Home / Buku

Senin, 13 Desember 2021 - 16:21 WIB

Sastra Bulan Purnama Bedah Buku Antologi Puisi “Ketika Jatuh Cinta”

S Arimba (kanan) dan Dedet Setiadi (tengah) saat mengupas buku puisi Ketika Jatuh Cinta. (Foto: istimewa)

S Arimba (kanan) dan Dedet Setiadi (tengah) saat mengupas buku puisi Ketika Jatuh Cinta. (Foto: istimewa)

NYATANYA.COM, Bantul – Sastra Bulan Purnama kembali digelar di Pendapa Rumah Budaya Tembi Sewon Bantul, Sabtu (11/12/2021). Dalam acara tersebut menghadirkan pembacaan puisi dan bincang-bincang buku antologi puisi berjudul “Ketika Jatuh Cinta”.

Dalam buku “Ketika Jatuh Cinta” tersebut terdiri dari sekitar 67 puisi hasil karya 22 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. “Dalam pandemi Covid-19 ini kami telah mengejar Sastra Bulan Purnama pada siang hari dan kali ini kegiatan untuk ketigakalinya,” ujar Ons Untoro Koordinator Sastra Bulan Purnama kepada wartawan disela-sela acara.

Hingga saat ini kegiatan Satra Bulan Purnama ke-123 ini sendiri telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Kegiatan ini terbukti menumbuhkan kegiatan bersastra terutama puisi di tambah air khususnya di Yogyakarta.

Baca juga   Saludin Muis, Peraih Rekor MURI Pengarang Buku TI Terbanyak 2021

Sebelum dilakukan bincang buku puisi, beberapa penulis berkesempatan membacakan puisi-puisinya. Tak hanya para sastrawan pembacaan puisi juga dilakukan mantan Bupati Bantul, Hj Sri Suryawidati Idham Samawi.

Sementara dalam bincang-bincang buku antologi puisi Ketika Jatuh Cinta yang dipandu moderator Latief S Nugraha tersebut menghadirkan pembicara S Arimba dan Dedet Setiadi. Tenyata cinta dalam pandangan para penyair memiliki arti yang berbeda.

Seperti diungkapkan S Arimba yang melihat berbagai makna Cinta dari setiap penyair yang memiliki pandangannya masing-masing. Sehingga ia mengaku membahas cinta sangat sulit.Setiap penulis ternyata memiliki penafsiran berbeda.

Menurutnya membahas cinta itu sangat sulit, bagiamana cinta dimaknai penulis. Cinta itu tak sama bentuknya. Apa yang dialami ketika jatuh cinta berbeda-beda,” lanjut Arimba menjelaskan.

Baca juga   Literasi, Faktor Esensial dalam Upaya Membangun Masyarakat Inovatif dan Kreatif

Selain itu apa yang ingin diungkapkan para penulis juga berbeda-beda. “Bahkan ketika kita jatuh cinta yang tidak bisa memiliki lebih berat daripada kehilangan nyawa,” lanjut Arimba menjelaskan.

Sementara Dedet Setiadi memiliki pandangan berbeda dengan S Arumba tentang makna Cinta. Menurut dia, ketika orang jatuh cinta bisa mendadak jadi penyair. Ia menemukan keberanian puisi salah satu penyair dengan percakapan keseharian.

“Ada keberanian menyimpang kebiasaan gaya kepenulisan. Namun ada juga cinta yang datar saja kurang tragis,” tegas Dedet.

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Buku Indonesia Melawan Corona Ala Kartunis. (Foto:nyatanya.com/Ignatius Anto)

Buku

Indonesia Melawan Corona Ala Kartunis
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi berkenan meresmikan Tugu Literasi di SMP Negeri 6 Yogyakarta, Senin (17/1/2022). (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Buku

Gaungkan Budaya Literasi, SMPN 6 Yogya Bangun Tugu Literasi
Pecinta sastra dan komunitas taman baca di Kota Padang foto bersama usai bedah buku kumcer Lelaki Rambut Bawang. (Foto: MC Padang Panjang)

Buku

“Lelaki Rambut Bawang” Dibedah di Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang
Buku Diplomasi Indonesia di Era Global yang ditulis Desy Nur Aini Fajri bersama mahasiswanya. (Ilustrasi/Foto: dokumentasi Graha Ilmu)

Buku

Meski Pandemi, KBRI Beijing Terus Lakukan Diplomasi
Webinar Darma Wanita Persatuan dengan tema “Menyiapkan Ekosistem untuk Membangun Literasi dalam Keluarga”. (Foto: Kemendikbudristek)

Buku

Bulan Bahasa dan Sastra, Siapkan Ekosistem Membangun Literasi dalam Keluarga
Gedung Dinas Arsip dan Perpustakaan Klaten akan dikembalikan ke arsitektur aslinya bergaya kraton Surakarta dan Yogyakarta. (Foto: MC Kab Klaten)

Buku

Asyiknya Baca Buku di Perpustakaan Klaten yang Bernuansa Kraton
Talkshow rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2021 yang diadakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta di Hotel Royal Malioboro, Senin (29/11/2021). (Foto: Humas: Pemkot Yogya)

Buku

Dinas Kebudayaan Gelar Festival Sastra Yogyakarta 2021
Buku Pembangunan Ekonomi Daerah dan Desa. (Foto:nyatanya.com/istimewa)

Buku

Pembangunan Ekonomi Daerah dan Desa Masih Banyak Kendala