Home / Peristiwa

Jumat, 7 Januari 2022 - 12:01 WIB

Kadipaten Pakualaman dan UST Tandatangani Kerjasama Kembangkan Budaya DIY

KGPAA Paku Alam X dan Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D., Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa usai penandatanganan MoU pengembangan kebudayaan. (Foto: Humas Pemda DIY)

KGPAA Paku Alam X dan Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D., Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa usai penandatanganan MoU pengembangan kebudayaan. (Foto: Humas Pemda DIY)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – “Marilah kita terus-menerus mengimplementasikan piwulang leluhur dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan agar tidak terjadi gegar budaya. Penguatan sifat, pola pikir, dan perilaku akan membentuk budaya yang tangguh. Pakualaman bersama Tamansiswa akan bersinergi untuk mewujudkannya.”

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X dalam acara Penandatanganan MoU antara Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan Kadipaten Pakualaman pada Kamis (6/1/2022) di Gedung Pusat, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh KGPAA Paku Alam X dan Prof. Drs. H. Pardimin, M.Pd., Ph.D., Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Dituturkan oleh Sri Paduka, Ki Hadjar Dewantara telah menyumbangkan pemikiran berkaitan dengan tata cara mewujudkan hidup selamat dan bahagia, atau salam dan bahagia melalui “Teori Trikon” yang masih relevan dengan upaya pengembangan kebudayaan.

Teori Trikon lahir dari pemaknaan tentang tidak perlunya suatu pertikaian yang disebabkan karena perbedaan adat. Menurut Ki Hadjar Dewantara, wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan saling berkaitan menjadi sebuah sistem atau yang disebut sebagai adat. Adat inilah yang akan terus berubah mengikuti waktu dan keadaan.

Oleh sebab itu, pada Pasal Dua Perdais nomor 3/2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan disebutkan dan ditegaskan bahwa pengaturan pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan antara lain dilaksanakan berdasarkan prinsip (a) keterbukaan terhadap budaya lain; (b) kemampuan mengolah budaya; (c) kesadaran dialogis; (d) kepribadian kuat; (e) berkesinambungan; dan (f) membentuk kesatuan budaya mandiri.

Baca juga   Panik Dikejar Warga, Tiga Bocah Klitih Bawa Clurit Kecelakaan Tunggal di Sleman

Dijelaskan oleh Sri Paduka, merujuk tulisan Ki Hadjar Dewantara, yang dimaksud dengan Trikon adalah tiga konsep yakni:

  • Kontinu atau ‘berkesinambungan’ dalam senantiasa menjaga nilai-nilai budaya para pendahulu dan melanjutkan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Konvergen atau ‘bersifat memusat’ dengan memberikan ruang pertemuan antara budaya kita dengan budaya manca untuk saling berdialog, dan
  • Konsentris atau mempunyai pusat yang sama untuk menciptakan budaya baru yang konstruktif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Implementasi Trikon dari Pakualaman untuk Yogyakarta antara lain melanjutkan kewajiban Leluhur Mataram sebagai pengembang kebudayaan dan sebagian di antaranya menerapkan piwulang-piwulang yang terekam di naskah kuno, contohnya Babad Mantawis saha Candra Nata.

Naskah yang ditulis pada masa Kanjeng Gusti Paku Alam II sekitar tahun 1830-an ini menyampaikan kisah Panembahan Senapati dalam meraih keberhasilan berkat kegigihan untuk mewujudkan cita-citanya, dengan berpegang pada piwulang sebagai berikut:

  • Menyadari bahwa manusia adalah hamba Tuhan yang dianugerahi pikir dan rasa sehingga mampu bernalar;
  • Bekal menambah ilmu adalah kemauan, ingat, mantap, dan bersungguh-sungguh;
  • Bahaya terbesar dalam hidup ini adalah jika tidak memperoleh kasih Tuhan.
Baca juga   Yuk, Nonton Jogja Museum Expo dengan Teknologi 360

“Merujuk pada ajaran luhur yang tertera dalam Babad Mantawis saha Candra Nata, dapatlah kita simpulkan, bahwa untuk mewujudkan keselamatan hidup, hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, rajin berusaha dan menambah ilmu, selalu bersyukur, sabar, dan ikhlas,” jelas Sri Paduka.

