Home / Plus

Sabtu, 7 Agustus 2021 - 05:30 WIB

Sanggar Pawonjogan, Bangun Semangat Berbagi dan Tak Ingin Menyerah dengan Pandemi

Dengan kain ecoprint produksinya, menjadi salah satu penyemangat Sanggar Pawonjogan untuk terus berbagi kepada banyak orang. (Foto: agoes jumianto)

Dengan kain ecoprint produksinya, menjadi salah satu penyemangat Sanggar Pawonjogan untuk terus berbagi kepada banyak orang. (Foto: agoes jumianto)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Siang itu sejumlah ibu sedang asyik menata daun dengan corak dan ragam yang bervariasi. Daun-daun itu ditata sedemikian rupa di atas selembar kain berukuran 115 x 200 cm sehingga membentuk sebuah komposisi yang apik, sesuai kreasi masing-masing.

Rupanya kelompok ibu yang rata-rata sudah berumur diatas kepala 5 itu lagi asyik belajar ecoprint. Sebuah teknik memberi warna dan corak (motif) pada kain dengan menggunakan bahan alami sehingga menghasilkan kain motif yang memiliki nilai seni dan jual tinggi.

Bahan alami yang umum digunakan dalam ecoprint berasal dari tanaman yang meliputi beragam jenis daun, bunga, kayu, atau bagian tanaman lainnya yang memiliki corak tekstur dan warna yang khas.

Itulah yang asyik dilakukan sekelompok ibu Sanggar Pawonjogan di base campnya di Perum Pesona Alam Hijau II, Jalan Jambon, Kricak, Tegalrejo Yogyakarta, Jumat (6/8/2021).

Membuat ecoprint sendiri sejatinya bukan menjadi kegiatan utama bagi komunitas yang dipandegani Listy (inisiator dan koordinator), Harti (Penasihat), Iin (Bendahara), Tika (Humas), Asri, Hardiana, Yesi, Naro, Ibu Jati, dan Agus Sahri (Ketua), serta lebih dari 30 anggota ibu rumah tangga dengan beragam latar belakang, namun memiliki semangat berbagi yang luar biasa.

Ibu-ibu Sanggar Pawonjogan saat workshop membuat ecoprint. (Foto: agoes jumianto)

“Bukan materi yang ingin kami cari. Tetapi bagaimana dengan apa yang kami lakukan ini benar-benar memberi banyak manfaat bagi semua orang,” jelas Listy kepada nyatanya.com yang berkesempatan ikut belajar ecoprint.

Dengan semangat budhal seneng bali seneng (datang senang, pulang juga senang), yang menjadi motto Sanggar Pawonjogan membuat para anggotanya makin los melakukan semangat berbagi, tanpa pamrih, dan bahkan tanpa itung-itungan.

Baca juga   Jumat Berkah, Komunitas Mutiara Berbagi untuk Kaum Duafa

Salah satunya melalui kelas ecoprint yang bergiat siang itu. Ternyata bukan saja menghasilkan karya yang bisa dinikmati sendiri tetapi juga memiliki nilai jual yang sangat membantu ekonomi rumah tangga sekaligus dijadikannya modal untuk terus menerus berbagi.

Soal harga, ternyata menjanjikan juga. Tidak sedikit ecoprint karya ibu-ibu Sanggar Pawonjogan ini bisa laku diatas Rp1 juta/ lembar-nya yang ditawarkan melalui media sosial mereka.

Sanggar Pawonjogan usai pentas musik angklung dalam sebuah event. (Foto: dokumentasi pawonjogan)

“Berbagi bukan berarti melulu dalam bentuk materi, bagi kami justru pemberdayaan masyarakat menjadi fokus yang perlu kami bantu bina dan lakukan. Misalnya bagaimana kami memberi pelatihan kepada ibu-ibu di daerah sehingga dengan demikian mampu meningkatkan perekonomian mereka,” terang Listy.

Sanggar Pawonjogan terus mengembangkan kreativitasnya. Tak melulu ecoprint, mereka juga membuka kelas belajar melukis, membuat shibori (kain batik asal Jepang), bermain gamelan, seruling nusantara, angklung dan aktivitas lain yang muaranya pada pemberdayaan masyarakat.

Sanggar Pawonjogan juga memberikan kelas anak-anak untuk belajar ecoprint, shibori dan kreativitas lainnya. (Foto: dokumentasi pawonjogan)

Di tengah masih terjadinya pandemi Covid-19 saat ini, Sanggar Pawonjogan juga tak ingin mandeg dan menyerah begitu saja.

