Home / Panggung

Selasa, 16 November 2021 - 13:52 WIB

Tayang di Bioskop 18 November 2021, Sri Sultan Apresiasi Film Losmen Bu Broto

Sri Sultan saat menghadiri Gala Premier Film Losmen Bu Broto, di Studio 1, Empire XXI, Jalan Urip Sumohardjo, Yogyakarta, Sabtu (13/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

Sri Sultan saat menghadiri Gala Premier Film Losmen Bu Broto, di Studio 1, Empire XXI, Jalan Urip Sumohardjo, Yogyakarta, Sabtu (13/11/2021). (Foto: Humas Pemda DIY)

NYATANYA.COM, Yogyakarta – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan bahwa dialog egaliter khas masyarakat Jogja merupakan suatu hal yang layak diangkat dalam sebuah cerita film berlatar Jogja.

“Dialog egaliter menunjukkan kedekatan satu sama lain, makanya kan dagelan itu juga asalnya dari Jogja. Membangun kebersamaan dalam satu nilai itu di situ,” jelas Ngarsa Dalem.

Hal tersebut disampaikan Sri Sultan saat menghadiri Gala Premier Film Losmen Bu Broto, di Studio 1, Empire XXI, Jalan Urip Sumohardjo, Yogyakarta, Sabtu (13/11/2021).

Sri Sultan hadir bersama GKR Hemas dan didampingi perwakilan pemeran utama film Losmen Bu Broto seperti Mathias Muchus (Pak Broto) dan Maudy Koesnaedi (Bu Broto), sutradara film yakni Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono, serta produser film Andi Boediman dan Robert Ronny.

Losmen Bu Broto adalah film drama Indonesia 2021 yang diadaptasi dari serial TVRI tahun 1987 dengan judul Losmen. Serial ini diciptakan oleh Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing dengan jumlah total 31 episode.

Untuk edisi tahun 2021 ini, film Losmen Bu Broto diproduksi Paragon Pictures, Ideosource Entertainment, Fourcolours Films, dan Ideoworks.

Film ini juga dibintangi oleh Maudy Ayunda (Sri), Putri Marino (Pur), Baskara Mahendra (Tarjo), Danilla Riyadi (Danilla), Marthino Lio (Jarot), dan Landung Simatupang (Herman).

Sri Sultan menambahkan jika secara pribadi memiliki kenangan tersendiri dengan film tersebut.

Baca juga   Usai Novelnya Terbit, Kukuh Berharap Film 'Mendung Tanpo Udan' Bisa Digarap

“Dulu saya juga menyaksikan di televisi. Harapan saya, dengan mengambil background tradisi atau budaya Jogja yang hampir 100%, kita kaji apakah dialog-dialog, konteks pendekatan budaya unggah-ungguh dalam film tersebut sesuai dengan masyarakat atau tidak, karena hal itu adalah nilai yang dipegang oleh masyarakat,” tambah Sri Sultan.

Adapun selanjutnya menurut Sri Sultan, film ini dinilai bagus karena sesuai dengan kultur local Yogyakarta.

“Jadi komentar saya, kalau nonton film ini bagi saya bagus. Yang kedua adalah memadai dan yang ketiga aspek kultur itu memadai. Values, nilai juga memadai dalam arti bukan dalam apa yang kita pikirkan tapi apa yang kita rasakan,” urai Sri Sultan.

Kalau dari film, Losmen Bu Broto sendiri bercerita tentang kehidupan keluarga pemilik losmen. Dialog yang terbangun haruslah egaliter, “Jadi digambarkan pemilik losmen dengan tamu itu dialognya egaliter, maka tamunya betah. Komunikasinya satu kesatuan, itu khasnya Yogyakarta,” terang Sri Sultan.

Tambah Sri Sultan, film Losmen Bu Broto diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung karakteristik Jogja sebagai Kota Budaya dan Pariwisata.

Sementara, sang sutradara, Ifa Isfansyah mengatakan bahwa preview perdana film ini menjadi ujian tersendiri bagi Ifa dan tim.

