Home / Plus

Sabtu, 16 April 2022 - 10:27 WIB

Jaburan, Tradisi Ramadan yang Masih Eksis Hingga Sekarang

Tradisi Jaburan berkembang dan menyebar di Pulau Jawa. Meskipun, tidak semua daerah menerapkan tradisi ini, namun beberapa wilayah khususnya di Soloraya masih tetap melakukannya. (Foto: Istimewa/MC Kota Solo)

Tradisi Jaburan berkembang dan menyebar di Pulau Jawa. Meskipun, tidak semua daerah menerapkan tradisi ini, namun beberapa wilayah khususnya di Soloraya masih tetap melakukannya. (Foto: Istimewa/MC Kota Solo)

NYATANYA.COM, Surakarta – Jaburan diartikan sebagai jamuan makanan yang diberikan warga setempat ke masjid, berupa makanan kecil maupun berat. Biasanya jaburan dibagikan selama ramadan selepas salat tarawih.

Tradisi ini berkembang dan menyebar di Pulau Jawa. Meskipun, tidak semua daerah menerapkan tradisi ini, namun beberapa wilayah khususnya di Soloraya masih tetap melakukannya.

Tradisi ini dilakukan secara sukarela. Seluruh warga yang terlibat dan bersedia menyediakan jaburan, dibarengi dengan rasa ikhlas.

Untuk mempermudah pemberian jaburan, takmir akan membuat jadwal bagi warga yang ingin memberikan jamuan. Hal ini agar tidak terjadi penumpukan jaburan pada waktu tertentu.

Sehingga dalam 30 hari ramadan, telah ada jadwal yang terstruktur. Namun, jadwal tersebut tidak mengikat secara khusus, setiap warga berhak memberikan jaburan kapanpun dan sistemnya pun tidak memaksa.

Baca juga   Kebaya Diklaim 4 Negara ASEAN, Ini Kata Ganjar Pranowo

Melalui tradisi ini, orang yang melakukan tarawih dan qiyam (ibadah setelah tarawih) dapat dimuliakan dengan diberikannya hidangan makanan. Jaburan juga sebagai motivasi anak-anak untuk giat datang ke masjid menunaikan salat tarawih.

Karena umumnya, para orang tua yang menunaikan salat tarawih ke masjid mengajak anak-anak mereka. Dengan begitu, akan timbul rasa cinta terhadap masjid pada diri sang anak. Ini merupakan salah satu bentuk pengajaran orang tua kepada anak mengenai nilai-nilai agama.

Selain jaburan, pemberian jamuan makanan selama ramadan, ada juga yang dinamakan takjil. Tradisi ini berupa hidangan yang diberikan untuk orang yang berpuasa.

Hidangan tersebut adalah makanan maupun minuman manis yang disantap ketika berbuka puasa, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama atau makanan berat, misalnya nasi.

Baca juga   Cahyo Sukses Meraup Rupiah dari Kreasi Lampu Neon Elwire

Berbeda dengan jaburan, tradisi takjil dikenal pertama kali dalam masyarakat Aceh pada bulan ramadan. Informasi sejarah ini dibuktikan adanya catatan dari Snouck Hurgronje yang tercantum dalam De Atjehers pada tahun 1891-1892.

Disebutkan melalui tulisannya, Snouck Hurgronje mengungkapkan bahwa warga Aceh berbondong-bondong untuk menyiapkan hidangan takjil yang nantinya akan disantap bersama di masjid.

Tak hanya Aceh, Muhammadiyah yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1912, dikatakan juga berperan dalam penyebaran tradisi takjil di Nusantara.

Kedua tradisi ini sudah selayaknya terus ada dan dilestarikan keberadaanya. Karena lewat tradisi tersebut, kita dapat bersedekah dan timbul sikap peduli dengan sesama.

Dalam prosesnya, tradisi ini juga mampu memunculkan kebersamaan antar warga. Sehingga, akan tercipta lingkungan guyub rukun dalam bermasyarakat.

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Presiden Joko Widodo. (Foto: BPMI)

Plus

Kasus Covid-19 Naik, Jokowi: Masih Terkendali dan Tetap Waspada
Krenova digelar untuk mendorong terbentuknya budaya kreativitas di masyarakat. (Foto: Diskominfo Jateng)

Plus

Jamu Asam Urat Karya Siswa MAN Raih Juara Krenova 2021
Febri Aminanto menunjukkan wayang kulit mini karyanya. Febri berhasil mengembangkan usaha wayang kulit mini meski belajar secara otodidak. (Foto: MC Kota Malang)

Plus

Meski Belajar Otodidak, Pemuda Ini Sukses Rintis Usaha Wayang Kulit Mini
Mbah Teguh saat tiba di Kota Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (2/4/2022). Foto: FB Teguh Mukti

Plus

Lanjutkan Misi ke-2, Mbah Teguh Gowes Klaten-Mandalika-Toraja-IKN
Cholifatun memetik daun pegagan di kebun rumahnya. (Foto: Istimewa)

Plus

Cemilan Unik Kaya Khasiat, Keripik Daun Pegagan Gurih dan Renyah
Mayor Arh Mespan. (Foto: istimewa)

Plus

Mayor Arh Mespan: Saya Harap Klinik Banyu Urip Tetap Amanah Jadi Angin Segar Penderita Buta Warna
Mbah Teguh dengan sepeda mininya berkeliling Indonesia dan sertifikat pengunjung ke 254.267 kilometer nol Indonesia yang didapat dari Pemerintah Kota Sabang. (Foto: Agoes Jumianto)

Plus

Awalnya Disepelekan, Mbah Teguh Selesaikan Misi Gowes Klaten – Aceh PP dalam 100 Hari
Foto: Diskominfo Jateng

Plus

Bercita Rasa dan Miliki Nilai Jual, TP PKK Sukoharjo Juarai Lomba Kreasi Olahan Pangan Lokal