“Awalnya kami berangkat dari kesenangan bermain angklung dalam sebuah kelompok banyak (100 orang) selalu dipakai saat pentas dimana-mana, begitu tidak main banyak orang, kami tidak lagi dipakai. Dari situ kami melihat, karena kami ini kan termasuk golongan ibu-ibu yang ngga suka konsumtif, sehingga ketika mereka menjual produknya kami memang tidak serta merta membelinya, dari hal-hal kecil itulah akhirnya kami memutuskan untuk bikin sanggar sendiri,” terang Listy menceritakan cikal bakal lahirnya Sanggar Pawonjogan.

Baca juga   Omset Jatuh Selama PPKM, Tri Isnaeni Kembali Bersemangat Dikunjungi Pak Ganjar

Akhirnya terbentuklah Sanggar Pawonjogan, bukan sekadar lahir dan dibentuk. Bukan hanya sekadar nguri-uri budaya, tetapi bagaimana bisa melihat lingkungan sekitar dan memberdayakan. Sehingga orang-orang yang bergabung dengan Sanggar Pawonjogan mendapatkan manfaat dan nilai lebih.

Terlebih setelah Pawonjogan mendapatkan NIK dari Pemkab Sleman, semangat mereka pun semakin besar untuk terus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Meski sadar pandemi menjadi kendala untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, namun Pawonjogan tak mau menyerah begitu saja pada keadaan.

Para ‘pendekar’ Pawonjogan, Ibu Harti (Penasehat), Iin (Bendahara), Tika (Humas), dan Listy (inisiator dan koordinator kegiatan).

“Ada pandemi kita ngga bisa apa-apa. Tapi kita tidak ingin mandeg begitu saja, terus apa yang bisa dilakukan. Kalau berhenti kok lucu wong kami sudah keburu seneng banget jadi akhirnya gali potensi yang dan itu yang kami lahukan. Pandemi itu kan virus, kalau misalkan virus kudu seneng, carane piye yang segala kemampuan yang kita miliki itu kita berdayakan dengan tetap menjalani protokol kesehatan,” beber Listy.

Listy menegaskan, Sanggar Pawonjogan dibentuk memang bukan untuk senang-senang, tetapi juga semangat berbagi menjadi perhatian yang tidak kecil. Pawonjogan pun merangkul anak-anak berkebutuhan khusus (SLB), yang secara fisik memiliki kekurangan tetapi memiliki semangat berjuang untuk hidup. Dan di sini semangat berbagi Pawonjogan juga hadir di tengah-tengah mereka. (Aja)

Share :

Baca Juga

Anak-anak di Desa Nglobo mengekspresikan dukungannya pada atlet Jateng yang berlaga di PON XX Papua dengan menggambar. (Foto: Dokumentasi Sedulur Art Blora)

Plus

Begini Anak-anak Desa Nglobo Dukung Atlet Jateng Berlaga di PON XX Papua
Tri Tunggal mengaku mengembangkan konsep marketing sedekah. Tidak punya tim pemasaran, namun kualitas produk dan kepercayaan pelanggan sangat dijaga, termasuk kebiasaannya yang gemar sedekah. (Foto:Diskominfo Kab Klaten)

Plus

Pensiun Dini, Tri Tunggal Sukses Kembangkan Bisnis Berbasis Marketing Sedekah
Danar dan Pipit menjadi Super Hero agar anak-anak senang dan terhibur di tengah pandemi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Plus

Super Hero Beri Bantuan dan Hibur Anak-anak yang Isoman
Kreativitas warga Balirejo tak berhenti disitu, mereka juga berinovasi dengan hasil panen strawberry. Strawberry tersebut diolah oleh ibu-ibu PKK kampung Muja muju menjadi berbagai camilan. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Plus

Warga Balirejo Sulap Gang Gersang Jadi Kebun Strawberry
Kelompok Tani Winongo Asri berada di RW 07 Kelurahan Patangpuluhan. (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)

Plus

Klomtan Winongo Asri Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Kampung Sayur
Ganjar Pranowo saat mampir ke salah satu toko roti di Pati. (Foto: Humas Jateng)

Plus

Omset Jatuh Selama PPKM, Tri Isnaeni Kembali Bersemangat Dikunjungi Pak Ganjar
Dengan menggarap lahan nganggur menjadi kebun sayur, kelompok tani ibu-ibu PKK Srikandi Desa Jetis Wetan ini berharap dapat menginspirasi masyarakat dalam bidang pertanian. (Foto: Diskominfo Klaten)

Plus

PKK Pedan Hijaukan Tanah Kas Desa dengan Sayuran Organik
Gus Yasin mengapresiasi kreativitas para santri Pondok Pesantren Al Ma’wa Kendal, yang mampu memproduksi berbagai jenis pesawat aeromodeling. (Foto: Humas Jateng)

Plus

Diapresiasi Gus Yasin, Santri Kreatif Ini Produksi Pesawat Aeromodeling