Home / Panggung

Kamis, 16 Juni 2022 - 21:20 WIB

Pelaku Seni Tradisi Harus Mengaktualisasi Diri di Tengah Perkembangan Teknologi Informasi

Sambung Rasa Budaya bertema

Sambung Rasa Budaya bertema "Peran Serta Media dalam Seni Tradisi" yang digelar di Omah Tobong, Sidokarto, Godean Sleman, Kamis (16/6/2022). Foto: Agoes Jumianto

NYATANYA.COM, Sleman – Pelaku seni tradisi saatnya mengaktualisasi diri agar tetap eksis dan bahkan berkembang di tengah derasnya teknologi informasi yang mempengaruhi pola hidup masyarakat modern.

Seni tradisi harus bisa meregenerasi dan menyentuh anak muda sehingga kesenian tradisional tetap hidup dan terus digemari dari generasi ke genasi.

Hal ini terungkap dalam acara Sambung Rasa Budaya bertema “Peran Serta Media dalam Seni Tradisi” yang digelar di Omah Tobong, Sidokarto, Godean Sleman, Kamis (16/6/2022) sore tadi.

Hadir sebagai pembicara Patmi Sugondo, S.Pd (Ketua PasRi DIY), Mediana Pancawati mewakili Direktur TVRI Jogja Johan Setiawanm S.Sos, dan Ketua DPRD DIY Nuryadi, S.Pd yang diwakili staf ahlinya.

Ketua Paguyuban Seni Tradisi (PaSri) DIY, Patmi Sugondo menjelaskan kehadiran PaSri sebagai komunikator dari paguyuban ke agar sanggar-sanggar seni tradisi bisa eksis kembali seperti sebelumnya.

“PaSri bukan saingan paguyuban atau sanggar seni tetapi mitra yang siap mengkomunikasikan keluh kesah paguyuban kepada pemangku kebijakan. Sehingga ke depannya seni tradisi bisa terus eksis dan bahkan bisa go internasional,” terang Patmi.

Ditambahkan Patmi, perkembangkan teknologi dan komunikasi, kehadiran televisi dengan perkembangannya kini dan gadget sedikit banyak berpengaruh pada seni tradisi.

Baca juga   Infografis Layanan Samsat Keliling Sleman Juli 2022

“Kendala di lapangan tidak sedikit sanggar dan paguyuban seni seperti kurang ngudi, kurang belajar, dan kurang mawas diri. Kadang kala sifat legowonya masih kurang, untuk itu marilah kita saling belajar saling mendukung sehingga melahirkan kemajuandi bidang seni tradisi,” imbuh Patmi.

Pada Sambung Rasa Budaya yang dihadiri para perwakilan sanggar dan paguyuban seni tradisi dari 4 kabupaten dan 1 kota di DIY itu terungkap, jika selama ini para pelaku seni tradisi mengaku butuh media dan ruang untuk mengaktualisai.

Butuh ruang pentas dan butuh pendanaan agar bisa terus berproses dan mengasah kemampuannya sehingga layak dijual. Sekalipun di DIY hal tersebut sudah difasilitasi dengan Dana Keistimewaan (Danais), namun tidak sedikit dari mereka yang belum mengetahui caranya untuk bisa memperoleh Danais.

“Meski PaSri tidak menjanjikan untuk bisa memberikan (Danais), tetapi mari kita bersama-sema berjuang melestarikan seni tradisi. Banyak sanggar atau paguyuban seni yang kesulitan mengakses Danais, kami akan mencoba membantu mengkomunikasikannya kepada pemangku kebijakan terkait hal itu,” imbuh Patmi.

Sementara Mediana Pancawati menjelaskan, kehadiran TVRI Jogja sebagai media siaran publik memiliki tujuan memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat serta melestarikan budaya bangsa.

Baca juga   Tiga Orang Tewas Usai Pesta Miras Oplosan di Berbah Sleman, Pasutri Jadi Tersangka

“TVRI Jogja senantiasa mengakomodir kesenian tradisi untuk bisa tampil di layar televisi. Sejumlah acara yang dimiliki TVRI Jogja pun banyak yang mengakomodir hal ini seperti Kethoprak, Obrolan Angkring, Sinden Ngetren, Pendopo Kang Tejo, Canthas, Kuncung Bawuk, dan juga Gladi Kawruh,” beber Mediana.

Persoalan yang ada lagi-lagi soal anggaran. Keterbatasan anggaran yang ada di TVRI Jogja memang tidak bisa mengakomodir semua kesenian tradisional untuk kemudian diproduksi dalam sebuah program siaran.

Namun demikian dijelaskan Mediana, selalu ada jalan keluar untuk mengatasi persoalan-persoalan terkait beaya produksi misalnya melalui kerjasama dengan lembaga atau pun berbagai pihak yang memiliki komitmen sama untuk mengembangkan seni tradisi.

“Salah satunya pernah dilakukan TVRI Jogja dengan program Pangkur Jenggleng yang cukup lama digemari masyarakat pemirsa,” terang Mediana.

Mediana kemudian menaruh harap, kehadiran PaSri bisa menjadi mitra dalam upaya ikut mengembangkan kesenian tradisional ini bisa tampil di TVRI Jogja dalam program-program baru yang nantinya bisa dilahirkan, mengingat potensi seni tradisi di DIY yang cukup besar.

(Aja)

Share :

Baca Juga

Meet & Greet film Nagih Janji Cinta di kompleks SCH. Foto: Ist

Panggung

Meet and Greet Bintang Film “Nagih Janji Cinta”, Ngajak Baper di Tanggal 8 Desember
Proses syuting film pendek “Dusner” karya UKM MM Kine Klub UMY. Foto: Ist

Panggung

‘Dusner’ Juara I Festival Film Pendek Berbahasa Daerah 2022
Ganjar Pranowo dan keluarga saat menonton Prambanan Jazz Festival, Sabtu (2/7/2022). Foto: Humas Jateng

Panggung

Momen Ganjar Nonton Prambanan Jazz Festival, Ada Kerinduan Luar Biasa
Suasana pembukaan Pameran dan Bazar Lukisan. Foto: Istimewa

Panggung

100 Karya Hasil OTS 30 Seniman Dipamerkan di Joglo Kademangan Widarakandhang
Salah satu band yang akan tampil di Kangen Rock saat latihan. Foto: Dok.Panitia

Panggung

Kangen Nge-Rock, Romantisme Musik Rock Lawas Jogja Digelar Senin 20 Maret 2023, Di Sini Tempatnya
Pementasan Opera Kebo Kinul, di Sanggar Mitra Budaya Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol, Senin (23/56/2022). Foto: MC Kab.Sukoharjo

Panggung

Tari Kebo Kinul, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Sukoharjo
Pameran Tunggal perupa muda Rofitasari Rahayu, di lobi gedung utama Mako Polres Gunungkidul, Selasa (23/8/2022). Foto: @polresgunungkidul

Panggung

Perupa Muda Disabilitas Rofitasari Rahayu Gelar Pameran Tunggal di Mako Polres Gunungkidul
Penampilan siswa-siswi SD Negeri Dukuh I Sleman dengan suguhan tari kreasi. (Foto:istimewa)

Panggung

SDN Dukuh I Ikuti Ajang Lomba Mewarnai dan Pentas Kreasi