Home / Panggung

Jumat, 6 Agustus 2021 - 22:23 WIB

Menilik Hasrat dan Semangat Berkarya Kartunis Anwar Rosyid

Anwar Rosyid dan salah satu kartun yang pernah dibuatnya. (Foto: dokumentasi pribadi)

Anwar Rosyid dan salah satu kartun yang pernah dibuatnya. (Foto: dokumentasi pribadi)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Nama lengkapnya Anwar Rosyid. Pria kelahiran kota gudang seniman, Yogyakarta ini  sangat santun dan kalem dalam penampilan, sikap maupun bicaranya, bahkan cenderung agak pendiam.

Namun begitu sudah kenal, obrolan bisa berubah menjadi sebuah keasyikan tersendiri. Kadang dalam kekalemannya juga muncul “gojekan” atau humor-humornya yang cukup lucu.

Rosyid, begitu panggilan akrabnya, termasuk salah satu kartunis senior Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), komunitas kartunis tertua di Indonesia.

Lucunya, Rosyid yang pernah kuliah di fakultas Geodesi UPN Veteran Yogyakarta ini justru memilih profesinya menjadi seniman (kartunis). Rosyid mengaku gandrung membuat kartun sudah sejak lama, di era jaya media cetak, sudah banyak karya kartunnya dimuat tersebar di berbagai media.

“Pokoke tetep ngartun,” demikian status WA-nya yang madep mantep tak digantinya sampai hari ini.

Rosyid mengakui tidak merasa punya bakat menggambar apalagi melukis, tetapi karena hasrat dan semangat yang besar untuk belajar secara otodidak, ia merasa bahagia bersemangat dan terus belajar tak jemu-jemu, sampai hari ini.

Dokumentasi kartun Anwar Rosyid yang dibuat tahun 1987. (Foto: dokumentasi pribadi)

Awal tahun 1980-an Rosyid hijrah ke Jakarta dan mulai bergabung menjadi staf artistik di Redaksi Suara Pembaruan Jakarta, di mana banyak kawan-kawan seniornya di situ antara lain seperti  kartunis Pramono, juga ilustrator dan komikus Haryono yang redaktur artistik Suara Pembaruan saat itu.

Baca juga   Kartunis Non-o, Energi Berkaryanya Tak Pernah Padam

Keberadaannya dalam bekerja di lingkungan pers/koran, menjadikan Rosyid banyak belajar dari kawan-kawannya yang lebih senior. Bahkan mulai dipercaya untuk mengisi kartun strip di Suara Pembaruan Minggu dengan tokohnya “Don Meong”, yang muncul sekali seminggu di koran tersebut.

Selain aktif bekerja di lingkurang redaksi, Rosyid ikut membidani lahirnya organisasi Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) bersama Pramono Pramoedjo pada medio 1989 silam.

Setelah sekitar 10 tahun pensiun dari Suara Pembaruan, dan hidup sendiri di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, Rosyid membeli satu rumah lagi untuk dijadikan semacam studio untuk tetap belajar dan berkarya .

Semangat pantang mundur untuk tetap berkarya ini memang perlu diacungi jempol.  Rosyid juga sangat rajin menghadiri pameran-pameran seni rupa di Jakarta bahkan di acara-acara lelang lukisan. Setumpuk katalog pameran ia koleksi sebagai sarana mengulik ilmu seni rupa.

Salah satu lukisan Anwar Rosyid berjudul ‘Ayam Jago’. (Foto: dokumentasi pribadi)

Indikasi dari semangat yang tinggi adalah setiap hari selalu membuat karya sketsa hitam putih dengan media drawing pen di kertas HVS, kalau dikumpulin per-tahunnya mungkin sudah satu rim kertas HVS.

Baca juga   Aksi Duet Seniman Magelang Gelar Prosesi Larung Covid-19

Dari karya sketsa tersebut banyak ditampilkan figur-figur sosok wanita cantik, bahkan juga seksi dengan berbagai gaya. Ketertarikan menghadirkan banyak sosok wanita dalam karya sketsanya, menurut Rosyid bahwa wanita adalah sosok yang mempunyai unsur keindahan, kelembutan bahkan keibuan, ada cinta dan kasih sayang, tak sekedar wujud seksi secara wadah saja.

Kepolosan dan kejujuran garis-garis Rosyid mengalir tak pernah ada rasa canggung. Kepercayaan dirilah yang membuat Rosyid tetap semngat belajar berkarya kartun dan bahkan mulai melukis.

Setelah pensiun memang semangat untuk memulai belajar melukis sangat tinggi. Ada beberapa lukisan dengan medium akrilik di kanvas, seperti “Ayam Jago” dan “Senyuman Sang Bunga Matahari” yang penuh interpretasi arti.

Digambarkan sang bunga matahari yang besar sedang mekar dan selalu senyum diantara beberapa bunga matahari di bawahnya yang kecil-kecil. Ini bisa menjadi sebuah metafora atau pralambang dengan arti yang bisa multiinterpretasi bagi setiap orang yang melihatnya.

Kerendahan hati Rosyid mengiringi semangat dirinya untuk tetap belajar dan belajar sampai hayat dikandung badan.

  • Penulis: Gatot Eko Cahyono, kartunis dan pelaku seni tinggal di Kasongan Bantul

Share :

Baca Juga

Andika Naliputra Wirahardja. (Foto: dokumentasi pribadi)

Panggung

Kesepianku, Single Solo Perdana Andika eks The Titans
Pelukis Borobudur Easting Medi, dengan karyanya yang terinspirasi pohon Bodhi yang ada di komplek Taman Wisata Candi Borobudur. (Foto: Humas/beritamagelang)

Panggung

Pelukis Easting Medi Banyak Terinspirasi Keunikan Daun Bodhi
Koes Hendratmo dan Aprilia Puspitawati (Foto: www.instagram.com/p/B8bs7NpgRpI/)

Panggung

Koes Hendratmo ‘Berpacu Dalam Melodi’ Meninggal Dunia
Penampilan Tari Manggalatama oleh Wahyuning Kuswolo. (Foto: Dokumentasi FKY 2021)

Panggung

Bersama-sama Kita Mulai “Mereka Rekam” FKY 2021
Memasuki area pameran ARTJOG MMXXI kita akan disuguhi karya Marga Pangestu. (Foto: agoes jumianto)

Panggung

ARTJOG MMXXI: Kegelisahan tentang Masa Lalu, Sekarang, dan Masa Depan
Happy Asmara di lagu Lemah Teles. (Foto:nyatanya.com/YouTube Music Interactive)

Panggung

‘Lemah Teles’ Happy Asmara Trending di YouTube
Anggun Pramudita. (Foto:instagram anggunpramudita30)

Panggung

Perlahan Tapi Pasti, Anggun Pramudita Andalkan Single ‘Tumbak Cucukan’
(Diskominfo Kabupaten Boyolali)

Panggung

Diskominfo Boyolali Gelar Pentas Seni Tradisional 13 Hari Berturut