Home / News

Jumat, 30 Juli 2021 - 08:39 WIB

Jaga Stok, DIY Rencanakan Bangun Sentra Oksigen

Warga rela antre demi mendapatkan oksigen untuk pasien Covid-19. Pemandangan seperti ini masih terjadi di Yogyakarta. (Foto: Zainuri Arifin)

Warga rela antre demi mendapatkan oksigen untuk pasien Covid-19. Pemandangan seperti ini masih terjadi di Yogyakarta. (Foto: Zainuri Arifin)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Di tengah melonjaknya kasus corona, memunculkan persoalan terkait ketersediaan oksigen bagi pasien Covid-19 di wilayah DIY. Menjaga pasokan oksigen tentu juga bukan perkara mudah. Apalagi Yogya tak memiliki pabrik oksigen sendiri.

Asekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya, jenis oksigen yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19 ada dua jenis yakni oksigen cair dan gas, dimana sistem pengoperasiannya dilakukan secara sentral maupun dengan tabung.

“Nah Yogya itu satu-satunya daerah yang tidak punya pabrik oksigen. Adanya di Jabar, Jatim, Jateng, dan termasuk Banten hingga luar Jawa. Sementara menurut data terakhir dari Dinkes (DIY), baik isolasi maupun ICU, kebutuhannya mendekati 60 ton per hari. Kalau dikonversi ke meter kubik sekitar 44.051 meter kubik,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah pasti yang selalu didapatkan DIY per harinya sekitar 35 ton, namun masih ada 20 ton yang belum tercukupi.

“Dari 20 ton itu, didukung oleh program CSR meski waktu datang dan jumlah tonasenya belum tidak tentu. Jadi masih ada sekitar 10 ton ketidakpastian yang setiap hari kita update terus pagi, siang, dan sore. Tingkat kebutuhannya kita update melalui RS Online (SIRS),” urai Tri Sakti.

Baca juga   Pasien Sembuh Covid-19 di Magelang Terus Bertambah

Menurut Tri Sakti, di Pulau Jawa sendiri sudah kekurangan kebutuhan oksigen.

“Kita kemudian narik dari luar Jawa, tapi sepertinya luar Jawa kini juga butuh, mungkin akan narik dari luar negeri ataupun switching oksigen yang tadinya untuk kebutuhan industri, kita alihkan menjadi kebutuhan medis,” terangnya.

Meski demikian, tabung oksigen dari industri ini harus dibersihkan terlebih dulu. “Mengapa ini sulit secara teknis karena membutuhkan kecermatan karena menyangkut keselamatan manusia,” tambahnya.

Sementara, selain dua jenis oksigen di atas, terdapat pula oksigen konsentrator yang memiliki dua kapasitas yakni 5 liter untuk 1 pasien dan 10 liter untuk 2 pasien.

“Kita ini punya oksigen konsentrator, tiap konsentrator butuh 500 watt. Kalau tiap RS menambah 1 atau 2 saja tidak masalah, namun kalau tambahnya 20, itu perlu kerja sama dengan PLN.”

Tri Sakti mengaku bahwa skema pembagian oksigen konsentrator kini sudah berjalan di RS. “Dan kalau ada perlu mendadak, Dinkes DIY juga ada beberapa stok yang bisa langsung diberikan,” katanya.

Untuk menjamin kecukupan oksigen di DIY, Tri Sakti menuturkan rencana operasional sentra oksigen di DIY mulai September 2021 mendatang.

Baca juga   'Gedor Lakon', Gerakan Donor Plasma Konvalesen di Jawa Tengah

“Rencananya ada di Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG) di Jalan Kusumanegara (Kota Yogyakarta) dan itu oksigen generator. Jadi sistem kerjanya itu nanti bisa mengeluarkan gas yang akan ditampung di tabung kecil, tengah, besar. RS yang memerlukan bisa ambil di sana dengan menyiapkan tabung kosong yang sudah disinfektan,” ujar Tri Sakti.

Saat ini, lanjutnya, telah ada tim teknis BPTTG yang telah terbiasa mengurusi masalah teknis dan memiliki ilmu yang hampir sama untuk mengurusi oksigen generator.

“Ini Kabupaten Bantul, di RS Panembahan Senopati, mau mencoba install oksigen generator. Mungkin Kamis (29/7/2021) atau Jumat (30/7/2021) saya akan minta mereka ke sana untuk melihat perwujudannya dan cara merangkainya. Jadi ketika nanti September kita jalan, tenaganya sudah terlatih.”

Jelas Tri Sakti, skema pembiayaan sentra oksigen ini sepenuhnya menggunakan dana APBD DIY.

“Nantinya, masyarakat yang punya tabung oksigen, supaya terkoordinir dengan baik, bisa melalui fasyankes setempat. Kalau dari tempat isoter, itu tabung kosongnya dikirim ke puskesmas setempat. Puskesmas secara kolektif akan mengirimkan tabung itu setelah disinfektan. Dan itu free alias gratis, semua biaya akan ditanggung Pemda DIY,” tutup Tri Sakti. (*)

Share :

Baca Juga

Ganjar Pranowo di depan Pejabat Pemkab Banjarnegara. (Foto: Humas Pemprov Jateng)

News

Kunjungi Banjarnegara, Ini Pesan Ganjar pada Pejabat Pemkab
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat mengikuti Rakor Sosialisasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bersama Kemenkomarivest Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemda DIY)

News

PPKM Level 4 Diperpanjang! Ini Alasanya
Visual Gunung Merapi, Jumat (9/7/2021) pukul 04.56 WIB. (Foto:nyatanya.com/BPPTKG)

News

Pagi Tadi, Awan Panas Gunung Merapi Meluncur ke Baratdaya
(Ilustrasi: nyatanya.com)

News

Pasien Sembuh Covid-19 di Magelang Tambah 109 Orang
Warga Desa Wadas, Bener, Purworejo menyerahkan surat kuasa kepada tim Kuasa Hukum Nyi Ageng Serang. FOTO : nyatanya.com/ahmad zain

News

Kerap Dapat Ancaman dan Intimidasi, Warga Wadas Datangi LBH Minta Pendampingan Hukum
Ilustrasi:nyatanya.com

News

Hari Ini 902 Kasus Positif Covid-19 Sembuh di DIY
Sri Sultan meminta agar para penambang pasir yang menggunakan alat berat di sekitar lereng Gunung Merapi harus segera berhenti beroperasi. (Foto: Humas Pemda DIY)

News

Sri Sultan: Hentikan Penambangan Pasir di Lereng Gunung Merapi!
(Ilustrasi: nyatanya.com)

News

Pemkot Yogya Siapkan Gedung SD untuk Tempat Isolasi