaan yang utuh dan matang sebagai strategi kebudayaan. Tanpa tindakan transformasi dan transgeranasi, keris dan perkerisan hanya akan berputar-putar pada keterulangan wacana mapan warisan masa lalu,” tukas Godod dalam webinar yang juga mengusung narasumber seniman Yuswantoro Adi dan dimoderatori Ki Budi Kajena dari tim PP Keris DIY.

Harapannya para seniman ataupun yang peduli dengan keris turut serta menanamkan rasa cinta dan peduli dengan keris untuk generasi penerus kita.

Tidak menutup kemungkinan untuk bisa lebih mengenalkan keris ke generasi mendatang perlu adanya perubahan-perubahan dhapur atau membuat dhapur keris baru dalam kata lain bisa juga desain yang memenuhi selera.

“Lewat seni rupa, perupa akan membuat atau mencipta dhapur sampai dengan proses pengerjaannya tentang keris, sehingga akan hadir seniman-seniman keris. Dan tidak menutup kemungkinan kedepan akan ada empu-empu baru,” tutup Godod Sutejo. (Aja)

Share :

Baca Juga

Sound of Borobudur. (Foto: nyatanya.com/media_twc)

Panggung

Sound Of Borobudur-Music Over Nations: Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik
FDJ Emily Young. (Foto:nyatanya.com/YouTube Rumah Musik Kita)

Panggung

FDJ Family Young dan Dara Ayu Kompak Daur Ulang ‘Alun Alun Nganjuk’
Syuting film YK48 produksi Pehagengsi. (Foto: Dokumentasi Pehagengsi)

Panggung

YK48 Film Dokumenter Sejarah Perfilman Yogya Mulai Diproduksi

Panggung

FKY 2021 “Mereka Rekam” Digelar Full Daring Mulai 16 September 2021
Mahalini 'Melawan Restu'. (Foto: YouTube HITS Record)

Panggung

‘Melawan Restu’ Mahalini Teratas di Indonesian Top Hits
Komunitas Jogja Beatles Community dalam event ulang tahunnya. (Foto: Dok.JBC)

Panggung

Serunya Panggung Ulang Tahun Komunitas Penggemar The Beatles Yogya
Non-O saat berkarya di rumah studionya. (Foto: dokumenpribadi)

Panggung

Kartunis Non-o, Energi Berkaryanya Tak Pernah Padam
Lyodra. (Foto: Instagram lyodraofficial)

Panggung

Satu di Posisi Puncak, Dua Lagu Lyodra Masuk 5 Besar Indonesian Top Hits