Home / Plus

Selasa, 15 Maret 2022 - 17:53 WIB

Nyadran dan Apeman, Tradisi Masyarakat Jelang Puasa Ramadan

Implementasi apeman merujuk pada hikmah “penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadan”, di mana kita diajarkan untuk saling bersedekah. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Implementasi apeman merujuk pada hikmah “penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadan”, di mana kita diajarkan untuk saling bersedekah. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Ruwahan merupakan tradisi dalam menyambut bulan puasa dengan memanjatkan puja dan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Ruwahan berasal dari kata Ruwah yang merupakan nama bulan bulan ke 8 dalam penanggalan Jawa karya Sultan Agung.

Ruwah juga berasal dari bahasa Arab ruh (jamak arwah) yang berarti jiwa atau roh. Sehingga di bulan Ruwah orang Jawa menandainya dengan kegiatan mengingat kematian melalui ziarah kubur dan mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

Ziarah pada bulan Ruwah juga disebut nyadran yang memiliki makna dan filosofi tentang keimanan pada Tuhan, agar dalam hidup ini mereka yang tengah hidup di dunia tetap mengingat tentang asal-usulnya (sangkan paraning dumadi) yang secara biologis adalah dengan cara menghormati dan mendoakan leluhur atau nenek moyang yang menurunkan (melahirkan) kita.

Hal itu disampaikan oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta yang juga Ketua Pokdarwis Kelurahan Kadipaten RM Rahadyan Chandra Ismaya pada Senin (14/3) di nDalem Kaneman, Kraton Yogyakarta.

“Nyadran dalam Islam juga mengingatkan kita pada kematian. Dengan mengingat kematian, maka tindak-tanduk kita akan lebih terarah, kehidupan kita semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Kita tidak berani untuk melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya,” kata Chandra.

Baca juga   Pemkot Luncurkan 60 Event Pariwisata 2023 Lewat Laksmita, 12 Diantaranya Unggulan

Selain nyadran Chandra juga menyampaikan tentang tradisi apeman dimana masyarakat memasak makanan berupa ketan, kolak dan apem yang kemudian disedekahkan dengan cara dibagikan ke tetangga dalam satu lingkungan. Sedekah atau saling berbagi ini selain mengukuhkan tali persaudaraan juga membangun rasa kebersamaan antar warga.

Apeman bisa dilakukan secara pribadi oleh masing-masing keluarga dan bisa juga secara kolektif dengan bergotong royong se-kampung membuat apem secara bersama-sama.

Ketan yang berasal dari kata Khotan dalam bahasa Arab, bermakna kesalahan. Sehingga adanya ketan dalam apeman mengisyaratkan makna permohonan maaf keluarga atas kesalahan para leluhurnya. Selain itu ketan yang lengket merupakan simbol eratnya tali silaturahmi.

Kolak berasal dari khologo dalam bahasa Arab dan dari kata tersebut terbentuk kata kholiq atau khaliq. Sehingga kolak memiliki makna agar didekatkan pada Sang Khaliq.

Baca juga   Pantau Pasien Isoman, Muhammad Alive Ciptakan Gelang 'Laron'

Harapan yang sama juga dimohonkan untuk para leluhur. Kolak yang manis dan bersantan, maksudnya mengajak persaudaraan bisa lebih dewasa dan barokah.

Sedangkan apem berasal Affum atau Alwan dalam bahasa Arab , yang berarti permintaan maaf baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang meninggal. Serta kebulatan tekad untuk memohon perlindungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Implementasi apeman merujuk pada hikmah “penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadan”, di mana kita diajarkan untuk saling bersedekah.

Tradisi ini mengajarkan masyarakatnya untuk selalu berbagi dengan apa yang dimilikinya, mempererat tali silaturrahim, serta memberikan pelajaran indahnya kebersamaan dan kerukunan hidup.

Chandra juga menyampaikan bahwa pada Sabtu (12/3/2022) Kelurahan Kadipaten menggelar Festival Pisungsung Ruwahan Kadipaten ke VIII.

Dalam kegiatan itu setiap kampung membuat apeman yang penilaiannya dilakukan dari mulai masak hingga penyajian dan mengirimkan kesenian untuk meramaikan kegiatan itu. Hasil penilaian apeman dan kesenian dipadukan untuk menentukan juaranya.

(N1)

Share :

Baca Juga

Bupati Jepara Dian Kristiandi Selasa (23/11/2021), datang secara langsung dan melihat ladang sayuran hidroponik milik Nur Kholis di Desa Banjaragung. (Foto:Dian/Diskominfo Jepara)

Plus

Merintis Tanaman Hidroponik, Upaya Kreatif di Masa Pandemi
Kopi Plus saat tampil di Jenggleng Cafe & Resto, Senin (13/6/2022). Foto: Dok.JKPC

Panggung

Kopi Plus Sukses Hibur Koesplusmania di Jenggleng Cafe & Resto
Noken buatan mama-mama Kamoro cukup diminati konsumen. Menurut Emeliana hasil rajutanya lumayan laku selama PON Papua, khususnya di Klaster Mimika. (Foto: Ryiadhy InfoPublik).

Plus

Noken Buatan Mama-mama Kamoro Laris Manis di PON XX Papua
Ilustrasi. Foto: Agoes Jumianto

Plus

Peran Teknologi Digital dalam Pendidikan Seni Guna Menangkal Radikalisme
Komite sekolah SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta saat memperingati Hari Guru. Foto: Ist

Plus

Komite SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta Peringati Hari Guru, Begini Keseruannya
Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pelangi menyulap lahan tidur yang tidak terawat menjadi lahan produktif dengan cara budidaya berbagai tanaman sayuran. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Plus

KTD Pelangi Mendungan Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Sayur
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya membuka penyelenggaraan UKW ke-9 PWI DIY, Jumat (4/11/2022). Foto: Humas Pemkot Yogya

Plus

Sekda Kota Yogya Buka Uji Kompetensi Wartawan ke-9 PWI DIY di Forriz Hotel
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi Eyang Soegijo Saputro di kediamannya di Gondokusuman Yogyakarta Minggu (14/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

Plus

Eyang Soegijo Saputro, Saksi Hidup Lahirnya Hari Kesehatan Nasional