“Film ini dibuat di Jogja, ceritanya juga Jogja, dan dipresentasikan ke teman-teman Jogja, apalagi disaksikan oleh Bapak Gubernur dan ibu. Mudah-mudahan bisa menjadi persembahan spesial bagi kami dimana kami berproses untuk teman-teman pembuat film di Jogja,” jelasnya.

Baca juga   Srikandi Karang Taruna Jogja Bantu Pemulasaran Jenazah Wanita

Ifa menyampaikan bahwa dengan adanya perkembangan teknologi digital, Jogja telah menjadi pusat perkembangan film.

“Meski industri perfilman nasional rata-rata di Jakarta, anak-anak di Jogja juga tidak ketinggalan buat film. Akhirnya kami punya materi cerita yang pas untuk saat ini. Semoga ini bisa menjadi persembahan manis untuk kota kami tercinta,” ungkap Ifa.

Maudy Koesnaedi, dalam kesempatan yang sama menambahkan, secara pribadi, film tersebut meninggalkan kesan mendalam karena proses syuting dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang terbatas.

“Film inilah yang akhirnya membuat saya yakin untuk keluar lagi dari rumah. Selama pandemi, saya hanya menghabiskan waktu di rumah. Baru karena film ini, saya berani untuk keluar rumah lagi. Jadi proses pembuatan film ini juga merupakan proses yang sangat emosional bagi kami pemainnya,” tuturnya.

Film berdurasi 114 menit ini adalah film Indonesia pertama yang didukung oleh sebuah digital agency yaitu Ideoworks.id yang mengakomodasi semua kebutuhan digital marketing dari berbagai industri.

Adapun setelah Yogyakarta, gala premier digelar di Solo, Minggu (14/11/2021) dan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop tanah air mulai Kamis 18 November 2021.

(*/Aja)

Share :

Baca Juga

Mr Harun mengungkap, untuk bisa membuat karya yang bagus harus punya konsep. Lukisan adalah bahasa roh ungkap pikir, rasa dan renungan alam yang indah hidup tertata. (Foto: MC Kota Malang)

Panggung

Mr Harun: Bukan Soal Laku atau Tidak, Melukis Butuh Konsistensi
Anggun Cantika. (Foto:nyatanya.com/Dok pribadi)

Panggung

Anggun Cantika, Si Cantik dari Lereng Tidar
Film berjudul Dusner dari MM Kine Klub UMY dan pernah juara festival film pendek pada 2022 termasuk yang diputar di event Kineidoscope. Foto: Ist

Panggung

Kineidoscope 2022, Event Gelaran MM Kine Klub UMY yang Tak Sekadar Nonton Film
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menghadiri pagelaran wayang kulit ringkas dengan lakon Wahyu Panca Tunggal pada Kamis (25/11/2021) di Grojogan Tanjung Winongo, Patangpuluhan. (Foto: Humas Pemkot Yogya)

Panggung

Pagelaran Wayang Kulit Ringkes ‘Wahyu Panca Tunggal’ di Grojogan Tanjung Winongo
Gelaran Gamelan Kolosal dalam rangka HUT ke-72 Provinsi Jawa Tengah berlangsung semarak, Minggu (14/8/2022) di Simpang Lima Semarang. Foto: Humas Jateng

Panggung

Di Balik Gelaran Gamelan Kolosal, Dua Pekan Ciptakan Notasi Iringan dan Koreografi Baru
Station Blood. Foto: Ist

Panggung

Merayakan “Ghosting” bersama Station Blood Lewat Single “Say It’s Done”
Penampilan Kanjeng Sunan dalam sebuah acara belum lama ini. (Foto: Istimewa)

Panggung

Grup Qosidah Kanjeng Sunan, Tak Cuma Piawai Lantunkan Lagu Religi Tapi Juga Campursari
Elsa Mayora. (Foto: dokumentasi pribadi)

Panggung

Elsa Mayora dan Totalitas Menyanyi Dangdut