Home / Panggung

Jumat, 28 Januari 2022 - 15:51 WIB

Sins, Single Anyar The Finest Tree yang Menyoal Perihal Kebebasan

The Finest Tree. (Foto: istimewa)

The Finest Tree. (Foto: istimewa)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Kehidupan dimaknai lewat banyak cara. Ada yang memaknainya dengan tergesa-gesa, menempatkan nilai guna dan tukar di atas segalanya.

Ada yang memandangnya sebagai jalan sunyi, bersembunyi dari keramaian lalu berbagi dharma sekaligus empu bagi orang-orang meski perut kembang kempis.

Ada pula yang lebih cepat mengakhiri perjalanan karena letih dengan kenyataan-kenyataan yang ditanggungnya.

Pemaknaan yang beragam itu lahir setelah memilah banyak nilai yang mengepung sejak kali pertama meneriaki dunia. Dosa adalah satu dari sekian nilai itu.

Sayangnya, dosa yang hanya bisa dimengerti sebagai proses, tak pernah bisa dipotret utuh karena tak punya bentuk pasti. Dosa hanya melahirkan proyeksi muram: gelap dan siksa.

Di sisi lain, dosa sebagai nilai, adalah panoptikan yang menakutkan bagi orang-orang yang ingin memancang gairahnya.

‘Sins’ menjadi single terbaru The Finest Tree membicang perkara itu. Tentang kebebasan memilih, hidup seperti apa yang ingin dijalani. Tentang kehendak yang harus disimpan rapat-rapat karena banyaknya nilai yang menyelinap ke tiap panca indera.

“Senandung kami yang berjudul ‘Sins’ berbicara banyak tentang konsekuensi akan pilihan hidup. Tentang jalan mana yang kamu pilih yang pada akhirnya akan mendatangkan bahagia atau kutuk yang harus ditelan,” kata Elang Nuraga, salah satu pentolan The Finest Tree yang memegang Electric Guitar.

Baca juga   Woro Widowati Siapkan Single "Stay at Hatiku", Syuting di Seputaran Pasar Kembang

Larik U can’t understand The Truth if u have never fallen with lies membuka tafsir lain dalam lagu ini. Larik yang ditulis Cakka Nuraga itu seperti membincang Sabda boneka kayu bernama Zarathustra yang menggemparkan dunia di akhir abad ke-19.

Tentang manusia yang harus sanggup menanggung kenyataan bahwa hidup tidak sekadar hitam atau putih, artinya tidak pernah selesai dan penderitaan adalah satu-satunya jalan agar tujuan hidup tercapai.

“Dan terkadang dosa-dosa yang memenjarakan kita membuat kita memahami betapa bahagianya seeokor burung yang terlepas dari kandang,” sambung Cakka, Composed & Song Writer.

Tema lagu single terbaru TFT yang direkam di Neverland Studio itu jauh berbeda dari sebelumnya. Mereka tak lagi membicarakan persoalan remaja tanggung yang gagap sekaligus gentar bicara cinta atau patah hati yang menelanjangi logika.

Kali ini mereka bicara sesuatu yang lebih besar sekaligus filosofis namun dibungkus dengan aransemen ramah sekaligus nyaman di telinga. Tema-tema remang itu juga dikemukakan lewat musik yang cenderung cerah. Dua keputusan itu memberi tahu banyak hal tentang TFT itu sendiri.

Baca juga   Kukuh Prasetya Kudamai Rilis Single Anyar 'Bungah Nganti Susah', Simak Liriknya yang Auto Baper

Betapa meletihkannya menjadi The Finest Tree. Mereka disalahpahami atau bahkan tak pernah dicoba dipahami sejak merilis mini album “Hijau The Finest Tree”.

Selalu dikaitkan sekaligus menjadi rujukan imajinatif tentang band atau brand lain bahkan dicap menjadi bayangan identitas lain.

Dimaknai sebagai keanehan ketika berubah menjadi bentuk-bentuk baru yang sesuai dengan hati mereka. Seperti tak tersisa sedikit ruang untuk memahami.

Single ini memberitahu perubahan batin selama delapan tahun terakhir. Batin yang tidak hanya melahirkan pandangan baru terhadap dunia tetapi juga mengubah cara berpikir mereka sebagai manusia.

Batin yang besar usai melewati sekian perpisahan, kebohongan, dinginnya lantai kamar yang menemani sepi dan sunyi yang menerjang lalu mengantar gigil.

Dan sekian detik setelah ‘Sins’ masuk telinga, kita akan mengerti bahwa mereka tengah merayakan kebebasan yang selama ini dinantikan.

Single ini sendiri dihadirkan oleh NRG Records. Sedangkan Artwork dipercayakan pada Rheza Andrean (Photo & Edited) dan Video Lyric oleh Rengga Pahlawan.

(Aja)

Share :

Baca Juga

Rachel Vennya. (Foto: Instagram @rachelvennya)

Panggung

Dapat Dana Karantina Tapi Kabur, Kasus Rachel Vennya Terus Berlanjut
Fazri Arif Sahputra, anggota Maiyosta Dance Company (MDC) Padang Panjang meraih juara 1 dalam ajang Gentra Lestari Budaya kategori Tunggal Dewasa Tingkat Nasional. (Foto: mcpadangpanjang)

Panggung

Penari MDC dari ISI Padang Panjang Raih Juara 1 Lomba Tari Nasional
Ziarah kebangsaan "Meneguhkan Nilai-nilai Pancasila di depan gerbang makam Sultan Agung. Foto: Ist

Panggung

Ziarah Kebangsaan Tribute Tiga Komponis Pejuang ke Makam Seniman Girisapto dan Makam Raja-Raja Imogiri
Foto: Istimewa

Panggung

Film Subuh dan Jagat Juarai Family Sunday Movie
Mangkunegoro X (tengah) bersama rombongan ISI Surakarta. Foto: Dok. Humas ISI Surakarta

Panggung

Lestarikan Seni Budaya Jawa, Pura Mangkunegaran dan ISI Surakarta Mantap Bersinergi
Andien. (Foto:Instagram @andienaisyah)

Panggung

Andien akan Gelar Konser Virtual Melodi Monolog 22 Tahun Berkarya (Dan Lalu) di Vidio
Gubernur Ganjar Pranowo saat mengunjungi Lokananta, studio musik tertua di Indonesia yang akan direvitalisasi. Foto: Humas Jateng

Panggung

Direvitalisasi, Lokananta Reborn Diharap Bisa Jadi “School of Music”
Kukuh Prasetya Kudamai dengan single terbarunya "Mendung Ketemu Udan" yang sudah tayang di channel YouTube 23 September 2021. (Foto: YouTube Kukuh Prasetya Kudamai)

Panggung

Kukuh Prasetya Kudamai dan Mendung Tanpo Udan Series