Home / Panggung

Senin, 30 Agustus 2021 - 23:03 WIB

Mural, Grafiti, dan Vandalisme. Sebuah Karya Seni yang Tiada Sekat

(Foto: dokumentasi pensilterbang)

(Foto: dokumentasi pensilterbang)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Beberapa hari terakhir kebebasan ekspresi publik dalam bentuk mural menjadi hangat dipersoalkan. Berawal dari lukisan mural bergambar wajah mirip Jokowi dengan kedua mata ditutup tulisan ‘404:Not found’ yang berujung pelukisnya diburu aparat, dan imbasnya semua mural bernada kritik, satir di banyak sudut kota tiba-tiba dibersihkan aparat, tak terkecuali di Yogyakarta yang notabene gudangnya kreator dan seniman.

Dosen dan pemerhati seni publik, Andi Purnawan Putra SPd.,MSn sontak gelisah melihat fenomena yang terjadi beberapa hari ini. Kepada nyatanya.com, Andi panjang lebar membuka uneg-unegnya.

Andi Purnawan Putra SPd.,MSn. (Foto: dokumentasi pribadi)

“Atas dasar kebebasan berekspresi di area publik seringkali menimbulkan gesekan kepentingan yang berujung pada opini yang berkembang tanpa arah. Peristiwa perebutan kawasan dalam pelampiasan ekspresi sering berujung pada konflik horizontal yang pada akhirnya harus dibayar mahal,” papar Andi membuka perbincangan.

Menurut Andi yang cukup lama bergelut dengan seni mural, fenomena ini terus berulang dan akan terus muncul. Atas nama seni, atas nama kebebasan berekspresi hingga marak penyebutan istilah mural, grafiti, vandal, maupun street art. Semua bercampur aduk seolah tiada pembeda satu sama lainnya.

“Fenomena ini seharusnya dapat dipetakan dalam beberapa hal. Definisi atau istilah, pengertian dan sejarahnya diperlukan untuk dipaparkan secara mudah. Setidaknya dengan berbekal hal tersebut dapat meletakkan permasalahan sosial budaya ini dalam koridor yang mudah untuk dipahami seluruh elemen,” imbuh Andi.

Pengertian mural menurut bahasa yaitu mural berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “Murus” yang berarti dinding. Secara luas pengertian mural adalah menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau media luas lainnya yang bersifat permanen. Teknis yang digunakan pun beragam; penggunaan cat tembok, cat semprot bahkan jaman dulu dengan teknik muzaik dan fresco.

Seni mural sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu kala. Bahkan jika ditilik dari sejarah mural, sudah ada sejak 31.500 tahun yang lalu tepatnya pada masa prasejarah. Pada masa itu terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah gua di Lascaux daerah Selatan Prancis.

Mural yang dibuat pada masa prasejarah tersebut menggunakan sari buah sebagai cat air (karena pada masa prasejarah belum ada cat). Pada masa prasejarah, negara yang paling banyak memiliki lukisan dinding atau mural tidak lain yaitu Prancis.

(Foto: dokumentasi pensilterbang)

Salah satu mural atau lukisan dinding yang paling terkenal pada saat itu adalah mural karya Pablo Picasso. Pablo Picasso membuat sebuah mural yang dinamakan Guernica atau Guernica y Luno. Mural art ini dibuat pada saat terjadinya peristiwa perang sipil di Spanyol pada tahun 1937.

Baca juga   1.126 UKM Yogya Terima Bantuan Produktif Usaha Mikro

Tujuan dibuatnya mural ini untuk memperingati peristiwa pengeboman oleh tentara Jerman yang terjadi di sebuah desa kecil dimana kebanyakan diantara mereka yaitu masyarakat Spanyol.

Dalam perkembangannya sekarang mural seringkali digunakan dalam hal untuk mendekorasi (menghias) sebuah tempat. Baik di sekolahan, di kafe, di gang-gang perkampungan bahkan tidak jarang masuk dalam gedung pemerintahan.

Sedangkan Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) dari bahasa Italia (grafiato) yang berarti goresan. Saat ini pengertian grafiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu.

Pada tahun 1960 ada seorang seniman New York bernama inisial “Taxi 183”, ia selalu menulis dimanapun ia berada. Memberikan sebuah tanda dimana ia telah pernah berada disitu. Hal ini pun juga diikuti oleh anak remaja lainnya untuk memberikan sebuah tanda dengan inisial masing-masing.

“Akan tetapi dalam pengertian saat ini, bombing atau ngebom sering dipakai untuk membuat sebuah sign dengan sebuah tantangan tertentu sehingga membangun kesan kalo pembuatnya menantang resiko saat karya tersebut dibuat; dijembatan, gedung bertingkat yang sulit diakses dan lain-lain,” jabar Andi yang punya bendera Pensilterbang untuk proyek mural yang dikerjakannya.

Street art atau berarti Seni jalanan adalah seni rupa yang dibuat di tempat-tempat publik, biasanya karya seni yang dibuat di luar konteks tempat-tempat seni tradisional.

