Home / Wisata

Selasa, 19 April 2022 - 17:26 WIB

Masjid Laweyan, Bukti Akulturasi Hindu-Islam di Solo

NYATANYA.COM, Surakarta – Masjid Laweyan merupakan salah satu masjid bersejarah sekaligus masjid tertua di Kota Solo. Masjid ini sudah berdiri lebih dulu dari Masjid Agung Surakarta.

Masjid Laweyan dibangun pada masa Kerajaan Pajang sekitar tahun 1546.

Nama Laweyan diambil dari nama daerah tempat masjid ini berdiri, Jalan Liris I, Pajang, Laweyan. Selain nama Masjid Laweyan, masyarakat Solo juga kerap menyebutnya dengan nama Masjid Ki Ageng Henis.

Menurut sejarah, tercatat ada seorang pemuka agama Hindu bernama Ki Beluk yang membangun sebuah pura di pinggir Kabanaran, sungai yang digunakan sebagai lalu lintas perdagangan batik.

Baca juga   Jaburan, Tradisi Ramadan yang Masih Eksis Hingga Sekarang

Sebagai pemuka agama Ki Beluk memiliki banyak murid. Ia menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Henis, salah satu penasehat Kerajaan Pajang pada masa Sultan Hadiwijaya.

Ki Beluk dan Ki Ageng Henis sering berdiskusi seputar Islam hingga akhirnya Ki Beluk tertarik untuk memeluk Islam bersama dengan murid-muridnya berkat dakwah Ki Ageng Henis.

Usai memeluk Islam Ki Beluk pun kemudian mewakafkan tempat peribadatan tersebut untuk menjadi masjid. Konstruksinya yang menyerupai Pura menjadi daya tarik masjid ini.

Baca juga   Bus Trans Jateng Pangkas Biaya Transportasi Buruh di Jateng, Tahun Depan Buka Rute Solo-Wonogiri

Arsitekturnya unik, ditambah dua belas pilar utama dari kayu jati kuno masih kokoh berdiri. Makam Ki Ageng Henis dan kerabat kerajaan berada di kawasan masjid ini.

Masjid Laweyan berdiri di atas lahan seluas 162 meter persegi dengan kondisi yang terawat. Hingga saat ini Masjid Laweyan masih digunakan sesuai fungsi masjid pada umumnya.

(*)

Share :

Baca Juga

Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr.(H.C.) K.H. Ma’ruf Amin dalam kunjungan kerja ke kawasan Borobudur, Kamis (21/4/2022). Foto: Dok.TWC

Wisata

Libur Lebaran 2022, TWC Borobudur Pastikan Kesiapan Sambut Wisatawan
Begini sensasi sarapan romantis di depan air terjun Dlundung Mojokerto. (Foto:istimewa/selalu.id)

Wisata

Sensasi Sarapan Romantis di Depan Air Terjun Dlundung Mojokerto, Mau?
(Foto:Dokumentasi/Humas Pemda DIY)

Wisata

Banyak yang Belum Tau, Sejarah Malioboro, Sebagai Bagian dari Sangkan Paraning Dumadi
Pak Wardiman biasa menjajakan dagangannya di Jalan Ipda Tut Harsono, atau lebih tepatnya di timur Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogya. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Wisata

Menikmati Kupat Tahu Racikkan Pak Wardiman yang Khas Yogya, Seporsi Cuma Rp8 Ribu
Pasiraman Umbul Binangun yang berada di kompleks Tamansari. (Foto: kratonjogja.id)

Wisata

Wisatawan Ngeluh Tarif Mahal Motret di Tamansari, Begini Jawaban Kraton Jogja
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno mengunjungi sentra industri jamu gendong di Padukuhan Gesikan, Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (14/1/2022). (Foto: Humas Sleman)

Wisata

Menparekraf Sandiaga Uno Kunjungi Sentra Industri Jamu Gendong Gesikan Sleman

Wisata

Semarak Event Ambarrukmo Volcano Run 2023 Dihadiri Danrem Pamungkas
Ilustrasi, dari 42 paket (2020-2022) kegiatan di kawasan Borobudur, saat ini terdapat 25 kegiatan yang telah selesai, 16 kegiatan tengah berlangsung (on going) dan 1 kegiatan dalam persiapan. Foto: Dok. Kementerian PUPR

Wisata

Ini yang Dilakukan Kementerian PUPR dengan Rp2,27 Triliun Percantik Kawasan Borobudur