Home / Buku

Selasa, 12 Maret 2024 - 18:16 WIB

Penulis Mpokgaga Luncurkan Buku Kedua Amigdala: Residu yang Bersemayam

Ega Mpokgaga dan buku barunya. (Dok.Pribadi)

Ega Mpokgaga dan buku barunya. (Dok.Pribadi)

NYATANYA.COM, Jakarta – Setelah sukses dengan buku pertama dari trilogi Amigdala yakni “Amigdala: Perjalanan Merepresi Memori”, penulis Mega Arnidya alias Mpokgaga kembali melanjutkan kisahnya di buku kedua yang resmi diberi tajuk “Amigdala: Residu yang Bersemayam”.

Masih berpusat pada tokoh utama yakni Ishtar Mahendra Sumoprawiro, buku kedua bercerita tentang apa yang pernah dialami, seringkali masih menyisakan residu yang belum selesai, menuntut untuk lekas diselesaikan.

“Banyak dari kita (termasuk saya, tentu saja) masih terus bergumul dengan perasaan bersalah, rasa takut, serta ketidakpercayaan diri dalam membangun sebuah hubungan, baik itu secara internal maupun eksternal,” ungkap Mpokgaga dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/3/2024).

“Di buku kedua ini, semesta Amigdala dengan para tokohnya kembali mencoba memberikan apa-apa saja yang sudah dan hendak mereka lakukan agar bisa segera keluar dari kubangan residu yang tidak senantiasa memberikan kelancaran dalam menghadapi serta menjalani hal-hal yang perlu diselesaikan,” bebernya.

Layaknya semua peristiwa yang dialami manusia pasti meninggalkan jejak atau remah-remah yang menyusup di setiap lekukan labirin otak dan hati.

Baca juga   Meski Pandemi, KBRI Beijing Terus Lakukan Diplomasi

Mpokgaga mengajak para pembaca memasuki lembaran hidup tokoh Ishtar lebih dalam lewat berbagai perjalanannya melintasi kota hingga negara.

Tokoh-tokoh baru ataupun tokoh yang pernah bersinggungan dengan kehidupan Ishtar akan dipertemukan dan memicu berbagai ingatan, rasa, serta reaksi yang mendalam.

Sama seperti buku sebelumnya, penulis Mpokgaga menggali berbagai referensi baik dari pengalaman pribadi hingga teman terdekat sebagai materi untuk mengembangkan premis di buku kedua ini.

Ia pun tidak memungkiri harus kembali menghidupkan kenangan menyakitkan yang membuat hatinya ‘bergetar’ ataupun ‘ngilu’ sebelum memulai menuangkannya lewat paragraf demi paragraf di buku ini.
Ketika selesai, Mpokgaga pun bertekad pula menyelesaikan residu-residu yang tertinggal dalam dirinya demi kebaikan dan masa depan sosok yang juga makan asam garam di dunia advertising & digital marketing tersebut.

Membagikan kisah yang erat kaitannya dengan kesehatan mental, peluncuran buku kedua ini tidak lepas dari buku pertama yang sukses membuat para pembaca ikut merasakan yang Ishtar rasakan.

“Tidak hanya mental, bahkan beberapa pembaca di buku pertama timbul reaksi fisik seperti pusing, mual, muntah, dan bahkan insomnia. Meskipun saya sudah memperingatkan untuk membaca buku ini dalam kondisi mental yang stabil, beberapa pembaca tidak ambil pusing dan kebanyakan berkomentar buku ini GILA,” ujar Mpokgaga.

Baca juga   Dorong Keberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Literasi Terapan, Seru dan Menginspirasi

Tidak mematok ekspektasi dari pembacanya, Mpokgaga mengungkapkan tujuannya dari peluncuran tiga edisi Amigdala esensinya tetaplah sama yakni berbagi cerita.

“Setiap cerita memiliki porsi residu yang saya rasa sama “beratnya”. Ekspektasi tertinggi saya tentang semesta Amigdala hanyalah bagaimana saya tetap bisa membagikan cerita yang sebenar-benarnya, dan siapapun bisa mengalaminya,” tuturnya.

Buku “Amigdala: Residu yang Bersemayam” karya Mpokgaga ini sudah bisa didapatkan dalam bentuk fisik di Shopee dan Tokopedia.

Mega Arnidya atau biasa dikenal sebagai Ega Mpokgaga ataupun Mpokgaga, adalah seorang seorang penyintas kekerasan dalam rumah tangga sekaligus pekerja penuh maupun paruh waktu di industri Advertising & Digital Marketing selama lebih dari 14 tahun.

Ia berkesempatan untuk menetap di Ubud sejak 2021 lalu, dan masih terus belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam melakukan apapun di hidupnya. (N1)

Share :

Baca Juga

Acara Pemberian Penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca di Kabupaten Cilacap Tahun 2021, di Hotel Sindoro, Rabu (24/11/2021). (Foto: Kominfo Cilacap)

Buku

Bangun Budaya Literasi Lewat Taman Bacaan Masyarakat
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Yogyakarta dalam membuat kreasi batik melalui kegiatan Kreasi Literasi Anak, Rabu (6/7/2022) di Halaman Terbuka DPK Kota Yogya. Foto: Humas Pemkot Yogya

Buku

Kreasi Literasi Anak Kenalkan Batik Jumputan
Workshop tenaga perpustakaan yang diikuti oleh seluruh pengelola perpustakaan tingkat SD/MI dan SMP/MTs di Kota Yogyakarta, Selasa (15/11/2022). Foto: Humas Pemkot Yogya

Buku

Pentingnya Standardisasi dan Digitalisasi Perpustakaan Sekolah
Dua guru asal Kabupaten Magelang meluncurkan tiga buku di Balkondes Tuksongo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Rabu (29/12/2021). Buku pertama berjudul Asmaul Husna, buah karya Yuni Dwi Wiratni sedangkan dua buku lainnya berjudul Di Ujung Rindu dan Friendzone yang ditulis oleh Yuniar Widati. (Foto: humas/beritamagelang)

Buku

Bu Guru Yuni Dwi Wiratni dan Yuniar Widati Luncurkan Buku
Vini Indriasari dan bukunya Citra Digital dengan Remote Sensing. (Ilustrasi grafis: nyatanya.com/Foto: dokumentasi Teknosain)

Buku

Data Satelit Bisa Diperoleh Secara Gratis
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang membagikan 53.760 eksemplar buku yang dibagikan kepada 64 SD, yang dinilai minim literasi. (Foto: MC Batang)

Buku

Minim Literasi, Disdikbud Batang Bagikan Puluhan Ribu Buku
Dedet Setiadi (kanan) dalam launching antologi puisi 'Apokalipsa Kata' dalam peringatan HUT ke-10 Sastra Bulan Purnama. (Foto:istimewa)

Buku

10 Tahun Sastra Bulan Purnama, Dedet Setiadi Launching Antologi Puisi ‘Apokalipsa Kata’
(Foto: jakarta-tourism.go.id)

Buku

Kota Jakarta Masuk dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO