Home / Panggung

Kamis, 24 Juni 2021 - 11:35 WIB

Sinergi Ngayogyakarta-Surakarta Lestarikan Budaya Jawa

Dialog Budaya dan Seni “Yogyasemesta” Seri-139 mengangkat topik “Memaknai Budaya Jawa, Menguatkan Pilar Kebangsaan”. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemda DIY)

Dialog Budaya dan Seni “Yogyasemesta” Seri-139 mengangkat topik “Memaknai Budaya Jawa, Menguatkan Pilar Kebangsaan”. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemda DIY)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Mataram, karena politik devide et impera Belanda dan Inggris terpecah menjadi empat kerajaan. Catur-Sagatra masing-masing adalah Ngayogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Namun, generasi masa kini harus melupakan sejarah yang berujung perpecahan. Yang ada adalah bersinergi bersama untuk membangkitkan ruh “sultan-agungan” dan meneruskan pengetahuan terhadap budaya dan tradisi pada generasi selanjutnya.

“Kita banyak sekali budaya-budaya, salah satunya aksara. Menjadi PR kita bersama, PR yang selalu jadi tugas adalah bagaimana kemudian memaknai budaya itu sendiri, yang sekarang rupanya di generasi muda ini, banyak sekali dilupakan,” ungkap GKR Mangkubumi dalam acara Dialog Budaya dan Seni “Yogyasemesta” Seri-139 mengangkat topik “Memaknai Budaya Jawa, Menguatkan Pilar Kebangsaan” nDalem Tjokronegaran, Kemantren Keraton, Yogyakarta, Selasa (21/6/2021) malam.

Acara dihadiri oleh GKR Mangkubumi, GKR Hayu, KPH. Notonegoro, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo, Prof. Sardono W. Kusumo, dan pegiat budaya. Talkshow yang dimoderatori oleh Hari Dendi.

Baca juga   Ikutan Lomba Vlog Yuk, Berhadiah Jutaan Rupiah

Keraton Yogyakarta, Kasunanan Surakarta serta Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Paku Alaman merupakan pusat museum hidup kebudayaan Jawa. Tidak hanya menjadi tempat tinggal semata, empat Istana Jawa ini juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa. Oleh karenanya, menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat soal budaya yang dimiliki merupakan upaya yang terus dilakukan.

Mewujudkan kerajaan sebagai Pusat Kebudayaan Jawa dengan melestarikan seni tari, membangun perpustakaan/museum berbasis digital, menggelar pertunjukkan budaya dengan konsep masa kini, adalah beberapa hal yang dilakukan untuk menjaga nilai yang melekat di dalamnya. Sehingga bisa membangkitkan minat generasi muda pada warisan budaya sendiri.

“Generasi muda mulai lupa dengan budaya, kesenian tradisional alangkah baiknya jika tetap dilestarikan dan jangan sampai lupa. Mungkin bisa dengan mengakulturasi budaya seperti membuat even tradisi dipadukan dengan teknologi, mengembangkan kesenian supaya lebih ramah dengan generasi muda,” ujar GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo.

Baca juga   Jaga Budaya Jawa, Permadani Wonosobo Gelar Pawiyatan

Di lingkungan semua Kerajaan setidaknya kita mengenal ajaran filosofis “Sangkan Paraning Dumadi” dan “Hamemayu-Hayuning Bawana” yang menjadi basisi pondasi kerajaan. “Manunggaling Kawula-Gusti” dan “Golong-Gilig Tekad Nyawiji” sebagai ajaran kepemimpinan yang merakyat, diaktualisasikan oleh Sri Sultan HB IX menjadi “Tahta untuk Rakyat”. Sekarang adalah saatnya untuk membumikan nilai-nilai ajaran tersebut. Tidak hanya dimaknai secara harfiah, namun diwujudkan secara kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman.

Tantangan yang dihadapi kemudian adalah kesiapan untuk bisa menyediakan konten-konten tersebut. KPH. Notonegoro memberikan contoh dari apa yang telah dilakukan Kraton dengan membuat akun media sosial seperti Instagram dan Youtube. Tidak hanya memiliki akun, tapi juga bisa menyajikan konten menarik secara kontinu.

“Jogja tidak boleh melupakan adat istiadat dan budaya, menghargai tradisi. Kolaborasi Jogja dan Solo bisa dilakukan oleh generasi sekarang,” ujar GKR Mangku. (*)

Share :

Baca Juga

Suasana selepas pembukaan pameran kelompok SeKawan 86 di ruang pameran Kopi Macan. Foto: Ist

Panggung

Empat Alumni ISI Pameran SeKawan 86 di Kopi Macan, Ini yang Menarik
Watie Respati bersama Andereas Prasetyo, Yusman S,Sn dan pelukis Ratih Alsaira. Foto: Ist

Panggung

Baru Dua Jam Dibuka, 10 Lukisan Terjual di Pameran Taman Bunga Gelitik Kecil #2
Yogyakarta Gamelan Festival ke-28. (Foto: YGF/Diendha Febrian)

Panggung

Berikut Agenda Lengkap Yogyakarta Gamelan Festival 2023
(Foto: Ist)

Panggung

Film “KKN di Desa Penari” Bakal Menghantui Bioskop 30 April 2022 dalam Dua Versi
Lantunan Panembrama Sekar Ageng Kenya Kediri Ketawang Kinanti Soba Kastawa Slendro 9 ciptaan Sudarmin Kertodikromo pada acara sarasehan Seni Budaya dan Nembang Panembromo di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (3/1/2022). (Foto:Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)

Panggung

Seni dan Budaya Donoharjo Kembali Menggeliat
Rojanah dalam video lagu 'Cerita Tresno'. (Foto: YouTube Rojanah Arinda Wae)

Panggung

Rojanah Rilis Single ‘Cerita Tresno’ yang Bikin Baper
Yogyakarta Gamelan Festival 2023.

Panggung

700 Pengrawit 28 Kelompok Karawitan Tampil Bareng dalam Gaung Gamelan, Minggu 20 Agustus 2023 di Kridosono
The Backdoor Hours rilis album perdana Melodrama Magic. (Foto: Istimewa)

Panggung

The Backdoor Hours Rilis Album Pertamanya ‘Melodrama Magic’