Home / Wisata

Kamis, 17 Februari 2022 - 10:06 WIB

Mengenal Tembok Baluwarti Penjaga Keraton Ngayogyakarta

(Foto: Humas Pemda DIY)

(Foto: Humas Pemda DIY)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi Keraton yang masih ada dan berkembang sampai saat ini. Keraton mampu mengikuti perkembangan jaman dengan tetap mempertahankan budaya leluhur.

Meskipun sudah banyak yang berubah, kita masih bisa melihat banyak bangunan yang bernilai sejarah. Salah satunya tembok pertahanan yang mengelilingi komplek Keraton.

Jika diurutkan dari luar, tembok pertama yang mengelilingi komplek Keraton bernama Baluwarti. Tembok ini melingkupi area kedhaton, tempat tinggal kerabat Sultan dan rumah-rumah Abdi Dalem.

Kawasan di dalam Baluwarti juga disebut dengan Jeron Benteng. Kawasan Jeron Benteng saat ini adalah kawasan permukiman yang secara administratif merupakan wilayah Kecamatan Kraton.

(Foto: Humas Pemda DIY)

Tembok kedua adalah Cepuri, khusus melingkupi area kedhaton atau Keraton tempat tinggal Sultan dan keluarganya.

Kawasan kecamatan Kraton ini merupakan kawasan cagar budaya, menurut keputusan Gubernur DIY No 186/KEP/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya.

Tembok Baluwarti ini didesain oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan mulai dibangun sekitar tahun 1755-1792.

Seorang peneliti sejarah Asia Tenggara, Denys Lombard menyatakan bahwa Baluwarti merupakan kata serapan dari Bahasa Portugis. Kata benteng dalam Bahasa Portugis adalah Baluarte.

Hipotesis ini diperkuat dengan fakta bahwa tembok Baluwarti dibangun bersamaan dengan pembangunan Tamansari yang dirancang oleh arsitek yang berasal dari Portugis.

Baca juga   Festival Langensari, Upaya Pemkot Yogya Kenalkan Langensari kepada Khalayak

Pembangunan benteng dipimpin oleh R. Rangga Prawirasentika, Bupati Madiun, yang kemudian dilanjutkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, yang di kemudian hari bertahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Desain benteng Keraton Yogyakarta berbeda dibanding benteng-benteng kerajaan Mataram Islam sebelumnya, terutama tampak pada gerbang-gerbangnya.

Modelnya mirip dengan benteng-benteng Eropa, kemungkinan besar benteng keraton meniru sistem perbentengan Belanda di Batavia yang sempat diamati oleh patih kadipaten, Mas Tumenggung Wiroguno, selama kunjungannya ke sana pada awal 1780-an.

Benteng Keraton diperkuat kembali pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Pembangunan Kembali ini dilakukan karena Sri Sultan memprediksi akan kembali terjadi peperangan dengan Belanda.

Sultan kemudian memanfaatkan kehadiran rombongan pekerja yang datang saat acara Garebeg Puasa untuk memperkuat pertahanan keraton. Pada 13 November 1809, keempat sudut benteng dibuat menonjol keluar.

(Foto: Humas Pemda DIY)

Keempat sudut benteng ditambah dengan bangunan baru sehingga berwujud segi lima. Pada ketiga sudut yang menjorok keluar diberi semacam sangkar sebagai tempat penjagaan disebut bastion. Bentuknya seperti tabung dengan lubang-lubang kecil untuk mengintai.

Pada dinding antar bastion diberi longkangan sebanyak sepuluh buah sebagai tempat memasang meriam. Bangunan baru itu disebut juga sebagai Tulak Bala, kini lebih dikenal dengan sebutan Pojok Beteng, atau kadang disingkat sebagai Jokteng.

Baca juga   Pemkot Yogya Akan Tambah TPST untuk Kurangi Sampah, Ini Lokasinya

Beteng Baluwarti memiliki 5 grebang atau disebut juga plengkung. Kelima plengkung yang mengelilingi benteng itu adalah Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem di sebelah barat laut, Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing di sebelah selatan, dan Plengkung Madyasura atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur.

Plengkung Madyasura kadang disebut juga sebagai Plengkung Tambakbaya. Sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bowono VIII ini pula plengkung tidak pernah lagi ditutup. Bahkan demi memperlancar lalu lintas, Plengkung Jagasura dan Plengkung Jagabaya dirombak menjadi gapura terbuka.

Dari lima buah plengkung, hanya tersisa dua yang masih utuh berbentuk gerbang melengkung, yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan dan Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing.

Bangunan Tulak Bala yang masih utuh adalah Pojok Beteng Wetan (tenggara), Pojok Beteng Kulon (barat daya), dan Pojok Beteng Lor (barat laut).

Sisa tembok benteng yang masih utuh hanya dari Plengkung Gading ke timur sampai dengan Pojok Beteng Wetan. Persis di sebelah timur Pojok Beteng Kulon, dibuka jalan lengkap dengan lampu pengatur lalu lintas sehingga pintu keluar masuk benteng bertambah. Sisa tembok Baluwarti masih bisa dilihat hingga saat ini.

(*/N1)

Humas Pemda DIY

Share :

Baca Juga

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengapresiasi Kementerian PUPR atas selesainya pembangunan Concourse atau jalan menuju Candi Borobudur. (Foto: humas/beritamagelang)

Wisata

Wisatawan Wajib Tau, Naik Candi Borobudur Harus Pakai Sandal Upanat
Wahana wisata edukasi Taman Pintar Yogyakarta yang terletak di Jalan Panembahan Senopati Yogyakarta, mulai Rabu 20 Oktober 2021 telah kembali dibuka. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Wisata

Taman Pintar Dibuka Kembali, Ini Ketentuannya yang Harus Dipatuhi Pengunjung
Kegiatan pendampingan Bidang Kompetensi Management Pengelolaan Wisata dan Bidang kompetensi pemandu wisata di Desa Borobudur. (Foto: humas/beritamagelang)

Wisata

Desa Wisata Borobudur Jadi Magnet Wisatawan
Danang Maharsa saat membuka Desa Wisata Kuliner Pokoh, Kalurahan Banyrejo, Tempel, Minggu (20/3/2022). (Foto:Humas Sleman/Eyv)

Wisata

Wabup Sleman Dorong Pelaku UMKM dan Pengelola Wisata Kuliner Berinovasi Ikuti Perkembangan
Rumah Sakit National Hospital. (Foto: Istimewa/selalu.id)

Wisata

Dongkrak Wisata Medis, Pasien Luar Negeri yang Berobat ke Surabaya Meningkat, Korea Tebanyak
Malioboro dengan wajah baru. Makin bersih dan molek pasca direlokasinya para PKL ke tempat baru di Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Wisata

Makin Molek, Malioboro Masih Menjadi Magnet Wisata Yogya
Seorang warga memegang bagian miniatur kincir air yang dipajang di obyek wisata pemandian air hangat Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Minggu (10/10/2021). Miniatur kincir air dibuat perajin setempat dari bahan bambu dan diminati pengunjung sebagai suvenir dan hiasan rumah dengan harga miniatur kincir air Rp150.000,00/buah. (Foto: MC Kab. Blora/Teguh)

Wisata

Miniatur Kincir Air Jadi Souvenir Apik Wisata Pemandian Air Hangat Nglobo
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama rombongan meninjau pelaksaan renovasi sarana dan prasarana TMII di Jakarta, Selasa (12/7/2022). Foto: Dok. Kementerian PUPR

Wisata

Renovasi Besar-besaran, Taman Mini Indonesia Indah Bakal Punya Wajah Baru