Istilah tersebut mulai tenar pada masa ledakan seni grafiti pada awal 1980-an dan kemudian diaplikasikan kepada bentuk-bentuk sejenis. Grafiti trensil, seni poster yang ditempel atau seni stiker, dan instalasi jalanan atau pahatan adalah bentuk umum dari seni jalanan modern.

Pada tahun 2000-an, kelompok-kelompok seniman jalanan mulai banyak bermunculan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Mereka lebih banyak berkegiatan pada malam hari untuk menghindari para petugas keamanan.

Para seniman street art menjalankan kegiatan untuk berkarya tidak jauh beda semangatnya dengan seniman pada umumnya. Mempertimbangkan berbagai aspek dan unsur seni rupa sangat diperhitungkan.

Meskipun mereka sadar bahwa karyanya memiliki kemungkinan dihapus, tertutupi oleh poster atau kerya lainnya, bahkan dibongkar. Akan tetapi tidak mengurangi kesungguhan dalam mengeksekusi karyanya.

Baca juga   Walikota se-Indonesia Gowes Bareng Keliling Kota Yogya

“Seniman Indonesia (Yogyakarta) salah satunya Digie Sigit, seorang seniman street art yang sudah mendunia dengan teknik stensilnya untuk mengenalkan budaya lokal nusantara,” imbuh Andi.

Masih menurut Andi Purnawan Putra, sementara vandalisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)” atau “perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.

Istilah vandal ini merujuk kepada suatu sikap kebiasaan yang berasal dari nama bangsa Vandal, pada zaman Romawi Kuno, yang merusak kota Roma secara biadab pada tahun 455.

“Aksi vandalisme yang sering muncul dengan perusakan fasilitas umum baru-baru ini menghebohkan publik. Remaja itu mencoret-coret dinding fasilitas umum dengan simbol dan kata bernada kebencian,” ujar Andi.

(Foto: dokumentasi pensilterbang)

Tentunya ada beberapa alasan yang melatar belakangi kegiatan tersebut. Sebagian untuk menunjukan eksistensi dengan cara menyerang, merusak dan mengancam merupakan perilaku menyimpang.

Di Yogyakarta pada tahun 2003 sebuah gerakan ‘mural sama-sama’ pernah dilaksanakan, merupakan kontribusi seniman mural yang merupakan aset warga kota Yogyakarta untuk turut terlibat ‘mempercantik kotanya’.

Dikelola oleh seorang seniman Samuel Indratma sukses menghadirkan titik-titik tiap sudut kota tampil dengan apik dan khas anak muda. Hal ini menjadi inspirasi untuk diikuti kota-kota lain seluruh Indonesia. Bahkan beberapa kali berkolaborasi dengan seniman asing.

Fenomena ekspresi tak terkendali yang sesekali muncul ini seharusnya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Setidaknya permasalahan sosial yang kurang mendapatkan penanganan cepat dan serius sehingga ledakannya muncul tampa kendali.

Pemerintah hendaknya memiliki kepekaan tinggi dalam melihat ketimpangan sosial di masyarakat. Begitu juga para budayawan terus menjembatani unsur-unsur untuk tetap selaras dalam denyut kehidupan.

Tanpa kecuali masyarakat yang sangat mudah digerakan oleh sebuah ambisi dan sentimen oleh oknum tertentu. Semua menempatkan diri dengan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Niscaya benturan horizontal dapat setidaknya diminimalisir jika belum memungkinkan untuk dihilangkan sepenuhnya.

“Setidaknya dengan memahami seni yang muncul diarea publik akan memberikan refrensi baru untuk pemahaman bahwa tiap karya ternyata memiliki pengertian, fungsi dan sejarah yang berbeda. Sebuah karya seni dimana tiada sekat antara pelaku dan publik bersatu,” pungkas Andi. (Aja)

Share :

Baca Juga

(Infografis: Humas Pemkot Yogya)

Panggung

Ikutan Lomba Vlog Yuk, Berhadiah Jutaan Rupiah
(Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Panggung

Dinas Kebudayaan Gelar Drama Musikal Hanacaraka
Pengunjung melihat display “Pop-Up” Expo yang dihelat di Plaza Ambarrukmo. (Foto: Agoes Jumianto)

Panggung

JFFE 2021 Hadirkan Nilai Kolaborasi Festival Melalui “Pop-Up” Expo
Penampilan Letto membuat ritme Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 menjadi cukup dingin. (Foto: Dok. Rajawali Indonesia)

Panggung

Prambanan Jazz Festival, Bersemi di Tengah Pandemi
Vero Kanaya. (Foto:nyatanya.com/dok.pribadi)

Panggung

Vero Kanaya dan Single ‘Lilo Loro’
Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria secara simbolis menyerahkan penghargaan di ajang JFW 2021. (Foto: PPID DKI Jakarta)

Panggung

Diapresiasi Wagub DKI, Jakarta Film Week 2021 Sukses Digelar
Siti Aisyah Mardhiya Amilia yang akrab disapa Amel. (Foto:nyatanya.com/Instagram melamilia_id)

Panggung

Si Cantik Amel yang Viral Karena Wajahnya Mirip Nike Ardilla
Apsari Barbie. (Foto:nyatanya.com/dokumentasi)

Panggung

Apsari Barbie, Pengidola Via Vallen yang Sudah Rilis 3 Single