Home / Wisata

Selasa, 25 Oktober 2022 - 14:04 WIB

Kunjungi Museum Benteng Vredeburg, Wapres: Museum Sarana Pendidikan Karakter Generasi Muda

Foto: BPMI Setwapres

Foto: BPMI Setwapres

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Mengawali aktivitas di hari kedua kunjungan kerja ke Daerah Istimewa Yogyakarta, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin beserta Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin menyempatkan diri mengunjungi Museum Benteng Vredeburg di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta, Selasa (25/10/2022) pagi.

Sembari berolahraga jalan santai, Wapres dan Ibu Wury ditemani Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Suharja, berkeliling area benteng seluas kurang lebih 46.574 m persegi itu.

Tidak hanya berkeliling di area luar benteng, Wapres dan Ibu Wury juga masuk ke dua Ruang Diorama yang menampilkan cerita sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan di wilayah Yogyakarta.

Foto: BPMI Setwapres

Dengan antusias, Wapres dan Ibu Wury mendengarkan penjelasan Suharja mengenai gedung serta berbagai cagar budaya dan diorama yang terlihat dikelola dengan sangat baik.

Menurut penuturan Suharja, Wapres sangat mengapresiasi kehadiran museum sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda.

“Alhamdulillah beliau sangat care terhadap peran museum karena beliau berkenan berkunjung ke Benteng Vredeburg Yogyakarta dan mengapresiasi Museum sebagai (sarana) pendidikan karakter bagi generasi muda,” ungkapnya.

Sebab, sambung Suharja, tata pameran yang ditampilkan di Museum Benteng Vredeburg menurut Wapres benar-benar menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia di Yogyakarta sejak zaman Sultan Hamengku Buwono I hingga saat ini.

Baca juga   Pemkot Minta Akses Masuk Kampung Zona Merah Dibatasi

Hal ini pun salah satunya menyebabkan Kota Yogyakarta mendapat predikat sebagai Kota Perjuangan.

Foto: BPMI Setwapres

“Tentu Kami sangat senang, sangat bangga atas apresiasi dari Pak Wapres,” tuturnya.

Lebih jauh, Suharja menceritakan bahwa Museum Benteng Vredeburg yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi ini, pada 2019 dinobatkan sebagai pengelolaan museum terbaik di Indonesia.

“Kemudian komunitas atau ekosistem kemajuan kebudayaan (di sini) sudah benar-benar hidup karena ada pengakuan dari pemerintah, ada pengakuan dari pemangku kepentingan,” tambahnya.

Kedepan, Suharja berharap masyarakat akan terus memanfaatkan Museum Benteng Vredeburg sebagai ruang inklusif untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.

“Karena kita bangsa Indonesia itu, generasi mudanya harus tetap mengakar pada identitas dan karakter pendiri budaya Indonesia,” pungkasnya.

Foto: BPMI Setwapres

Sebagai informasi, dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Benteng Vredeburg merupakan salah satu bangunan yang menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di Yogyakarta semenjak pemerintah kolonial Belanda masuk ke Yogyakarta.

Berdirinya benteng Vredeburg di Yogyakarta tidak lepas dari lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Keraton Kasultanan Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755.

Baca juga   Banyak yang Belum Tau, Sejarah Malioboro, Sebagai Bagian dari Sangkan Paraning Dumadi

Kemudian Benteng Vredeburg dibangun sejak 1760 hingga 1787 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan keraton dan sekitarnya.

Namun, dibalik dalih tersebut, ternyata Belanda mempunyai maksud tersendiri untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam keraton.

Seiring berjalannya waktu, Benteng Vredeburg terus merekam peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota Yogyakata.

Salah satunya pada masa penjajahan Inggris 1811-1816, benteng ini dikuasai oleh pemerintah Inggris di bawah penguasaan John Crawfurd atas perintah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.

Pada masa penguasaan Inggris, terjadi peristiwa penting di Benteng Vredeburg yaitu terjadinya penyerangan serdadu Inggris dan kekuatan-kekuatan pribumi ke Keraton Yogyakarta pada 18 sampai 20 Juni 1812 yang dikenal dengan peristiwa Geger Sepoy.

Catatan sejarah lainnya, pada 5 Maret 1942, ketika Jepang menguasai Kota Yogyakarta, benteng ini diambil alih oleh tentara Jepang.

Beberapa bangunan di Benteng Vredeburg digunakan sebagai tempat tawanan orang Belanda dan orang Indonesia yang melawan Jepang.

Benteng Vredeburg digunakan pula sebagai markas Kempetei dan juga sebagai gudang senjata serta amunisi tentara Jepang.

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Kabupaten Semarang Carnival 2022 digelar di Lokawisata Bukit Cinta, Banyubiru, Selasa (22/3/2022). (Foto: Diskominfo Kab Semarang)

Wisata

Kabupaten Semarang Carnival 2022 Tandai Kebangkitan Pariwisata
Menparekraf Sandiaga Uno. Foto: InfoPublik/ Ryiadhy Budhy Nugraha

Wisata

Sandiaga Uno: KTT G20 Dukung Pencapaian Target 3,6 Juta Wisman ke Indonesia
Sandiaga Uno saat visitasi ke Desa Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur yang masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik di Ajang Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. (Foto: Biro Komunikasi Kemenparekraf)

Wisata

Pesona dan Budaya Desa Wisata Wae Rebo Pukau Menparekraf
Sidekah Kupat sudah menjadi tradisi masyarakat Dayeuhluhur Cilacap. Foto: Diskominfo Jateng

Wisata

Sidekah Kupat, Jejak Tetirah Rohani Para Raja Pasundan di Dayeuhluhur
Hajad Dalem Sekaten 2022 Kembali Digelar Keraton Jogja. Foto: Dok.MC Kraton Jogja

Wisata

Hajad Dalem Sekaten 2022 Kembali Digelar Keraton Jogja, Ini Jadwal dan Agendanya
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming meninjau progres proyek revitalisasi koridor Ngarsopuro Solo. Foto: Humas Pemkot Yogya

Wisata

Ingin Seperti Malioboro, Proyek Revitalisasi Koridor Ngarsopuro Solo Rampung Akhir Tahun Ini
Tradisi sebar apem Ya Qowiyyu di Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom bakal kembali digelar, pekan depan. Foto: Diskominfo Klaten

Wisata

Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu Jatinom Digelar, Ini Hari dan Tanggalnya Lur
'Fahrudin Sapu' kini tak melulu membuat sapu lantai. Produk hiasan pun menjadi andalan. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemkab Magelang)

Wisata

Turun Temurun Bikin Sapu Lantai, Fahrudin Sukses Kembangkan Produk Kerajinan Seni