Home / Panggung

Minggu, 31 Oktober 2021 - 16:45 WIB

Launching MayinArt Gallery, 22 Perupa Pameran “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja”

Seorang pengunjung melihat salah satu karya lukisan yang dipamerkan di MayinArt Gallery. Pameran bertajuk “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” berlangsung 31 Oktober – 30 November 2021. (Foto: Agoes Jumianto)

Seorang pengunjung melihat salah satu karya lukisan yang dipamerkan di MayinArt Gallery. Pameran bertajuk “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” berlangsung 31 Oktober – 30 November 2021. (Foto: Agoes Jumianto)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Pameran bertajuk “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” menandai dibukanya MayinArt Gallery di Yogyakarta (Indonesia). Sebanyak 22 seniman terpilih dengan berbagai gaya seni mulai realisme, surialisme, hiperealisme, abstrak, ekspresionisme, hingga karya instalasi 3 dimensi disuguhkan dalam pameran ini.

Pameran “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” digelar di MayinArt, Perum Sonosewu Baru 446 Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul 31 Oktober sampai 30 November 2021. Dibuka untuk umum setiap hari pukul 09.00 sampai 20.00 WIB.

MayinArt Galleru sendiri adalah sebuah platform kurasi online yang berbasis di Singapura, yang kini hadir di Indonesia dan berkomitmen untuk membawa harapan bagi seniman Indonesia. Terlebih di tengah masa sulit pandemi Covid-19.

Dijelaskan Deti Lucara, dari MayinArt Gallery, sejak Covid-19 melanda dan mengguncang pasar seni internasional, banyak galeri seni di seluruh dunia terpaksa gulung tikar. Namun MayinArt justru eksis dan tetap berdedikasi secara rutin menggelar pameran fisik dan online untuk mendukung seniman.

Lukisan berjudul “Fish Season” media acrilic di atas kanvas (185 cm x 195 cm), karya Klowor yang dipamerkan di MayinArt Gallery. (Foto: Agoes Jumianto)

“Dan sekarang dengan dibukanya MayinArt di Indonesia dan kebetulan berada di Yogyakarta menjadi harapan baru bagi para seniman untuk mempromosikan karyanya,” terang Deti Lucara dalam jumpa pers yang digelar menjelang pembukaan pameran, Minggu (31/10/2021) siang.

Dijelaskan Deti, MayinArt memiliki peran strategis dalam mempromosikan karya seni seniman Indonesia. Singapura adalah pusat seni penting di Asia dan kedekatan geografisnya dengan Indonesia menjadikannya pintu gerbang utama bagi seniman Indonesia untuk tampil di kancah seni internasional.

Meskipun merupakan galeri berbasis online, sejak tahun 2018, MayinArt secara konsisten mengadakan pameran fisik dan mengikuti berbagai pameran seni di Singapura maupun negara lain seperti Filipina, New York dan lain-lain.

MayinArt bukan sekadar marketplace, melainkan sebuah platform online yang dikurasi untuk karya seni original. Tujuan utama MayinArt adalah menemukan seniman dengan bakat seni mereka yang belum banyak diungkap, memberdayakan mereka dan kemudian membawa karya seni berkualitas tinggi mereka kepada kolektor di seluruh dunia dengan harga terjangkau.

Baca juga   FK Metra Boyolali Tutup Gelaran Pentas Seni Tradisional Virtual

“Proses kurasi tidak terbatas pada pemilihan seniman dan karya seni, tetapi juga menangkap emosi dan perasaan kreatif seniman sambil membangun konten untuk detail karya seni yang kami sajikan di situs web kami. Ini membuka jalan untuk hubungan yang lebih dalam dengan setiap seniman yang bergabung, atau dengan kata lain, MayinArt tidak hanya mengkurasi karya seni tetapi juga membangun hubungan dengan seniman,” papar Deti.

Sementara itu, pendiri MayinArt Gallery, Krish Datta, dalam rilisnya menjelaskan, MayinArt adalah platform e-commerce yang berpengalaman.

Lukisan berjudul “Universe Follows” media oil on canvas (100 cm x 100 cm) karya Reza Prastica Hasibuan yang dipamerkan di MayinArt Gallery. (Foto: Agoes Jumianto)

“Kami dengan hati-hati memilih seniman dan karya mereka. Tidak semua seniman yang mengirimkan lamarannya diterima. Bahkan dengan seniman yang sudah bergabung dengan kami, kami memilih karya yang ingin kami bawa dan memberikan feedback dari kolektor kami kepada seniman untuk mengembangkan bakat dan teknik mereka. Tujuan kami adalah untuk menggali bakat asli dan unik seniman yang kesulitan menemukan eksposur untuk karya-karya mereka,” kata Krish Datta.

MayinArt memiliki tim kurator lokal dan fasilitas manajemen seni di negara-negara yang menjadi fokus mereka. MayinArt membuat seluruh proses dari proses berkarya, kurasi hingga penjualan, transparan, efisien dan adil.

