Home / News

Selasa, 21 Juni 2022 - 18:02 WIB

Tingkatkan Kompetensi Guru Agama Katolik, Membumikan Moderasi Beragama

Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Tingkat Menengah pada Selasa (21/6/2022). Foto: Ist

Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Tingkat Menengah pada Selasa (21/6/2022). Foto: Ist

NYATANYA.COM, Sleman – Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Tingkat Menengah pada Selasa (21/6/2022).

Acara dilaksanakan di Java Village, Jlamprang, Pandowoharjo, Sleman, DIY. Para guru diajak untuk mengetahui, mendalami dan menerapkan Moderasi Beragama dalam Konteks Pendidikan Agama Katolik.

Tiga narasumber yakni FX. Dapiyanta SAg. MPd (Dosen Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik [IPPAK USD]), Dr. FA. Purwanto SCJ (Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma), Dr. Lukas S. Ispandriarno (Dosen Ilmu Sosial Politik Universitas Atmajaya Yogyakarta).

CB. Ismulyadi, SS MHum (Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman) mengatakan, “Kegiatan ini menjadi bagian dari Penguatan Moderasi Beragama (PMB), agenda yang terus menerus dilakukan.”

Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Tingkat Menengah pada Selasa (21/6/2022). Foto: Ist

Setelah menyadari dan memahami materi tentang Moderasi Beragama dalam Perspektif Gereja Katolik (Dr. M. Joko Lelono, Pr., Komisi HAK Kevikepan Jogja Timur dan Dosen Kajian Agama dan Dialog, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma).

Kemudian Moderasi Beragama dalam Perspektif Pendidikan Keagamaan (Listia Suprobo, SAg. MHum., Pegiat dan Pemerhati Pendidikan di Perkumpulan Pendidik Interreligius/Pappirus).

Dan tentang Pendidikan Keagamaan di Lingkup Pemerintah Kab. Sleman (Dr. Sri Prihartini Yulia. MHum, Pengawas Sekolah Madya Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman).

“Kita diajak meningkatkan peran dan kompetensi. Pada dasarnya proses belajar-mengajar dan hasil belajar peserta didik sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru,” ujar Ismulyadi.

Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar peserta didik berada pada tingkat optimal.

Para Guru Pendidikan Agama Katolik menjadi bagian dari pengemban amanah tersebut.

“Kita mempunyai kesempatan untuk membuat gerakan sebagai wujud pembumian Moderasi Beragama melalui pembelajaran dan pengalaman hidup di sekolah,” imbuhnya.

Baca juga   Presiden Lantik 3 Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh

Dalam materi Implementasi Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Katolik, FX. Dapiyanta menyampaikan, klaim absolut terkait kebenaran agama; antara klaim kebenaran absolut dan subjektivitas antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran agama, juga antara radikalisme dan sekularisme.

“Komitmen utama moderasi beragama terhadap toleransi menjadikannya sebagai cara terbaik untuk menghadapi radikalisme agama yang mengancam kehidupan beragama itu sendiri dan dapat mengimbas pada kehidupan persatuan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” paparnya

Inti dari konteks Moderasi Beragama terkait dengan menjaga kemurnian atau mengikuti perkembangan zaman, menjaga kemurnian kebenaran absolut, literal tekstual, (radikal), mengikuti perkembangan zaman: subjektivitas, sekularisme, liberal.
“Moderasi menjadi jalan tengah, menjaga kemurnian sekaligus mengikuti perkembangan zaman. Dialog menjadi cara efektif untuk membumikan moderasi di lingkungan masyarakat warga,” lanjut FX. Dapiyanta.

Pada akhir sesi, FX. Dapiyanta mengajak para guru untuk membuat program sebagai aksi dari para guru Pendidikan Agama Katolik.

Sementara itu, dalam paparan tentang Guru Pendidikan Agama Katolik di tengah Budaya Multikultur, Romo F. Purwanto, SCJ mengungkapkan, situasi kita berada dalam situasi peralihan dari monokultur menjadi multikultur. Multikultur membawa efek beragam. Moderasi menjadi jalan tengah dalam arus kebangsaan.

“Kita gagap ketika menghadapi dunia digital dan budaya berubah dengan sangat cepat, termasuk dalam model beragama di dunia maya; tekstualis: memahami, menafsirkan dan menjalankan agama sesuai dengan bunyi harfiyah nash-teks sumber ajaran agama dengan tanpa membuka celah penafsiran yang terkait erat dengan semangat zaman serta kesejarahan,” ungkap Romo Purwanto.

Liberal: cenderung menjauh dari naskah-teks, bersikap lebih longgar, serta mengikuti perilaku dan pemikiran dari budaya dan peradaban lain, budaya Barat.

