Home / Alutsista

Sabtu, 22 Mei 2021 - 18:37 WIB

Senapan Serbu Buatan Pindad Jadi Kebanggaan Indonesia

Senapan serbu jenis SS-1 R5 produksi Pindad. Nyatanyacom/istimewa

Senapan serbu jenis SS-1 R5 produksi Pindad. Nyatanyacom/istimewa

ALUTSISTA

NYATANYA.COM, Jakarta – Indonesia memiliki prajurit-prajurit tangguh dan trengginas dengan mental “berani bertaruh nyawa” demi tegaknya NKRI. Kehebatan prajurit TNI pun sudah diakui negara-negara seantero jagat. Sejumlah event lomba militer yang diikuti prajurit TNI untuk bersaing dengan tentara asing pun kerap menorehkan prestasi terbaik kelas dunia. Satu diantaranyaa ialah lomba menembak tingkat dunia.

Prestasi itupun tak luput dari kemampuan prajurit TNI dalam menguasai membidik serta menembak. Dilain sisi, jenis-jenis senapan yang dipergunakan oleh prajurit TNI juga produksi dalam negeri. Luar biasa !

Sedangkan, Pindad merupakan pabrik dalam negeri yang memproduksi jenis-jenis senjata buatan anak negeri. Dari beragam senjata tersebut salah satu diantaranya adalah senapan serbu laras panjang atau assault rifle.

Senapan serbu pertama buatan dalam negeri adalah senapan SP-1 (Senjata Panjang 1) yang merupakan modifikasi dari senapan serbu Beretta BM-59 Mk.1 buatan Italia. Tercatat telah 50 ribu unit diproduksi hingga tahun 1974.

Setelah masa SP-1, lahirlah SP-2 dan SP-3 dengan fitur-fitur baru seperti rifle grenade di ujung laras, handgrip terbaru dan bipod penyetabil. SP-1 sempat digunakan dalam Operasi Seroja namun ternyata ditemui banyak kendala di lapangan seperti selongsong yang macet hingga onderdil-onderdil yang copot.

Baca juga   Babinsa Koramil Tegalrejo Patroli Shelter Covid-19

Kemudian pada tahun 1976, muncul purwarupa SS-77 (Senapan Serbu 1977). Desain dan sistem kerja SS-77 mengacu pada senapan serbu Armalite AR18 dengan sistem mekanik gas operated, rotating bolt. Kapasitas peluru dalam magazin sebanyak 30 butir dengan kaliber 5,56 x 45 mm. Mode penembakannya adalah Safe-Semi-Auto. Selanjutnya lahir pula purwarupa SS-79 (Senapan Serbu 1979) yang menggunakan peluru kaliber 7,62 x 51 mm yang sempat ingin TNI jadikan senapan standar infanteri.

Namun, berdasarkan pertimbangan BPPT di tahun 1982, memproduksi sendiri senapan ini dari nol memerlukan waktu kurang lebih hingga delapan tahun lamanya dan biaya litbang yang terlalu tinggi. BPPT pun mengusulkan untuk membuat lisensi senapan serbu yang sudah ada di pasaran yang sudah terbukti ketangguhan dan kehandalannya di lapangan.

Kala itu sebanyak enam jenis senapan serbu dievaluasi pada tahap pertama. Dari hasil uji coba yang dilakukan terpilih tiga calon kuat yakni HK33.

Baca juga   Dalam Sehari Sudah 13 Kali Gempa Guncang Banten

Sementara M16A yang menjadi kandidat kedua persyaratannya terlalu ketat. Mulai dari peluru, komponen utama sistem mekanis dan laras yang harus diimpor langsung dari Amerika Serikat. Lalu penggunaan senjata untuk operasi militer harus seizin Kongres AS serta maksimal produksi dibatasi untuk 150.000 pucuk senapan saja. Senapan ini pun akhirnya batal dipilih.

Akhirnya, diputuskan FNC (kandidat ketiga) menjadi pemenang dan kemudian dijadikan senapan serbu infanteri modern resmi yang digunakan seluruh kesatuan Tentara Nasional Indonesia. Keputusan memilih senapan serbu FNC karena kemudahan yang diberikan prinsipal dalam hal ini FN Herstal SA dari Belgia yang bersedia memberikan alih teknologi hingga 100 persen.

Pada tahap awal senapan serbu untuk TNI ini didatangkan langsung dari Belgia. Baru tahun 1984 setelah semua persiapan di jalur produksi beres, senapan serbu FNC mulai diproduksi di pabrik PT Pindad di Bandung. Senapan serbu ini kemudian menyandang nama resmi SS-1 (Senapan Serbu 1). (*)

Share :

Baca Juga

Tank Leopard jadi kebanggaan Indonesia. Foto : nyatanya.com/istimewa

Alutsista

Tank Leopard Mesin Perang Penjaga NKRI