“Dunia online telah memberikan kesempatan untuk demokratisasi seni dan memperluas kesempatan yang sama bagi seniman di seluruh dunia. MayinArt juga berupaya untuk mengkurasi seniman dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Kami tidak hanya fokus pada beberapa artis terkenal. Kami memberikan perlakuan yang sama untuk seniman muda dan kurang terkenal dan menfasilitasi mereka melalui berbagai cara untuk promosi di luar negeri,” imbuh Krish Datta.

Ditambahkan Krish Datta, Mayinart saat ini memiliki basis kolektor yang kuat, kehadiran online yang berkembang, tim teknologi dan pemasaran, kurator khusus, dan tim pendukung lainnya di 3 negara. MayinArt akan segera menjadi pemain penting di pasar seni yang sedang berkembang di Asia Selatan.

Baca juga   "Ojo Nangis" Ndarboy Genk Raih AMI Awards 2021, Berikut Daftar Lengkap Pemenangnya

Sedangkan di pameran bertajuk “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” yang merupakan bagian dari peluncuran galeri MayinArt di Yogyakarta, Indonesia, menghadirkan 22 seniman terpilih seperti AT Sitompul, Budi Ubrux, Choerudin Roadyn, Deddy PAW, Elisa Faustina, Fatoni Makurodi, Fery Eka Chandra, Giring Prihayatsono, Heri Cahyono, Hono Sun, Husin Hasibuan, Irwanto Lentho, Januri, Joko Sulistyono, Kadek Marta Dwipayana, Klowor Waldiono, Mulyo Gunarso, Reza Prastica Hasibuan, Sigit Raharjo, Sri Pramono, Suryo, Tofan Mohammad Siregar.

Pameran bertajuk “If Walls Could Speak #2 – Seri Jogja” yang digelar MayinArt Gallery berlangsung 31 Oktober – 30 November 2021. (Foto: Agoes Jumianto)

“Selain itu, kami juga memiliki Ugo Untoro dan kawan-kawan dengan kelompok seni eksperimental mereka yang disebut “The Art of Choosing” yang akan mempresentasikan karya instalasi kolaboratif mereka,” terang Krish Datta.

Demi menemukan seniman dan karya berkualitas, MayinArt memiliki tim kurator lokal dan fasilitas manajemen seni di negara-negara yang menjadi fokus mereka.
MayinArt membuat seluruh proses dari proses berkarya, kurasi hingga penjualan, transparan, efisien dan adil.

“Dunia online telah memberikan kesempatan untuk demokratisasi seni dan memperluas kesempatan yang sama bagi seniman di seluruh dunia. MayinArt juga berupaya untuk mengkurasi seniman dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Kami tidak hanya fokus pada beberapa artis terkenal. Kami memberikan perlakuan yang sama untuk seniman muda dan kurang terkenal dan menfasilitasi mereka melalui berbagai cara untuk promosi di luar negeri,” pungkas Krish Datta.

Kebutuhan untuk promosi online sudah jelas karena tujuannya adalah untuk menjangkau pasar global, membangun demand pada karya seni Indonesia dan yang paling penting untuk mencapai tujuan ini dengan transparansi, biaya yang lebih rendah dan efisiensi.

Setelah sejumlah besar seniman dan karya seni dikuratori, MayinArt pertama kali online pada tahun 2018 dan sejak itu berfokus pada target baru untuk memperluas pilihan dan basis pembeli, sehingga menciptakan lebih banyak peluang bagi seniman Indonesia. (Aja)

Share :

Baca Juga

Baskarabumi Haidar Alif Jadaa dan karyanya di ajang 2st International Virtual Digital Art Exhibition. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Panggung

Baskarabumi Ikuti 2st International Virtual Digital Art Exhibition
Tjongpick kembali hadir lewat lagu baru berjudul Ngatidjem. (Foto: dokumentasi)

Panggung

TKW Masih Jadi Isu Menarik, Kelompok Musik Tjongpick Rilis Lagu Ngatidjem

Panggung

Edi Sunaryo, Gunawan Bonaventura, dan Irwanto Lentho Pameran Seni Grafis “Ratimaya – Bayangan Keindahan”
Pengunjung pameran seni rupa “Roots < > Routes” Biennale Jogja XVI Equator #6 2021. (Foto: Dokumentasi Yayasan Biennale Yogyakarta)

Panggung

Ragam Tema Pameran Seni Rupa Biennale Jogja XVI Equator #6 2021
Rojanah dalam video lagu 'Cerita Tresno'. (Foto: YouTube Rojanah Arinda Wae)

Panggung

Rojanah Rilis Single ‘Cerita Tresno’ yang Bikin Baper
Penampilan Noto dan Swingayogya di Panggung Bregas Ngayogjazz 2021 “Tetep Ngejazz Lan Waspada”. (Foto: Agoes Jumianto)

Panggung

Ngayogjazz 2021, Kemeriahan di Tengah Kewaspadaan
Azwar AN. (Foto: Istimewa)

Panggung

Azwar AN, Aktor dan Penggagas Berdirinya PAKYO Meninggal Dunia

Panggung

Rangga Aputra Pameran Tunggal “Artefact of Random Memories” di Galeri R.J. Katamsi