Baca juga   Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah Kabupaten Sleman Pemantapan Pengurus

Romo F. Purwanto menyebutkan pandangan beberapa tokoh terkait Moderasi Beragama.

Aburrahman Wahid mengatakan, moderasi harus senantiasa mendorong upaya untuk mewujudkan keadilan sosial al-maslahah al-‘ammah.

Abou El-Fadh menyebutkan, moderasi beragama adalah beragama yang cocok untuk setiap tempat dan zaman, bersifat dinamis dan menghargai tradisi-tradisi masa silam sambil direaktualisasikan dalam konteks kekinian.

“Gereja Katolik menyebutkan Nostra Aetate (Terang Bangsa-Bangsa, artikel 1) sebagai dasar pijak Moderasi Beragama. Jika kita bicara tentang pendidikan agama Katolik di tengah budaya multikultur maka kita perlu mengembangkan sikap-sikap untuk tidak egois (terlalu memaksakan kebenaran pribadi), tidak berprasangka buruk terkait dengan perbedaan-perbedaan yang ada supaya hidup persaudaraan dapat tercapai,” lanjut Romo Purwanto.

Dr. Lukas S. Ispandriarno menyampaikan materi Guru Pendidikan Agama Katolik dan Konsep Berpolitik. Menurut Lukas, politik dalam pengertian lebih luas merupakan aktivitas membuat, melestarikan, dan mengubah aturan-aturan umum dalam kehidupan.
“Pemahaman ini menunjukkan, kita memiliki kemampuan untuk mengubah situasi sekitar kita, misalnya sekolah, rukun tetangga, pemerintahan,” ujar Lukas.

Dengan demikian, politik tidak selalu terkait dengan pemilihan kepala negara dan atau kepala daerah.

Dalam sesi ini, para guru berdialog secara aktif dengan narasumber terkait pencanangan Tahun Toleransi 2022 dan penerapannya di tataran sekolah dan masyarakat.

“Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Katolik dapat diterapkan dengan mengacu pada diskusi dimana anak dapat saling berbagi, saling mendengarkan dan menghargai pandangan temannya dalam suasana kekeluargaan, persahabatan, dan keakraban,” imbuh Lukas.

Ditandaskan Lukas, hal terpenting dalam komunikasi iman adalah menciptakan suasana bebas dari ketakutan pada anak.

(*/N1)

Share :

Baca Juga

Foto: Puspenkum

News

Kejagung Periksa Empat Saksi Kasus Ekspor CPO
Momen Ganjar Pranowo ikuti prosesi adat Pepe-pepeka ri Makka di Makassar. Foto: Humas Jateng

News

Ganjar Pranowo Tak Mempan “Dibakar” Perempuan-perempuan Makassar, Ada Apa ya?
BPBD Kabupaten Temanggung mulai melakukan droping air bersih untuk daerah rawan kekurangan air bersih. (Foto: Diskominfo Kab Temanggung)

News

5 Wilayah Ini Mulai Kekurangan Air, BPBD Temanggung Droping Air
Wagub DIY KGPAA Paku Alam X meninjau pelaksanaan vaksin untuk anak sekolah. (Foto:nyatanya.com/Humas Pemda DIY)

News

Hari Ini 2500 Pelajar di DIY Terima Vaksinasi Covid-19
Foto: ANTARA

News

Cari Data Korban Pesawat Jatuh, KBRI Beijing dan KJRI Guangzhou Gelar Koordinasi
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi. (Foto: InfoPublik.id)

News

Densus 88 Tangkap Empat Terduga Teroris di Palembang dan Lubuklinggau
Konferensi pers ‘Perkembangan UMKM dan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Jayapura’ di Media Center Kominfo PON XX Papua Klaster Kabupaten Jayapura,Jumat (8/10/2021). (Foto: Ricky Pangkatana/MCC Kominfo Kluster Kab Jayapura)

News

PON Papua Jadi Momentum Kebangkitan UMKM dan Milenial
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di lokasi penyekatan jalan pintu masuk Kota Singkawang di Jalan Kalimantan Kelurahan Condong Singkawang Barat, Selasa (13/7/2021). Penyekatan dalam rangka Pemberlakuan Pembatasan kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dilaksanakan selama 24 jam mulai tanggal 13 sampai dengan 20 Juli 2021 dengan melibatkan personel TNI, Polri, Satpol PP dan Dinas Perhubungan Kota Singkawang. (Foto: MC Kota Singkawang/Eko)

News

Mendagri Terbitkan Instruksi Perpanjangan PPKM