Home / Plus

Sabtu, 18 September 2021 - 17:22 WIB

Racik Sewu, Inovasi Jamu Gendongan yang Dikemas Kekinian

Erwin Dianawati menunjukkan jamu serbuk “Racik Sewu”. (Foto: Humas/beritamagelang)

Erwin Dianawati menunjukkan jamu serbuk “Racik Sewu”. (Foto: Humas/beritamagelang)

NYATANYA.COM, Magelang – Selama ini kita kenal minuman herbal tradisional hanya dari penjual jamu gendong yang berkeliling menawarkan dari rumah ke rumah. Namun, kini minum jamu bisa lebih mudah dan menyenangkan.

Seorang penjual jamu asal Muntilan Kabupaten Magelang, Erwin Dianawati meracik jamu dan menjualnya via online, dan ada juga yang dititipkan di sejumlah toko oleh-oleh.

Diana, demikian panggilan akrabnya, dahulu adalah penjual empon-empon di Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang. Pelanggannya adalah para pembuat dan penjual jamu gendong.

Sejak 2019, Diana mencoba membuat jamu seperti yang biasa dijual oleh penjual jamu gendong. Jamu pertama yang dibuatnya adalah beras kencur. Ia menggunakan bahan yang benar-benar asli. Jamu itu kemudian dikemas dalam botol berukuran 250 ml dan dijualnya ke kantor-kantor.

Ternyata peminatnya tinggi. Diawal saja, ia langsung bisa menjual hingga 50 botol. Guna memberikan identitas dan meningkatkan kualitas, perempuan berusia 40 tahun ini memberi merek jamunya “Racik Sewu”.

“Permintaan terus bertambah. Lalu ada yang pesan untuk dibawa pulang. Namun, jamu cair hanya bisa tahan 18 jam. Saya pun berinovasi membuat jamu serbuk agar bisa diseduh sendiri oleh pembeli,” tutur Diana saat ditemui di rumahnya di Ngadiretno, Gang Jambu, Tamanagung, Muntilan.

Baca juga   Candi Borobudur Simulasi Buka Kembali dalam Dua Tahap

Jamu serbuk juga tinggi peminatnya. Kini, Diana bahkan lebih banyak membuat jamu serbuk. Ada empat macam yang dibuatnya, yakni jahe jeruk nipis, kunyit jeruk nipis, jahe kencur dan jahe merah aren. Dalam sebulan ia bisa memproduksi hingga 2.000 bungkus jamu serbuk kemasan 100 gram. Harga jamu per bungkus Rp17.000.

Penjualan jamu kemasan ini dilakukan lewat online maupun berdasarkan pesanan. Sebagian ada yang dititipkan di toko oleh-oleh di Muntilan. Diana dibantu sang suami, Purhadi Ismawanto (40), untuk mengatarkan pesanan jamu-jamunya. Dari promosi online yang dilakukannya, Diana bahkan mendapatkan pesanan untuk memasok jamu serbuk rutin ke rumah makan di Jakarta.

“Yang rutin sekarang membuat jamu serbuk. Kalau longgar waktunya, baru membuat jamu cair, itu pun hanya berdasarkan pesanan,” katanya.

Untuk jamu cair, variannya lebih banyak dan harganya berbeda-beda dengan kemasan 250 ml. Jamu beras kencur dijual Rp7.000, kunir asem Rp7.000, gula asem Rp7.000, jahe jeruk nipis Rp8.000, kunyit jeruk nipis Rp8.000. Ada pula kemasan satu liter yang dijual Rp22.000.

Baca juga   Baznas Bantu 25 UMKM yang Nyaris Gulung Tikar Terdampak Covid-19

Diana membuat jamu kemasan botol seperti minuman ringan selain untuk mencari penghasilan, juga untuk memberikan minuman yang menyehatkan terutama untuk anak-anak.

“Anak-anak kan suka minuman ringan kemasan, apalagi yang berwarna-warni. Nah ini jamu juga berwarna warni dan menyehatkan. Saya ingin mengenalkan lebih luas jamu sebagai minuman ringan sehari-hari,” katanya.

Diana mengungkapkan, ia mulai meracik jamu sendiri karena prihatin terhadap perilaku tidak baik sejumlah penjual jamu gendong.

“Dari obrolan dengan mereka, ada beberapa pembuat jamu yang mencampurkan bahan tambahan seperti pemanis dan pewarna buatan. Dari situ saya prihatin, jamu itu seharusnya menjadi minuman yang menyehatkan,” ungkapnya.

Dari obrolan juga, ia jadi tahu tentang bahan dan cara meracik jamu.

Kini usaha jamu kemasan yang dirintisnya berkembang menjadi salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berkembang di Kabupaten Magelang. (*)

Share :

Baca Juga

Krenova digelar untuk mendorong terbentuknya budaya kreativitas di masyarakat. (Foto: Diskominfo Jateng)

Plus

Jamu Asam Urat Karya Siswa MAN Raih Juara Krenova 2021
Salah satu produk kerajinan berbahan bonggol jagung karya Ranu yang punya nilai jual tinggi. (Foto: Diskominfo Jateng)

Plus

Di Tangan Ranu, Bonggol Jagung Disulap Jadi Kerajinan Cantik
Kelompok Tani Winongo Asri berada di RW 07 Kelurahan Patangpuluhan. (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)

Plus

Klomtan Winongo Asri Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Kampung Sayur
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menerima bibit pohon dari Fahmi Ali dan Lukman, yang berkeliling Indonesia mengkampanyekan menanam pohon. (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)

Plus

Bersepeda Keliling Indonesia, Fahmi dan Lukman Kampanyekan Menanam Pohon
Perajin di Kecamatan Borobudur mengikuti Workshop Pembuatan Sandal Khusus Upanat Borobudur. (Foto:Humas/beritamagelang)

Plus

Cegah Keausan Batu Candi Borobudur, Perajin Dilatih Produksi Sandal Khusus
Misi utama Skanslove Coffee adalah untuk media pembelajaran peserta didik, yang erat kaitannya dengan kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja. (Foto: MC Batang)

Plus

Skanslove Coffee, Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Pelajar
Anggota kelompok Lilin Kecil Club foto bersama ibu-ibu usai pelatihan. (Foto: Agoes Jumianto)

Plus

Begini Cara ‘Lilin Kecil Club’ Berbagi di Tengah Pandemi
Muslih dan porang olahan produksinya. (Foto:Humas/beritamagelang)

Plus

Jauh Sebelum Booming, Muslih Sukses Olah Porang Jadi Bakso dan Rendang