“Piwulang tentang pembelajaran yang bernalar ini akan membekali setiap insan, agar menjadi pribadi berwawasan luas dan bertanggung jawab jika benar-benar diterapkan. Nyatalah bahwa piwulang yang ditulis hampir dua abad yang lalu itu masih relevan dengan masa kini dan baik untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” Sri Paduka menambahkan.

Dalam kesempatan ini, Sri Paduka juga menyampaikan bahwa piwulang dari K.G.P.A. Paku Alam II, yakni “Sěstradi”, pada tahun 2021 telah ditetapkan menjadi salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta. Sěstradi memuat 21 sikap baik yang dapat dijadikan pedoman sekaligus perisai untuk mempertahankan keragaman budaya dalam menghadapi globalisasi yang terus berkembang,

“Kesungguhan dan niat harus dibangun dalam hati, agar kita benar-benar sampai pada tempat yang diharapkan. Piwulang ini sungguh bermanfaat bagi kita semua, termasuk saudara-saudara yang saat ini sedang ngangsu kawruh, ‘menimba ilmu’ di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,” tutur Sri Paduka.

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Perayaan Kamis Putih juga ditandai upacara pembasuhan kaki. Pada acara ini, Pastor Aleks membasuh kaki dua belas perwakilan umat Katolik. Upacara ini untuk mengenang Yesus yang membasuh kaki kedua belas murid-Nya. (Foto:Petrus Rabu/MC.Kab.Raja Ampat)

Peristiwa

Perayaan Kamis Putih di Gereja Katolik Raja Ampat Berlangsung Hikmat
Hakim di Pengadilan Negeri Semarang Kelas IA Khusus, Kadarwoko mengaku, tanahnya akan terimbas proyek tol Yogyakarta-Bawen. Ia menyatakan ikhlas dan berharap agar ganti kerugian yang diberikan sesuai dengan harapannya dan warga. (Foto: Diskominfo Jateng)

Peristiwa

Tanahnya Dilewati Tol Yogyakarta-Bawen, Hakim Tipikor Ini Ikhlas
Tim SAR Gabungan melakukan penggalian di lokasi yang diduga lokasi korban. (Foto: humas/beritamagelang)

Peristiwa

Pencarian Korban Terseret Banjir Lahar Hujan Terus Dilakukan
Walikota Surakarta Gibran Rakabuming secara simbolis menerima bantuan katu vaksin dari Sub BMPD Jateng-Solo. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemkot Surakarta)

Peristiwa

Dukung Percepatan Vaksinasi, Sub BMPD Jateng – Solo Bantu 100.000 Kartu Vaksin
Rumah TKP pembunuhan Budi Utomo (43) di Kampung Kuncen, Wirobrajan Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Peristiwa

Budi Utomo Tewas Ditikam Pisau Saat Sedang Leyeh-leyeh di Ruang Tamu
Para korban erupsi Gunung Semeru ditangani di salah satu fasilitas kesehatan setempat. Dinas Kesehatan Jawa Timur berkoordinasi dengan Dinkes Lumajang dan Malang untuk menyiagakan kebutuhan dalam penanganan korban erupsi Gunung Semeru. (Foto: MC Diskominfo Prov Jatim)

Peristiwa

Dinkes Jatim Siagakan Kebutuhan Kesehatan Korban Erupsi Gunung Semeru
Duta Anak Kota, menumbuhkan kreativitas baru anak-anak di Kota Yogyakarta dimasa pandemi. (Foto:Humas Pemkot Yogya)

Peristiwa

Duta Anak Kota Yogya Siap Berkarya dalam Kondisi Apapun
Kejaksaan Negeri Temanggung menetapkan Desa Pandemulyo, Kecamatan Bulu menjadi Kampung Restorasi Justice (RJ) Desa Tentrem Adhyaksa Temanggung. (Foto: MC.TMG)

Peristiwa

Desa Pandemulyo Jadi Pilot Project Kampung Restorasi Justice di Temanggung